Archive for the 'AdamAir' Category

Jangan Hangat Cirit Ayam

Sampai hari ini, dua pekan lebih setelah tenggelamnya kapal Senopati Nusantara dan hilangnya pesawat AdamAir, perhatian dan perasaan kita masih ke sana.

Pemerintah telah membentuk komisi yang bertugas menelitinya lebih mendalam dan komprehensif. Juga dibentuk komisi yang bertugas meneliti kasus gagalnya katering bagi jemaah haji Indonesia. Bukan saja kita harapkan, melainkan merupakan kewajiban kita agar kecelakaan dan musibah itu kita sikapi sebagai tonggak sejarah yang mengubah sikap serta perilaku kita.

Jauh-jauh hari kita sampaikan peringatan itu karena pada kita cukup kuat kelemahan sikap “hangat-hangat cirit ayam”. Perhatian secara emosional dan rasional ditujukan ke sikap serta perbuatan korektif ketika ditimpa kecelakaan serta musibah dahsyat. Namun, beberapa waktu kemudian, kita kembali terjatuh ke sikap dan perilaku rutin yang merupakan kelemahan kita, yakni bekerja asal-asalan. Bekerja tanpa secara konsisten menerapkan petunjuk normatif, apalagi petunjuk bekerja lebih jauh dari sekadar “panggilan kewajiban”, beyond the call of duty.

Ini persoalan amat serius. Keberatan Samuel Huntington terhadap vital dan menentukannya culture matters, strategis dan menentukannya sikap budaya, bukanlah terhadap paradigma itu sendiri. Ia lebih mengingatkan bahwa juga berlaku faktor-faktor lain yang terutama agar disadari dan dipahami oleh sistem, kebijakan, serta praksis ekonomi serta kebijakan negara-negara industri. Bagi kita, Indonesia, sikap serta orientasi budaya bekerja tuntas, konsisten, berkeahlian, dan bertanggung jawab, kiranya memang perlu terus-menerus dioptimalkan. Demikian pula sikap, kemauan, serta praksis mengawasi dan merawat, check-recheck, peduli. Amat sangat masih harus dicermati berlanjutnya bentuk dan praktik komersialisasi yang merugikan konsumen bahkan bisa mencelakakannya.

Apalagi dalam dunia yang semakin bersatu karena berlangsungnya globalisasi, pengaruh negara lain dan interaksi antarnegara yang tidak senantiasa berimbang, sangat berpengaruh. Namun, meskipun kita tetap menyikapi secara kritis interaksi yang tak seimbang serta merugikan negara-negara berkembang seperti Indonesia, jangan pula kita terjatuh lagi pada alibi bahwa segala sesuatu terutama yang negatif, mentah-mentah kita alamatkan kepada orang lain dan negara lain. Terhadap pengaruh-pengaruh serta kekuatan negatif dari luar kita harus kritis, korektif, serta memperjuangkan perbaikan. Namun jangan pula dilalaikan bahwa tanggung jawab akhirnya yang tidak kalah menentukan adalah pada kita sendiri.

Inilah momentum yang agar bangkit serta merupakan kekuatan historis bagi kita dari kecelakaan serta musibah bertubi akhir-akhir ini. Merupakan momentum untuk melengkapi reformasi bukan saja reformasi politik, sosial, dan ekonomi, tetapi juga reformasi budaya, termasuk yang menyangkut sikap serta orientasi kita. Hanya dalam konteks itu, pengalaman dahsyat akhir-akhir ini tidak merupakan sekadar pembangkit sikap “hangat-hangat cirit ayam”.

Kompas, Senin, 15 Januari 2007

Untung Nelayan Indonesia yang ‘Menemukan’ AdamAir

UNTUNGLAH yang pertama kali menemukan bagian ekor pesawat AdamAir adalah nelayan bangsa sendiri. Untunglah nelayan bersahaja bernama Bakri itu melaporkan hasil temuannya kepada polisi. Dari temuan Bakri itu, akhirnya sampai ke Komandan Lapangan Udara Hassanuddin Marsekal Pertama Edy Suyanto. Ia kemudian mengembangkan temuan Bakri untuk pencarian pesawat nahas itu lebih lanjut.

Berkat temuan sang nelayan itu, misteri hilangnya AdamAir dalam perjalanan Surabaya-Manado awal Januari lalu, sedikit demi sedikit mulai terkuak. Kita berharap seluruh misteri hilangnya pesawat itu terungkap. Dengan demikian, cerita tentang musibah yang amat memilukan itu bisa menjadi pelajaran berharga dalam dunia penerbangan kita.

Sekali lagi, yang membuat kita lega, sang penemu awal serpihan pesawat itu adalah nelayan Indonesia. Kenapa penting menyebut ‘nelayan Indonesia’? Karena entah apa jadinya jika yang menemukan bagian dari ekor pesawat AdamAir itu tim dari Amerika atau Singapura. Kedua negara itu memang menawarkan bantuan untuk ikut mencari hilangnya AdamAir.

Jika tim asing yang menemukan, makin lengkaplah ketidakmampuan bangsa ini dalam mengatasi persoalannya sendiri. Untuk menemukan ekor pesawat saja harus tim dari luar negeri? Lengkaplah citra bangsa yang semua kecakapan dan martabatnya kini tengah meluruh ke titik nadir itu.

Memang tawaran bantuan dari Amerika dan Singapura sesuatu yang dilematis. Jika menolak, akan dicap sombong. Karena, kenyataannya berhari-hari pesawat belum ditemukan. Bangsa ini memang tidak punya peralatan teknologi yang memadai untuk mencari pesawat yang hilang itu. Lalu, kalau menerima, kita menjadi bangsa yang amat mudah menyerahkan apa saja kepada pihak asing. Jadi, maju kena mundur kena! Menolak dicap sombong, menerima dituduh lembek.

Karena itu, kita menyayangkan kenapa pemerintah tidak mengerahkan seluruh ‘kekuatan’ untuk mencari AdamAir. Salah satu kekuatan itu adalah nelayan (selain Tim SAR, TNI Angkatan Laut, dan Angkatan Udara). Nelayanlah yang paham betul bagaimana laut harus disikapi dan ‘ditaklukkan’. Tidak ada satu pun di antara para pemimpin yang ingat orang-orang bahari itu punya kemampuan!

Itulah cermin dari kepanikan pemerintah setiap terkena musibah. Selalu tidak percaya pada diri sendiri. Karena itu, sekali lagi, penemuan ekor pesawat AdamAir oleh Bakri sungguh menyelamatkan muka bangsa dari rasa malu.

Karena itu, sudah amat tepat Wakil Presiden Jusuf Kalla secara spontan memberikan penghargaan kepada sang nelayan itu. Sebab, berapa harga diri bangsa yang harus dibayar jika yang menemukan pesawat bukan bangsa sendiri? Sekurang-kurangnya kita akan membayarnya dengan rasa malu. “Saya takut kalau yang menemukan lebih dulu orang asing,” kata Wapres.

Wapres benar. Karena itu, penghargaan Wapres tidak saja menyelamatkan muka kita, tetapi juga secara khusus akan menumbuhkan semangat kepedulian sebagai bangsa. Bakri memang menemukan bagian ekor pesawat secara tak sengaja. Karena itu, agar menjadi upaya yang terencana, para nelayan mestinya dilibatkan setiap ada musibah (laut).

Apa pun ceritanya, dalam musibah AdamAir, sudah amat pantas bangsa ini, terutama pemerintah, mengucapkan, “Terima kasih, Bakri.”

Media Indonesia, Minggu, 14 Januari 2007

Komunikasi Itu Penting, Jangan Gegabah!

”Duh, Gusti Allah!” Jerit kawan saya yang tengah meliput hilangnya pesawat Adam Air di Bandara Juanda, Selasa siang. Kalimat itu terucap begitu saja ketika mendengar kabar ditemukannya pesawat Adam Air di Polewali Mandar Makasar lengkap beserta jumlah korban, ternyata omong kosong. Padahal siang itu, suasana di Bandara Juanda penuh dengan kepiluan. Serunya, kabar itu ditambah dengan embel-embel pesawat hancur berkeping-keping. Walhasil, siapa pun yang mendengarnya dapat memastikan seluruh penumpangnya tewas. Begitu juga para wartawan, tanpa melakukan verifikasi, langsung menayangkan berita. Singkatnya, informasi tersiar live di media massa (elektronik). Saya pun menonton dengan mata terpana.

Selang beberapa jam kemudian, petinggi negara melakukan klarifikasi bahwa informasi itu salah. Apa! Salah, alamak gombal mukiyo. Informasi yang sudah tersiar dan menghabiskan segenap air mata itu ditimpali dengan kata, “Maaf, informasi itu salah”, karena nyatanya tim SAR memang belum menemukan pesawat yang konon hancur berkeping-keping itu. 

Tidak lama tersiar lagi kabar kapal Senopati Nusantara dengan rute Kumai Kalsel-Semarang tenggelam di laut Jawa. Jumlah korban tewas disebutkan lebih dari 200 jiwa. Ternyata informasi itu salah lagi. Keluarga korban yang sudah membekali diri dengan kesedihan mendalam, lagi-lagi diguncang oleh informasi omong kosong. Kegaduhan pun terjadi, sekali lagi penonton tertipu.

Dua musibah itu memberi bukti lemahnya komunikasi dan koordinasi dari pihak pemerintah dalam menghadapi situasi darurat. Sungguh tidak wajar, dalam bencana seberat itu pemerintah tidak segera menempatkan satu pintu informasi yang menjadi rujukan terpercaya oleh publik. Bukankah Indonesia cukup kaya dengan aset bencana dan musibah. Dan pemerintah juga sudah cukup piawai melakukan manajemen bencana. Pengalaman menghadapi situasi darurat termasuk melansir informasi sudah menjadi bagian yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Kejadian memalukan itu semestinya tidak perlu terjadi kalau pemerintah tidak gegabah dalam menerima informasi, kendati informasi berasal dari petingginya sekalipun. Alasannya, si petinggi itu tidak berada di lokasi peristiwa dan dia pun menerima informasi dari pihak lain. Karena itu, kecenderungan salah informasi juga cukup tinggi. Sementara, dalam kejadian semacam itu tanggung jawab besar tertumpu pada ketua tim SAR. Maka informasi sekecil apa pun semestinya dilakukan cek dan ricek sebelum disiarkan ke publik. Terlebih lagi informasi itu menyangkut data dan lokasi jatuhnya pesawat yang memang ditunggu-tunggu oleh publik.

Dalam situasi panik, publik akan memakan mentah-mentah informasi dari pemerintah karena dianggap sebagai pihak yang dipercaya. Jika komunikator (pejabat pemerintah) lalai dalam mengelola pesan, akibatnya hilanglah kepercayaan publik. Memang emosi massa (korban atau keluarga korban) dalam musibah kecelakaan cenderung rendah dibanding dengan musibah bencana alam. Namun, seperti para penderita krisis pada umumnya mereka sangat peka terhadap semua informasi, baik yang resmi maupun berasal dari kabar burung. Jadi komunikasi dalam situasi krisis begitu penting, maka jangan gegabah dalam mengelola pesan.

Pemerintah kita sudah acapkali melakukan kegegabahan komunikasi kepada publik. Dari soal kebijakan hingga penanganan bencana. Kelalaian itu terletak pada soal ketidakjujuran, kurang terbuka, terjadi miskoordinasi, menganggap enteng, dan terkesan separuh-separuh dalam melansir informasi.

Patut disimak himbauan pakar komunikasi krisis, Peter M Sandman, hindari memberi pernyataan atau jaminan keselamatan yang berlebihan, dan lakukan pemantauan berbagai ketidakpastian. Percayalah, orang yang biasa berkomunikasi baik dalam situasi normal, dapat menjadi komunikator buruk dalam situasi krisis. Maka jangan berlebihan dalam meyakinkan sesuatu kepada massa, singkirkan atau tunda berbagai hal yang menghambat penanganan krisis, telusuri berbagai ketidakpastian, terbukalah secara total, jangan bohong dan tidak mengatakan separuh-separuh.

Komunikasi krisis sangat bergantung pada media massa. Informasi apa pun akan menjadi pembicaraan luas karenanya data akurat dari komunikator sangat vital. Kalau memang pesawat naas itu belum juga ditemukan, sampaikan saja apa adanya dan informasikan kendala yang dihadapi. Tetapi, jangan mengelabuhi audience bahwa pesawat sudah terdeteksi. Informasi itu mengandung harapan besar dan rasa was-was. Jika tak terbukti kebenarannya akan merumitkan kondisi psikologis keluarga korban, termasuk publik yang ingin mengetahui.

