Bolongnya Jaring KPK

Mengkilapnya kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi tetap perlu diamati secara kritis. Banyak sekali kasus yang telah dibongkar tapi tak ditangani secara tuntas.. Tokoh kunci yang seharusnya dijerat sering lolos atau, setidaknya, belum terjaring.

Kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran merupakan contoh terbaru. Perkara ini terbilang kakap lantaran melibatkan pejabat Departemen Dalam Negeri dan sejumlah kepala daerah. Bekas Direktur Jenderal Otonomi Daerah Oentarto Sindung Mawardi sudah jadi tersangka. Dialah yang mengirim radiogram pada akhir 2002 ke sejumlah daerah. Isinya menunjuk PT Istana Sarana Raya sebagai penyedia mobil pemadam jenis tertentu yang hanya diproduksi perusahaan ini.

Pengadaan mobil diusut karena sarat dengan penggelembungan harga, tapi orang mempertanyakan keseriusan KPK membongkar kasus ini lantaran bekas Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno sampai kini belum dijerat. Berkali-kali dipanggil, ia hanya diperiksa sebagai saksi. Padahal, Oentarto telah menyatakan bahwa radiogram itu dikirim sepengetahuan Pak Menteri. Menurut dia, Hari pula yang memperkenalkan dia dengan Hengky Samuel Daud, bos PT Istana yang kini buron.

Kesaksian serupa dilontarkan bekas Gubernur Riau Saleh Djasit, terdakwa korupsi pengadaan 20 mobil pemadam kebakaran untuk provinsi ini. Ia mengaku mengenal Hengky lewat Hari Sabarno. Sang Menteri memang mengakui kenal dengan pengusaha mobil pemadam itu, tapi ia menolak bertanggung jawab atas radiogram yang dikirim oleh Oentarto.

Persoalannya, akan sangat janggal jika KPK memenggal perkara ini hanya sampai Oentarto. Bekas pejabat eselon satu ini seolah memiliki kekuasaan luar biasa sehingga berhasil mempengaruhi banyak gubernur dan wali kota. Beberapa di antara mereka bahkan telah divonis dengan hukum penjara gara-gara menaati radiogram itu. Saleh Djasit, misalnya, telah divonis 4 tahun penjara, dan Wali Kota Medan Abdillah dihukum 4 tahun penjara.

Cara KPK menangani kasus ini berbeda dengan penanganan skandal suap Bank Indonesia. Dalam suap Rp 100 miliar kepada penegak hukum dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, pucuk pimpinannya langsung dijerat. Bekas Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah kini sedang menunggu vonis. Namun, tokoh lain, bekas Deputi Gubernur BI Aulia Pohan belum juga tersentuh. Padahal, dia berperan besar mencairkan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia. Aulia diduga juga terlibat dalam penyalurannya ke DPR.

Bolongnya jaring KPK juga terjadi dalam banyak kasus lain. Kasus suap Artalyta ke jaksa Urip, misalnya, kenapa hanya berhenti pada dua orang ini? Jika perkara ini berkaitan dengan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia untuk Sjamsul Nursalim, seharusnya pengusaha ini juga diusut. Orang juga sulit percaya bila dari kalangan jaksa hanya Urip yang terlibat.

Buat memerangi korupsi, memang penting KPK membongkar sebanyak mungkin kasus, tapi jangan biarkan tokoh-tokoh kuncinya selalu lolos. Khalayak akan kecewa, bahkan curiga, jika kejadian itu terulang terus. Orang yang terjerat pun akan merasa dikorbankan.

Koran Tempo, Edisi 27 Oktober 2008

1 Response to “Bolongnya Jaring KPK”


  1. 1 WiokoYudhantara Desember 6, 2008 pukul 11:19 pm

    Saya sepakat dengan kata “cemerlang” ketika melihat sekilas kinerja KPK. Begitu banyak kasus korupsi yang mereka kuak mulai dari yang kecil sampai yang melibatkan pejabat-pejabat tinggi negara serta uang ratusan miliar rupiah. Namun terus terang, masih ada beberapa hal yang masih mengganjal dalam diri saya tentang KPK.
    1. Saya mempertanyakan kesungguhan KPK dalam menuntaskan berbagai kasus korupsi yang melanda bangsa ini. seperti yang tertuang dalam artikel diatas, seringkali kasus yang telah berhasil dibongkar tidak mendapatkan penyelesaian secara tuntas.
    2. Mengapa KPK tidak mau mengambil alih kasus BLBI yang jelas-jelas merupakan kasus perampokan besar-besaran yang dilakukan konglomerat bangsa ini. Saya rasa KPK punya kapasitas yang cukup mumpuni untuk bisa menjerat para pelaku perampokan berjamaah tersebut.
    3. Saya merasa diperlukan mekanisme yang lebih fair dan transparan terkait pemilihan ketua umum KPK. Sebagaimana kita ketahui bahwa pemilihan ketua KPK dilakukan oleh komisi III DPR RI. Permasalahannya adalah sebagian besar wakil rakyat yang duduk di komisi II tersebut berasal dari partai besar seperti PDI-P dan Golkar. bisa kita bayangkan, cukup dengan suara penuh dari fraksi PDIP dan Golkar plus satu orang lagi sudah bisa mengangkat siapapun untuk menjadi ketua KPK. Ironis bukan? bagaimana tidak, dengan model pemilihan yang seperti ini (apalagi diisukan adanya kong-kalikong dibelakang) sungguh rentan nantinya pucuk pimpinan dari organisasi pemberantas korupsi yang seharusnya netral itu menjadi disetiroleh kepentingan dari kelompok2 tertentu. yang juga membuat saya khawatir adalah bahwasannya partai-partai yang punya suara besar adalah mereka yang punya rekam jejak buruk dalam hal korupsi.

    Saya berharap ada tindakan konkrit dari KPK maupun pemerintah dalam menyikapi ketiga hal diatas. Karena saya yakin di tengah keprihatinan bangsa ini masih ada oran-orang yang melakukan segala sesuatunya dengan hati. Semua ini semata-mata demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, serta kebaikan dari Allah pencipta alam semesta.

    Wioko Yudhantara
    Dept. of Mechanical Engineering
    Sepuluh Nopember Institute of Tecnology
    Sukolilo – Surabaya
    Ockeu@me.its.ac.id

    Smart Movement – Contribution


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: