Archive for the 'Amerika' Category

Amerika Demam, Kita Runyam

PEMERINTAH jangan dulu terlena melihat pulihnya bursa saham dunia. Setelah jatuh pada Selasa pekan lalu—pelaku bisnis mencatatnya sebagai Black Tuesday—kembali meningkatnya indeks harga saham belum bisa dikatakan aman. Perkembangan ini memang bisa memupus kekhawatiran bahwa krisis yang menimpa pasar modal itu bakal berkepanjangan. Namun Indonesia masih berada dalam bayang-bayang bakal terjadinya kemunduran ekonomi global. Kalau ekonomi dunia, terutama Amerika, demam, Indonesia bisa terkena selesma.
Ekonomi dunia sekarang mengandung volatilitas tinggi. Gejolak bursa bisa terjadi kapan saja, dengan turunan dan tanjakan tajam yang sulit diprediksi akurat. Untuk sementara, resep Amerika bisa meredam gejolak. Pemerintah George W. Bush memberikan stimulus ekonomi senilai US$ 150 miliar. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, menurunkan suku bunga sampai 75 basis poin menjadi 3,5 persen.
Ibarat membuka pintu bendungan, kebijakan Amerika itu seperti mengalirkan air ke bursa-bursa dunia yang sedang kering. Dampaknya terasa langsung. Indeks bursa Indonesia naik 14,2 persen, lebih baik daripada sepekan sebelumnya, walaupun masih jauh dari posisi tertingginya tahun ini. Nilai tukar rupiah juga menguat. Bursa dan mata uang negara lain juga ikut membaik.
Pertanyaan pentingnya: apakah Amerika Serikat mampu menyelamatkan ekonominya dari ancaman resesi besar. Ekonomi AS, suka atau tidak, menjadi penentu yang valid tentang kapan ancaman krisis ini bakal berakhir. Semakin dalam dan lama resesi yang mendera Amerika, selama itu pula negara lain, termasuk Indonesia, bakal ”menderita”. Bekas gubernur bank sentral AS, Alan Greenspan, misalnya, menyatakan bahwa peluang resesi di Amerika makin besar meskipun derajat kedalamannya dangkal.
Biang keladi penyakit ekonomi Amerika kali ini, salah satunya, adalah krisis kredit macet subprime mortgage. Sialnya, kerugian belum bisa dihitung pasti, tapi angkanya sangat besar. Sampai kapan? Justru pertanyaan fundamental ini yang belum bisa dijawab, dan ini sangat mencemaskan pelaku ekonomi AS. Citibank dan Merrill Lynch, misalnya, terpaksa menghapusbukukan kredit macet tersebut sampai belasan miliar dolar. Mereka juga menderita kerugian miliaran dolar.
Sejumlah bank Eropa juga mulai melaporkan kerugian yang tak kalah mencengangkan akibat subprime. Bank terbesar kedua di Prancis, Societe Generale, merugi US$ 3 miliar. Diduga kuat, dan ini bisa membuat ”jantung copot”, belum semua korban melaporkan kerugian yang dideritanya. Padahal, secara keseluruhan, kucuran kredit subprime dengan hipotek rumah ini nilainya sangat besar: US$ 6 triliun. Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya Selasa Hitam.
Buat Indonesia, setelah krisis bursa sementara ini berlalu, yang terpenting dilakukan adalah melihat dengan cermat apa yang terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara yang mungkin terimbas subprime. Perlambatan ekonomi Amerika pasti berpengaruh ke Indonesia. Rakyat Amerika tentu akan mengurangi konsumsi, dan ini mengakibatkan impor negara itu dari Indonesia akan menurun. Sampai November lalu, ekspor nonmigas Indonesia ke AS masih mencapai US$ 10 miliar.
Sebelum resesi benar-benar terjadi di Amerika, Indonesia perlu mencari pasar lain yang lebih prospektif. Dengan komoditas andalan seperti kelapa sawit, batu bara, dan berbagai produk primer, Indonesia tidak terlalu sulit mencari pasar di luar Amerika atau Jepang. Lagi pula, Jepang juga bakal sulit menghindar dari dampak resesi AS, mengingat intensitas perdagangan dua negara besar itu. Cina dan India bisa menjadi alternatif ekspor yang menjanjikan. Dua negara itu kini sangat haus energi.
Jangan sampai Indonesia justru dimanfaatkan negara lain. Bukan tidak mungkin Cina yang lebih cekatan mengalihkan ekspornya ke Indonesia. Dan sudah lama Indonesia menjadi incaran Cina. Dari tahun ke tahun, ekspor Cina ke Indonesia terus meningkat.
Tiang penyangga ekonomi lain yang harus diperhatikan adalah nilai tukar rupiah. Kondisi saat ini memang berbeda dengan sepuluh tahun silam, ketika krisis menghantam Indonesia dan Asia Timur. Proporsi utang luar negeri Indonesia—pemerintah dan swasta—saat ini jauh lebih aman ketimbang 1998. Ketika itu utang luar negeri mencapai 126 persen dari pendapatan domestik bruto, sedangkan sekarang berada di kisaran 33 persen. Tekanan harga minyak dunia juga relatif menurun. Harga minyak kini sudah berada di bawah US$ 90 per barel. Cadangan devisa Indonesia juga cukup besar. Kuncinya, sepanjang nilai tukar tidak melemah, ekonomi Indonesia lebih mudah dijaga.
Perbaikan indeks bursa dan stabilnya nilai tukar rupiah sekarang jangan sampai membuat pemerintah Indonesia meremehkan potensi krisis Amerika yang bisa terjadi kapan saja. Kewaspadaan harus dijaga, turbulensi bisa menerjang sewaktu-waktu.

 Majalah Tempo, 28 Januari 2008

Lagi-lagi WNI Ditahan di AS

Kita marah dan sakit hati ketika pembantu rumah tangga asal Indonesia Ceriyati harus meluncur dari apartemen tingkat lima belas hanya menggunakan tali dari kain agar bisa bebas dari deraan majikannya di Malaysia. Upaya pemerintah dalam hal ini KBRI Kuala Lumpur untuk mendapatkan perlindungan hukum bagi Ceriyati sangat kita dukung. Tidak sedramatis nasib Ceriyati, seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia menderita pelecehan seksual dari seorang pengusaha Singapura awal tahun ini. Pengusaha tersebut kini sedang diadili.

Pekan lalu kita dikejutkan ketika mendapat kabar 76 WNI ditangkap di AS karena masalah keimigrasian. Mereka ditahan di empat penjara yang berbeda saat pemerintah AS melakukan operasi terhadap imigran gelap di negara bagian Pennsylvania. Belum jelas apa masalah keimigrasian yang dituduhkan kepada mereka, apakah itu over stay (melebihi waktu izin tinggal) atau menjadi illegal worker (tenaga kerja ilegal). Akan tetapi sejauh ini tidak ada laporan yang mengaitkan para WNI itu dengan aktivitas terorisme di AS.

Operasi besar-besaran di AS itu dilakukan terhadap imigran gelap oleh imigrasi AS (Immigration and Custom Enforcement/ICE) di sebuah pabrik kemasan plastik di East Stroudsburg, Pennsylvania. Dalam operasi itu, ditangkap ratusan pekerja di pabrik kemasan plastik di East Stroudsburg, Pennsylvania, sekitar 120 kilometer sebelah barat kota New York.

Peristiwa penangkapan WNI di AS bukanlah kejadian pertama. Sebanyak 23 WNI ditangkap di Virginia pada 22 November 2004, karena diduga sebagai kelompok pemalsu paspor, visa, dan kartu identitas lain. Pada 2006 terjadi dua peristiwa penangkapan WNI, yakni pada 9 April aparat imigrasi dan bea cukai AS menangkap dua WNI di Honolulu, Hawaii, berkaitan dengan pembelian suku cadang dan persenjataan ilegal, dan pada 28 September empat WNI ditangkap dan ditahan di Guam, karena diduga berkonspirasi dengan eksportir senjata dan kejahatan pencucian uang. Sedangkan pada April 2007 tiga WNI yang tinggal dan bekerja di negara bagian Pennsylvania ditangkap dan ditahan, karena menyalahi aturan izin tinggal.

Kita menyadari pesona Amerika sebagai tempat tinggal yang menjanjikan masa depan yang lebih baik tak bisa disangkal. Karena itu, selalu ada godaan untuk tinggal di sana, meskipun dengan menyalahgunakan visa kunjungan yang didapat baik dalam bentuk over stay maupun illegal worker. Kita berpendapat, daya tarik tinggal di AS hendaknya tetap harus dicapai lewat jalur hukum, bukan dengan cara melanggar hukum.

Sejak setahun lalu pemerintah AS telah mengumumkan bahwa akan melakukan pemeriksaan warga negara asing yang tinggal di AS. Berkaitan dengan itu, seluruh perwakilan RI di AS sudah menyosialisasikan masalah ini. Rupanya upaya itu tidak begitu ditanggapi dan akhirnya 76 WNI ditangkap berkaitan dengan masalah keimigrasian. Konsul Jenderal RI New York terus berupaya untuk membuka akses dengan pemerintah AS berkaitan dengan masalah keimigrasian tersebut agar WNI yang ditahan itu bisa mendapatkan bantuan hukum dan advokasi.

Pemerintah Indonesia tentu saja wajib memberikan perlindungan kepada WNI yang mendapat masalah di AS. Akan tetapi perlindungan tersebut tentu tidak dibaca sebagai upaya untuk memutihkan pelanggaran keimigrasian yang dilakukan, tetapi lebih pada memastikan tidak ada hak mereka yang dikurangi sebagai warga negara asing yang sedang terlibat masalah hukum di negara tersebut. Tentu saja kita menyayangkan terjadinya peristiwa di atas.

Suara Pembaruan, 25 06 2007

Mungkinkah AS Menyerang Iran?

Asrori
Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaran (PSIK) Universitas Paramadina

Meski Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush berulang kali menyatakan tak akan menginvasi Iran, namun tanda-tanda ke arah sana semakin jelas untuk dibuktikan. Pasalnya, perubahan sikap AS terhadap Iran semakin lebih ofensif dan agresif dalam menyikapi keputusan politik luar negerinya terhadap Iran.

Berdasarkan pengamatan para kritikus perang bahwa pernyataan Presiden AS Selasa (30/1) bahwa Gedung Putih tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas dan keras jika Iran bertindak ‘macam-macam’ di Irak dan membahayakan pasukan keamanan AS. Akhirnya medan perang pun barangkali terbuka lebar siap untuk menjadi kubangan darah yang merambah dan menjadi saksi jutaan mayat terkapar tersayat.

Menurut Francis Fukuyama dalam ‘America at the Crossroads; Democracy, Power, and the Neoconservative Legacy’, 2006, ada tiga alasan utama rezim otoriter Bush untuk melancarkan serangannya terhadap Irak pimpinan Saddam Husein. Akan tetapi menurutnya sebagian besar alasan itu palsu. Pertama, Irak dituduh memiliki senjata pemusnah massal. Kedua, Irak dituduh memiliki kaitan erat dengan jaringan Alaidah dan organisasi teroris lainnya. Ketiga, Irak dituduh sebagai rezim diktator tiranik yang harus dimusnahkan.

Berdasarkan fakta tersebut, tanda-tanda AS ‘mengajak perang Iran’ sepertinya mirip ketika mereka akan menginvasi Irak tahun 2003. Hal tersebut setidaknya bisa dibuktikan dengan beberapa alasan. Pertama, AS menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir sebagaimana yang pernah dikembangkan Irak. Kedua, AS menuduh Iran telah menyebar aksi teror di Irak untuk memerangi tentara keamanan koalisi AS dan Inggris, sehingga mengakibatkan sejumlah tentara mereka terbunuh sia-sia. Ketiga, AS menuduh Iran telah membantu kelompok pejuang di Irak terutama dalam hal penyediaan senjata dan bahan peledak yang membahayakan.

Pada tahun 2002-2003 Bush mungkin bisa dengan mudah meyakinkan Kongres AS yang hawkish maupun komunitas internasional yang masih trauma dibayangi tragedi 11 September dengan menunjukkan ‘bukti-bukti’ bohong bahwa Saddam Hussein sedang mengembangkan nuklir pemusnah massal. Namun, bila alasan ini kembali digunakan untuk menyerang Iran, adakah pihak yang masih percaya?

Rasanya masyarakat internasional tidak mau masuk jurang yang sama untuk kedua kalinya. Karenanya, sebagian pengamat mengatakan bahwa sikap AS terhadap Iran selama ini bagai melempar batu sembunyi tangan. Mereka menuduh tanpa didasarkan pada bukti-bukti yang jelas yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Bersamaan dengan itu Khalid Al Dakhil, penulis dan akademisi Arab Saudi mengatakan bahwa sikap AS tersebut merupakan refleksi atas kegagalan misinya di kawasan Irak. Di kancah dunia internasional wajah mereka terasa dicoreng. Mereka merasa malu atas kegagalannya sehingga untuk mengobati rasa malunya AS menfitnah Iran dengan alasan-alasan irasional.

Atas semua tuduhan itu, pemerintah Iran membantah keras tuduhan tersebut. Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad mengatakan bahwa, tuduhan AS selama beberapa bulan terakhir ini tidak berdasarkan fakta. Tuduhan itu sebenarnya hanya untuk propaganda. Dan dia berjanji jika AS menyerang, Iran akan melakukan tamparan sejarahnya kepada AS dan membuatnya malu di hadapan masyarakat dunia sehingga iblis pun tak mau mengingat kejayaan dan kedigdayaan AS kembali yang pernah dialaminya.

Maka, besar kemungkinan Iran akan melakukan serangan balik pada setiap kepentingan AS di seluruh dunia bila Iran diserang. Sehingga sampai saat ini Iran yakin bahwa tak akan ada seorang pun membuat langkah yang demikian irasional sampai menyulitkan langkah mereka ke depan. Musuh-musuh Iran harus mengerti bahwa Iran akan memberikan balasan komprehensif terhadap para agresor maupun kepentingan mereka di seluruh dunia. Politisi AS dan para analisnya juga harus tahu bahwa rakyat Iran tak akan tinggal diam bila diserang.

Sikap naif AS
Andaikan benar AS dan sekutunya menyerang Iran sebagaimana yang perna dilakukannya terhadap Irak beberapa tahun lalu, hal tersebut tentunya akan menyulitkan AS mewujudkan tujuannya. Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan yang harus dilakukan AS. Pertama, sebuah serangan udara terbatas yang targetnya hanyalah fasilitas nuklir Iran, seperti yang terdapat di Natanz dan Isfahan. Kedua, serangan militer yang lebih luas dan menyeluruh, yang targetnya bukan hanya menghancurkan fasilitas nuklir Iran, tetapi juga melumpuhkan angkatan bersenjata negara itu.

Dengan demikian AS harus melumpuhkan seluruh sistem pertahanan Iran, memperkuat pasukan darat, udara, dan laut di Irak dan Afganistan, serta memindahkan kapal-kapal perang AS ke Teluk Persia untuk melindungi jalur perdagangan. Jet-jet tempur AS harus diluncurkan dari pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia, sementara pesawat-pesawat pengebom stealth bisa langsung diterbangkan dari AS. Washington juga harus membujuk Turki untuk memberi izin bagi penggunaan pangkalan militer di Incirlik.

Berdasarkan foto-foto satelit hasil pemantauan yang dilakukan pesawat pengintai AS terhadap fasilitas nuklir Iran sejak tahun 2004, setidaknya ada 400 target yang harus dihantam melalui serangan udara. Di antaranya rudal-rudal balistik jangka menengah yang ditempatkan mendekati perbatasan Irak, 14 lapangan terbang beserta pesawat-pesawat tempurnya, kapal-kapal selam Iran, dan bangunan-bangunan yang terkait dengan kepentingan intelijen maupun dengan Garda Revolusi.