Media massa sebagai mata publik juga perlu berhati-hati menggali data. Niat baik atau usaha yang jujur saja tak cukup. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism mengatakan, disiplinlah dalam melakukan verifikasi, jangan berasumsi dan jangan percaya begitu saja pada sumber-sumber resmi, lakukan cek dan ricek juga pada sumber-sumber primer lain. Harus diakui, meluasnya kesimpangsiuran informasi lokasi jatuhnya pesawat Adam Air itu karena reporter kurang gigih melakukan verifikasi dan pengecekan ulang sehingga hal-hal yang masih berupa perkiraan dikatakan sebagai data otentik dan akurat.

Akhirnya, di antara ambang batas kecemasan serta ketidakjelasan keberadaan pesawat Adam Air, ada sedikit sindiran: dalam tragedi jatuhnya pesawat di Tinombala 29 Maret 1977, kesulitan proses pencarian terletak pada faktor lebatnya hutan belantara. Tapi sekarang, teknologi sudah canggih dan hutan di Indonesia sudah gundul, apanya lagi yang sulit?  (Surabaya Post)

Jangan Bunuh Penumpang (Kami)

TRAGEDI transportasi yang berkali-kali terjadi membuat siapa pun kian cemas. Cemas karena kecenderungan bencana transportasi menunjukkan grafik naik dari tahun ke tahun, baik kasusnya maupun korbannya. Seolah kematian bagian yang harus disiapkan dalam rangkaian perjalanan.

Lihat saja kecelakaan lalu lintas darat. Tahun lalu saja jalan raya merenggut tak kurang dari 30 ribu nyawa manusia dan melukai lebih dari dua juta orang. Ternyata jalan raya menjadi pembunuh yang luar biasa kejam. Seolah setiap jengkal jalan raya Indonesia punya potensi menjadi pembunuh. Padahal, sebagian besar pembunuhnya adalah sikap tak disiplin pengguna jalan raya sendiri.

Sementara itu, untuk angkutan laut, meski korbannya tak sebesar di jalan raya, kesemrawutannya tak kalah mengerikan. Karena itu, kasusnya juga memperlihatkan grafik naik. Dari 109 kasus pada 2004 menjadi 111 kasus pada 2005 dan 119 kasus pada 2006.

Di sisi lain, transportasi udara yang mestinya segalanya paling prima juga setali tiga uang. Berengsek! Padahal, sektor penerbangan pertumbuhan penumpangnya mencengangkan. Pada 2004 menyedot 24 juta penumpang, naik menjadi 29 juta pada 2005, dan 34 juta pada 2006.

Dengan pertumbuhan seperti itu, mereka mestinya kian meningkatkan pelayanan yang muaranya keselamatan penumpang. Tetapi, alih-alih memperbaiki pelayanan, yang terjadi justru sebaliknya. Jasa penerbangan yang menuntut tingkat kesempurnaan dalam segala hal justru terkesan sembarangan. Kecelakaan selama lima tahun saja (2001-2005) telah terjadi 23 kasus. Belum lagi insiden seperti pesawat tergelincir atau ban kempes. Ini dari tahun ke tahun juga meningkat.

Fakta meningkatnya kecelakaan udara terjadi ketika tarif murah diberlakukan sejak empat tahun lalu. Memang tarif murah itulah yang menyebabkan pertumbuhan penumpang angkutan udara naik. Tapi jika ini sampai mengorbankan penumpang, artinya sama saja dengan sengaja membunuh penumpang. Jika tarif murah terbukti mengabaikan aspek pemeliharaan pesawat, kecelakaan udara memang hanya menunggu waktu. Ia bisa terjadi setiap saat.

Biaya pembelian avtur, pemeliharaan pesawat, dan pembinaan kru jelas tak bisa dikurangi. Misalnya aturan internasional mengharuskan setiap pilot harus melakukan uji kesehatan setiap enam bulan sekali. Itu tak bisa ditawar-tawar. Tetapi, kekuatan uang bisa membuat aturan ini menjadi mandul.

Kabar yang sering terdengar juga permainan dalam soal penggunaan bahan bakar. Misalnya mencampur avtur dengan benda cair lainnya. Cerita pesawat menggunakan roda vulkanisir juga bukan isapan jempol. Itu sungguh cerita pilu dunia penerbangan kita.

Kasus pesawat yang tergelincir dan beberapa jam kemudian bisa terbang kembali adalah bukti lain pengabaian aturan dan standar pemeliharaan. Dan, tidak pernah ada penjelasan yang transparan kepada publik sebagai pengguna jasa penerbangan.

Efisiensi memang keharusan dalam manajemen. Tetapi, efisiensi yang berimplikasi pada keselamatan jiwa sungguh berbahaya.

Kejar setoran juga kerap menyebabkan berbagai aturan dilanggar. Misalnya pesawat yang kelebihan muatan. Petugas yang rapuh godaan uang juga bisa meloloskan barang-barang terlarang dalam penerbangan. Pilot yang mestinya punya otoritas penuh dalam penerbangan pun sering tanpa daya jika pihak perusahaan punya kehendak tertentu.

Yang mengherankan, pemerintah sebagai regulator seperti tak berdaya menghadapi berbagai pelanggaran yang nyata-nyata amat membahayakan. Karena itu, hanya ada dua kemungkinan melihat berbagai pelanggaran itu dibiarkan. Pertama, pemerintah tak punya nyali untuk memberi sanksi. Kedua, pemerintah nyata-nyata bersekutu dengan mereka yang bersalah.

Media Indonesia, Minggu, 07 Januari 2007

Perketat Keselamatan Transportasi

Peristiwa kecelakaan beruntun yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat belakangan ini menjadi sebuah kejadian yang sangat menarik perhatian kita.

Terlebih mengingat jumlah korban yang tidak sedikit. Ambil contoh tenggelamnya kapal KM Senopati Nusantara yang menewaskan ratusan penumpangnya. Juga hilangnya pesawat terbang Adam Air yang membawa lebih dari seratus orang penumpang. Mereka yang menjadi korban jelas membawa tragedi tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan.
Menyaksikan peristiwa tersebut, salah satu pelajaran penting yang harus sangat dibenahi adalah jaminan keselamatan transportasi. Jaminan dimaksud adalah sebuah sistem yang baku, tersistematisasi dan mudah dimengerti oleh para penumpang, sehingga ketika terjadi kecelakaan, prosedur tersebut langsung berlaku.

Ambil contoh pada kecelakaan KM Senopati Nusantara. Ternyata berdasarkan pengakuan para penumpang yang selamat, ketika kapal mulai menunjukkan tanda akan tenggelam, mereka sama sekali tidak tahu apa-apa. Awak kapal yang seharusnya memberitahukan kepada para penumpang mengenai apa yang harus dilakukan, tidak mengerjakan apa-apa. Bahkan para penumpang diperlakukan seolah tidak perlu mengetahui bahwa kapal naas tersebut akan tenggelam.

Demikian juga dengan kejadian di seputar hilangnya pesawat milik Adam Air. Memang walau tidak secara langsung, namun rusaknya radar ELBA milik Indonesia jelas menjadi salah satu penyebab lambatnya mendeteksi keberadaan pesawat tersebut. Akibatnya sampai sekarang, koordinat daripada pesawat tersebut hanya mengandalkan infomasi dari ELBA milik Singapura.

Alangkah menyedihkannya memang keadaan ini. Dari data yang ada pada Mahkamah Pelayaran, diketahui bahwa faktor manusia hanya menyumbang 20 persen saja dari angka kecelakaan. Sebanyak 30 persen disebabkan oleh human error, yang salah satunya adalah tiadanya jamiman keselamatan yang memadai tadi.

Memang kalau kita mengalami sendiri transportasi kita, alangkah memiriskannya.

Banyak sarana transportasi laut yang berada dalam keadaan “gawat darurat”. Bagaimana tidak? Kebanyakan tidak dilengkapi dengan sarana pertolongan keselamatan, petunjuk untuk pertolongan diri sendiri, maupun fasilitas lain. Padahal kita ketahui sebagai sebuah negara kepulauan, sarana laut adalah modal utama. Maka alangkah memiriskannya ketika yang terjadi adalah pengangkutan yang asal-asalan.