Langkah selanjutnya, AS membutuhkan senjata nuklir penghancur bungker (bunker-buster tactical nuclear weapon), seperti B61-11, untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas yang terdapat di bawah tanah. Target utamanya adalah fasilitas nuklir Iran di Natanz yang diperkirakan memiliki 50 ribu mesin pemutar (centrifuge), laboratorium, dan ruangan kerja di kedalaman 25 meter di bawah tanah.

Dari semua keterangan tersebut, sepertinya upaya-upaya yang harus dilakukan AS untuk menaklukan Iran cukup berat dan secara material harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak juga. Maka berdasarkan analisis subjektif upaya ke arah sana tidak mungkin dilakukan AS. Walhasil, upaya AS untuk menaklukan Iran hanya akan menjadi angan-angan dan cemoohan dunia internasional belaka. Sehingga buah yang akan dipetik adalah kenaifan dan kemustahilan untuk memenangkan peperangan dengan Iran, yang secara historis-sosiologis telah memiliki pengalaman perang dengan Barat (Imperium Romawi).

Semestinya AS lebih memikirkan hubungan baik dengan Iran dalam politik luar negerinya demi kemaslahatan bersama terutama menyangkut nasib warga kedua negara, AS dan Iran. Sebaiknya permasalahan ini diselesaikan dengan jalan diplomatik bukan melalui jalur militer yang akan memakan korban jiwa dan harta benda yang banyak pula. Karena bagaimanapun juga perang tidak akan menyelesaikan masalah akan tetapi hanya akan memperuncing masalah.

Ikhtisar

– AS terlihat mengulang modus rencana penyerangan Irak, untuk berusaha menyerang Iran.
– Dunia internasional sudah berubah, sehingga kemungkinan besar skenario AS itu sulit mendapat dukungan.
– AS memerlukan biaya yang sangat besar untuk bisa melumpuhkan sendi-sendi pertahanan Iran.
– Rencana penyerangan AS terhadap Iran pun pada gilirannya hanya akan mengundang cemooh.

sumber : Republika 

Ancaman Baru Al Qaeda

Jaringan Al Qaeda di Arab Saudi mengancam akan menyerang kilang-kilang minyak di dunia, yang menjadi pemasok minyak bagi Amerika Serikat.

Sasarannya bukan hanya kilang minyak di kawasan Timur Tengah, tetapi juga pusat pemrosesan minyak di Kanada, Meksiko, dan Venezuela. Serangan ke kilang minyak, pipa ekspor, terminal minyak, dan tanker pembawa minyak untuk kebutuhan AS dimaksudkan untuk mengacaukan perekonomian negara adidaya itu, yang dituduh menghegemoni dunia.

Ancaman serangan yang menghebohkan itu disampaikan dalam Sawt al-Jihad, jaringan internet yang dioperasikan Al Qaeda cabang Semenanjung Arabia. Sejauh mana ancaman itu serius? Ada yang berpendapat, jangan-jangan ancaman itu sekadar memancing di air keruh di tengah kampanye global melawan terorisme. Namun, tidak sedikit yang menilai sangat serius.

Dalam kenyataannya, ancaman terorisme masih terus terjadi. Pemerintah Arab Saudi, misalnya, terus direpotkan oleh kaum militan, yang memiliki hubungan dengan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden kelahiran Arab Saudi. Kekuatan Al Qaeda dengan jaringannya di seluruh dunia belum dapat dipatahkan meski AS tahun 2001 menginvasi Afganistan yang menjadi pusat gerakan pimpinan Bin Laden itu.

Sampai sekarang keberadaan Bin Laden belum diketahui. Terlepas apakah ia sudah meninggal atau masih hidup, pemimpin Al Qaeda ini telah menjadi legenda, nama dan gerakannya mendunia. Para pengamat menyatakan, banyak organisasi militan di dunia mempunyai hubungan secara organisatoris dengan Al Qaeda.

Tidak sedikit pula organisasi terbentuk hanya karena terinspirasi oleh gerakan Al Qaeda meski tidak mempunyai hubungan organisatoris. Bahaya teroris masih mengancam dunia. Ancaman serangan terhadap sumber pemasokan minyak AS tidak boleh disepelekan.