Kelihatannya mengerikan. Tetapi itulah yang terjadi, setiap kali kita memasuki angkutan laut. Kita seolah memasuki tempat penuh berisiko bagi nyawa kita dan keselamatan kita sendiri.

Penerbangan hampir sama saja. Memang modal transportasi udara adalah sarana yang high tech, artinya membutuhkan sarana dan operasi dari kemampuan manusia yang ada. Untuk itu seharusnya dilakukan pemasangan berbagai sarana yang mampu membantu keadaan darurat, semisal radar darat tadi. Tetapi setahu bagaimana, Indonesia ternyata masih mengabaikan demikian.

Dari dua kejadian kecelakaan yang mengisi lembaran kelam beberapa hari ini, sudah sepantasnya pemerintah meningkatkan kepatuhan pada prosedur keselamatan yang berlaku secara universal. Nyawa manusia tidak boleh disia-siakan. Manusia adalah manusia yang nyawanya tidak bisa diukur dengan pemasukan dan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan transportasi. Menteri Perhubungan beserta seluruh jajarannya harus melakukan pembenahan. Ketakutan massal sekarang ini sedang terjadi.

Masyarakat gelisah dan kuatir terhadap apa yang sedang terjadi. Karena itu pemerintah harus menjelaskan kepada publik apa yang akan dilakukannya dalam membenahi hal ini. (***)

Sinar Indonesia Baru, Jan 06, 2007

Menyikapi Musibah Transportasi

BENCANA transportasi laut dan udara datang seolah mengiringi penghujung tahun lalu dan awal tahun tahun ini. Musibah tenggelamnya KM Senopati Nusantara dan hilangnya pesawat terbang Adam Air adalah dua musibah di seputar pergantian tahun itu.

Hingga kini masih ratusan penumpang KM Senopati Nusantara belum jelas nasibnya. Begitu juga 100 lebih penumpang dan awak Adam Air, belum ada tanda-tanda di mana keberadaannya.

Waktu demi waktu kita hanya bisa menunggu perkembangan informasi dari dua peristiwa nahas itu. Tetapi, alangkah buruk informasi dari para pejabat negara menyikapi tragedi transportasi itu. Informasi amatiran atau kabar burung penemuan Adam Air, adalah buktinya. Bagaimana mungkin informasi mentah dari sumber yang tidak punya otoritas bisa diyakini tanpa verifikasi? Ini sungguh aneh bin ajaib.

Buruknya informasi seputar hilangnya Adam Air, adalah juga cermin bagaimana para elite bangsa mengelola negara. Bukankah publik memang sering bingung dengan informasi dari mereka yang tidak jelas antara opini pribadi, wacana, dan keputusan institusi?

Data lapangan menunjukkan dari sebagian besar kecelakaan di wilayah transportasi bukan karena faktor cuaca. Tetapi, karena kesalahan manusia (human error). Dan, ujung dari kesalahan manusia itu pasti karena ada pelanggaran terhadap aturan.

Ketidakdisiplinan itulah mestinya yang harus mendapat perhatian utama. Bukankah isi muatan kapal atau manifes sering tidak bermakna apa-apa karena kerap ada dimanipulasi? Kenyataannya peristiwa serupa terjadi lagi, dan lagi…

Itu artinya, ujung dari pengelolaan apa pun oleh bangsa ini sering tidak sayang pada manusia, tetapi justru sayang pada uang. Kita pun sering mendapat olok-olok harga nyawa manusia Indonesia sungguh murah, sebab keselamatan penumpang sering menempati urutan belakang. Namun kita tak tergerak untuk mengubahnya.

Negeri ini telah berkali-kali mengalami kecelakaan transportasi laut, udara, dan juga darat. Tetapi, selalu berulang dan heboh luar biasa hanya saat peristiwa itu terjadi. Karena itu, yang ada adalah kepanikan. Informasi mentah ditemukannya Adam Air, adalah bukti dari komunikasi yang penuh kepanikan itu.

Kita hapal, setiap terjadi kecelakaan transportasi yang menewaskan banyak manusia, selalu muncul instruksi dan investigasi ini-itu dari elite negeri. Tetapi, entah untuk apa itu semua. Sebab, publik tidak pernah tahu apa hasilnya.