Kiprah Al Qaeda di Arab Saudi sangatlah menakutkan. Kelompok ini berada di balik serangan gagal terhadap kilang minyak Abqaiq, pusat pemrosesan minyak terbesar dunia, di Arab Saudi bulan Februari 2006.

Tiga tahun sebelumnya, organisasi ini melancarkan kampanye kekerasan untuk menjatuhkan keluarga Kerajaan Arab Saudi dukungan AS. Serangan bom bunuh diri dilancarkan ke kompleks perumahan warga Barat dan perkantoran pemerintahan.

Dengan reputasi dan riwayat kekerasan macam itu, termasuk serangan spektakuler dan fantastis tanggal 11 September 2001 di Amerika Serikat, ancaman serangan jaringan Al Qaeda terhadap sumber pemasokan minyak AS tidak dapat disepelekan, tetapi perlu diwaspadai.

Kompas, Sabtu, 17 Februari 2007

Ancaman Iran terhadap AS

Iran mengancam akan menyerang kepentingan Amerika Serikat di seluruh dunia jika negeri di Teluk Persia itu sampai diserang terkait isu nuklir.

Ancaman yang dikeluarkan hari Kamis 8 Februari lalu itu dianggap serius karena dikeluarkan oleh Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin spiritual yang sangat berwibawa dalam tata kenegaraan Iran.

Situasi yang melingkupi hubungan Iran-AS kebetulan sedang rawan. Ancaman Khamenei dikeluarkan ketika Garda Revolusioner Iran menyatakan telah melancarkan uji coba peluru kendali yang dapat menenggelamkan “kapal-kapal perang besar” di perairan Teluk Persia.

Laporan uji coba nuklir ataupun ancaman yang dikeluarkan Khamenei dapat dianggap sebagai ekspresi sikap menantang atas intimidasi AS di Teluk Persia.

Kapal induk AS kedua dilaporkan sedang bergerak mendekati Teluk Persia untuk memperkuat posisi militer di perairan itu, yang dicurigai sebagai persiapan menyerang Iran.

Pemerintahan Presiden AS George Walker Bush berkali-kali menegaskan akan mengutamakan penyelesaian diplomatik atas isu nuklir Iran, tetapi tetap tidak mengesampingkan kemungkinan penggunaan militer.

Maka kekhawatiran tentang kemungkinan pecahnya perang terbuka belumlah berlalu meski mobilisasi kekuatan militer AS di Teluk Persia bisa saja sekadar diplomasi kapal perang, gunboat diplomacy, untuk menakuti-nakuti Iran.

Namun, perang sering kali pecah karena insiden. Dalam kenyataannya pula, Iran tidak pernah mau tunduk terhadap tekanan dan intimidasi AS dan sekutunya. Iran juga tidak takut atas sanksi yang dijatuhkan PBB.

Bangsa Iran menyatakan pula sudah terbiasa hidup di bawah sanksi yang dijatuhkan AS sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979. Di bawah sanksi itu, Iran justru memacu kemandiriannya dalam berbagai hal sehingga terus bertahan dan memacu kemajuannya.

Sekiranya AS sampai menyerang Iran, pertempuran dipastikan akan berlangsung tidak seimbang. Dengan persenjataan yang relatif terbatas, Iran harus menghadapi mesin perang AS sebagai negara adikuasa.

Namun, tidak dapat disepelekan ancaman serangan terhadap kepentingan AS di seluruh dunia. Tidak gampang bagi AS untuk mengatasinya. Pola serangan diperkirakan sulit diantisipasi.

Pengaruhnya terhadap keamanan dunia pun akan sangat besar. Medan pertarungan senjata yang mengambil tempat di mana-mana pasti menimbulkan keresahan di tingkat global. Maka penyelesaian damai tetap menjadi pilihan jalan terbaik.

Kompas, Senin, 12 Februari 2007

Kunjungan Syekh Qaradhawi

Ada baiknya kita memperkuat kepercayaan diri di pentas global. Harapan demi harapan telah datang kepada bangsa ini dalam berbagai isu dunia, sebutlah masalah Palestina, Irak, Myanmar, serta nuklir Iran dan Korea Utara.

Bagi banyak mata di dunia, Indonesia adalah contoh luar biasa masyarakat Islam yang mampu menerapkan demokrasi. Syekh Yusuf Qaradhawi, ulama berwibawa yang kini bermukim di Qatar, dalam kunjungan di Jakarta kemarin juga menunjukkan apresiasi atas hal ini.

Indonesia, baginya, adalah contoh bagi pelaksanaan prinsip demokrasi yang beraspek moralitas, kejujuran, dan keadilan. Tidak semua bisa melakukan itu. Kasus Irak, misalnya, kendati terdapat jargon penegakan demokrasi di dalamnya, situasi yang berkembang pada era pendudukan oleh AS dan sekutunya hingga kini justru kian jauh dari demokrasi.

Syekh Qaradhawi pun mengaku kagum karena bangsa Indonesia menghormati pluralisme, berhasil merealisasikan kemaslahatan umum, dan menghargai perbedaan tradisi. Ia berharap hal itu menjadi bingkai kokoh dalam upaya menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Dalam pernyataan seperti itulah kita melihat masih ada pelita dalam kehidupan sebagai bangsa. Ada banyak bencana menimpa negeri kita–dan kita dengan mudah bisa membaca kegundahan Presiden akibat masalah tersebut. Kalau kita tak cukup sabar dan tawakal, bisa-bisa kita terbenam ke dalam jurang keputusasaan.

Penghargaan yang kuat dari luar tentu bukan tanpa risiko. Waktu kita sangat sempit untuk membuktikan bahwa sanjungan yang bertubi-tubi itu layak kita miliki. Sederhana saja, kalau kita memang masyarakat Islam penerap demokrasi yang luar biasa, terbesar di muka bumi, lalu apa sumbangsih kita buat masyarakat dunia?

Irak masih carut-marut. Penindasan terus terjadi di Palestina. Hubungan Iran tegang dengan sebagian masyarakat internasional. Pertumbuhan Cina memicu ketidakseimbangan ekonomi. Uji nuklir Korut memperkeras pertarungan senjata di Asia. Lalu, di manakah posisi Indonesia dalam masalah-masalah itu?

Secara ekonomi kita belum jadi siapa-siapa di pentas itu. Tapi banyak hal lain, katakanlah geopolitik, yang membuat kita tetap punya nilai. Kita punya 200 juta lebih penduduk, sebagian besar adalah Muslim dan moderat, yang diharapkan menularkan hawa perdamaian ke seluruh dunia. Tak heran, kita kembali terpilih menjadi anggota Dewan Keamanan PBB pada tahun ini (suatu saat kita harus menjadi anggota tetap), melengkapi peran-peran kita di lembaga internasional lainnya.

Kita melihat sejumlah inisiatif pemerintah. Beberapa cukup menonjol, antara lain dalam isu Palestina, Irak, dan Korut. Namun, kita cukup prihatin bahwa berbagai inisiatif seakan berlalu bersama waktu. Kita, misalnya, cukup agresif dalam ide-ide terkait masalah agresi Israel terhadap Lebanon, tapi langkah kita–termasuk pengiriman pasukan–sangatlah lambat. Kita vokal dalam masalah Irak, tapi ide-ide yang kita sampaikan kepada Presiden AS, George Bush, lewat kuping kiri keluar kuping kanan.

Modal politik saja rupanya tidak cukup. Sekadar kemauan baik pun tak memadai. Kita tampaknya masih perlu belajar merealisasikan gagasan dalam situasi yang lebih konkret. Di Dewan Keamanan PBB kita punya peluang besar untuk melakukannya. Di arena diplomasi antarnegara pun masih banyak pintu terbuka. Jangan sampai harapan yang tinggi kepada kita jatuh dalam kenyataan yang buruk.

Republika, Rabu, 10 Januari 2007

Prospek Perdamaian Palestina

Bagaimanakah prospek perdamaian di Timur Tengah, terutama di Palestina, pada tahun 2007 ini? Melihat apa yang terjadi sepanjang tahun 2006, perdamaian yang selama ini diidamkan tampaknya masih jauh, apalagi bila diharapkan bisa terjadi pada 2007.