Seperti juga kali ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Menteri Perhubungan Hatta Rajasa melakukan investigasi menyeluruh terhadap pesawat penerbangan dan angkutan laut. Kepala Negara minta permintaan itu segera dilaksanakan dan dilaporkan.

Bahkan, Presiden juga akan membentuk tim evaluasi angkutan yang fokusnya pada transportasi laut dan udara. Tim ini akan dibentuk dengan keputusan presiden dan anggotanya akan dipilih sendiri oleh Yudhoyono.

Tetapi pertanyaanya, bagaimana nanti di tataran opersional jika monitoring dan kontrol selalu lemah? Jika kesalahan tidak diberi sanksi? Bagaimana jika ‘pemilik’ maskapai penerbangan dan angkutan laut yang melakukan pelanggaran ternyata para petinggi negeri?

Dari berbagai pengalaman itu, kita pun menjadi pesimistis publik akan dianggap penting untuk mengetahui apa hasil investigasi dan tim evaluasi angkutan yang akan dibentuk itu.

Media Indonesia, Jum’at, 05 Januari 2007

Malapetaka Informasi di Era Informasi

Yang terjadi di negeri ini bukan hanya malapetaka alam seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, atau malapetaka transportasi seperti kapal tenggelam, kereta api tabrakan, pesawat terbang hilang atau jatuh, melainkan juga malapetaka informasi. Itulah malapetaka yang tidak saja menambah panjang daftar kesedihan, tetapi juga memalukan bangsa ini ke seluruh dunia.

Kasus mutakhir adalah informasi telah ditemukannya pesawat Adam Air. Tidak hanya telah ditemukan, tetapi informasi yang disebarkan kepada publik bahkan lebih rinci lagi. Yaitu 12 orang selamat dan 90 orang meninggal.

Tetapi kemudian informasi itu salah, tidak benar, bahkan dapat digolongkan sebagai pembohongan publik. Faktanya hingga sekarang pesawat Adam Air itu belum ditemukan.

Alkisah adalah seorang warga Desa Raongan, Kecamatan Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang melapor kepada Kepala Desa Raongan bahwa ada pesawat jatuh. Tanpa mengeceknya, sang kepala desa melapor ke kapolsek, diteruskan ke bupati, kapolda, gubernur, dan ujungnya sampai ke Menteri Perhubungan.

Tak hanya sampai di menteri. Selanjutnya, informasi itu pun tiba di puncak kekuasaan, masuk Istana Presiden dan Wakil Presiden. Tidak hanya sampai, tetapi informasi yang salah itu pun dipercayai pemimpin negara.

Dan pers pun turut ‘berdosa’ karena menyebarluaskan informasi yang ternyata tidak benar. Pers mempercayai informasi itu semata karena berasal dari pejabat negara.

Maka, sempurnalah kebodohan kita sebagai bangsa. Yaitu tidak mengecek fakta. Kesimpulan yang menyakitkan, bahwa untuk urusan yang sangat elementer pun ternyata bangsa ini belum lulus.

Padahal, kita hidup di abad modern, di era informasi. Era yang didukung kemajuan teknologi informasi sehingga informasi bisa melintasi batas-batas negara secara seketika. Melalui internet, misalnya, tidak ada lagi batas negara, bahkan tidak ada lagi hambatan dimensi waktu dan tempat.

Berkat kemajuan teknologi, informasi yang salah mengenai ditemukannya pesawat Adam Air itu menyebar ke seluruh dunia dengan sangat cepat. Itu berarti kebodohan kita sebagai bangsa pun ikut meluas seluruh jagat. Ah, betapa malu meralatnya!

Oleh karena itu, kasus informasi salah ini mestinya menjadi pelajaran paling penting untuk back to basic. Yaitu siapa pun, terutama pejabat negara, tidak boleh percaya begitu saja pada laporan bawahannya. Jika tidak, bangsa ini tidak hanya mengalami malapetaka alam, atau malapetaka transportasi, tetapi juga malapetaka informasi. Ironisnya, itu terjadi justru di era informasi.

Media Indonesia, Kamis, 04 Januari 2007


Blog Stats

  • 791,657 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.