Pada faktor internal, konflik yang berlangsung hingga kini antara kelompok Fatah dan Hamas sungguh sangat memprihatinkan. Antara kedua kelompok terdapat kesenjangan yang sangat lebar, baik menyangkut idiologi maupun strategi perjuangan.

Kelompok Fatah yang dipimpin Presiden Palestina Mahmud Abbas lebih beridiologi sekuler, urusan negara/pemerintahan harus dipisahkan dengan agama. Faksi ini pun lebih suka menempuh strategi kompromistis, bahwa untuk mendirikan sebuah negara Palestina merdeka harus dijalin kerja sama yang baik dengan pemerintah Israel. Hal inilah yang telah berlangsung puluhan tahun selama Fatah dan Palestina di bawah kepemimpinan almarhum Yassir Arafat dan kemudian Mahmud Abbas hingga Hammas memenangkan pemilihan umum.

Sedangkan kelompok Hammas berideologi agama/Islam. Strategi yang ditempuh pun, terutama dalam hal hubungannya dengan Israel, sangat tegas. Tidak ada kompromi dengan negara Yahudi itu. Faksi Hammas segera mendapatkan simpati dari warga Palestina justru lantaran idiologi dan strateginya ini. Apalagi selama Palestina di bawah Fatah perdamaian dan kesejahteraan tidak kunjung datang. Ini masih ditambah dengan isu-isu korupsi yang terus mewarnai sejarah perjalanan Fatah.

Perseteruan dua kelompok ini semakin tajam manakala Hammas memenangkan pemilihan umum dan Ismail Haniya terpilih menjadi perdana menteri. Hingga kini Haniya gagal membentuk pemerintahan nasional bersatu yang melibatkan semua unsur bangsa Palestina, terutama dari Fatah.

Perseteruan ini semakin parah ketika masyarakat Eropa dan Amerika Serikat membekukan bantuan yang semestinya diberikan kepada pemerintahan Palestina, yang berakibat pada krisis keuangan. Bahkan perseteruan ini kemudian berkembang menjadi konflik senjata yang terbuka antara Fatah dan Hamas yang hingga sekarang terus berlangsung.

Pada faktor eksternal tampaknya juga belum ada isyarat kuat dari dunia internasional yang serius mengusahakan perdamaian di Palestina. Sungguhlah sangat menyedihkan bahwa lebih dari setengah abad masyarakat internasional/Perserikatan Bangsa-bangsa membiarkan bangsa Palestina yang lemah menjadi bulan-bulanan tentara Israel.

Ketidakseriusan masyarakat internasional mengusahakan kemerdekaan dan kedamaian bagi bangsa dan negara Palestina barangkali bisa dipahami karena ada pihak yang memang menangguk keuntungan dari ketidakstabilan di sana. Harus diakui bahwa apa yang terjadi di Palestina merupakan akar segala konflik dan kekerasan di Timur Tengah. Padahal konflik dan kekerasan inilah yang antara lain menyebabkan harga minyak dunia meroket naik. Sejumlah negara pengekspor minyak, terutama negara-negara Teluk, tentu maraih keuntungan dari kenaikan harga minyak ini.

Di lain pihak, negara-negara industri/pembuat senjata, khususnya AS dan Eropa, tentu juga diuntungkan dengan konflik dan kekerasan yang terjadi di Timur Tengah. Ketidakstabilan di kawasan itu telah menyebabkan negara-negara di Timur Tengah berlomba saling mempersenjatai diri dengan berbagai persenjataan tercanggih yang dihasilkan manusia. Di sinilah kepentingan negara-negara pembuat persenjataan tersebut.

Dengan memahami faktor internal dan eksternal tadi tampaknya perdamaian di Palestina masih jauh. Bagi bangsa Indonesia yang mempunyai hubungan emosional dengan bangsa Palestina dan selalu berusaha membantu kemerdekaan bangsa tersebut sudah seharusnyalah memahami anatomi persoalan yang terjadi di Timur Tengah. Tanpa memahami akar persoalan kita khawatirkan semua usaha ke arah sana bisa sia-sia.

Republika, Senin, 08 Januari 2007


Blog Stats

  • 792,982 hits
Juli 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.