Archive for the 'Bencana' Category

Kedermawanan Berbuah Tragedi di Pasuruan

APA yang bisa dikatakan tentang 21 warga Pasuruan, Jawa Timur, yang tewas terinjak-injak karena berebut zakat dari seorang pengusaha? Dengan gampang kita bisa menyebut kematian 21 warga yang semuanya perempuan itu adalah tragedi orang miskin.

Inilah tragedi kemiskinan dalam arti sesungguhnya. Kemiskinan adalah pertarungan yang tidak mengenal kata terlambat. Terlambat berarti mati. Kemiskinan telah membunuh akal sehat. Padahal yang mereka perebutkan adalah uang sedekah yang jumlahnya tidak lebih dari Rp30 ribu per orang.

Lalu, bagaimana dengan pemberi zakat? Tentu terkandung maksud mulia ketika seorang pengusaha bernama Haji Syaikon yang di Pasuruan itu mau, bahkan sudah menjadi kebiasaan tiap tahun, berbagi rezeki dengan kaum duafa setiap tanggal 15 di bulan Ramadan.

Tetapi, seperti kerap terjadi, tidak semua niat baik berbuah baik. Banyak niat baik berujung malapetaka. Tragedi di Pasuruan adalah contohnya.

Banyak yang menyesalkan cara Syaikon membagi zakat kepada warga yang memadati jalan sempit menuju rumahnya. Mengapa harus memberi sendiri kepada ribuan orang yang berjejal tidak sabar? Mengapa tidak berkoordinasi dengan polisi dan pemerintah daerah setempat?

Bagi ribuan warga miskin yang datang ke rumah Syaikon, ekspose tidak mereka butuhkan. Yang mereka pentingkan adalah memperoleh uang belas kasihan dari seorang dermawan.

Syaikon mungkin tidak memerlukan ekspose apa-apa dari kebiasaannya membagi rezeki setiap bulan Ramadan kepada kaum duafa. Tetapi membiarkan atau menyebabkan ribuan orang berbondong-bondong menunggu di depan rumahnya untuk menerima zakat dari tangannya sendiri adalah kebiasaan yang riskan. Riskan karena mengganggu ketertiban dan kenyamanan di sekitar. Riskan malapetaka karena warga saling berebut untuk memperoleh kesempatan pertama.

Memberi karena keyakinan iman adalah perbuatan mulia. Menerima dengan hati penuh syukur adalah ekspresi iman juga.

Tetapi, tatkala memberi kepada ribuan orang miskin yang antre di depan rumah, kearifan yang diajarkan iman terancam. Yang berlaku dalam peristiwa seperti ini adalah pertarungan. Ketika ribuan orang harus menerima, mereka tidak lagi berlaku sebagai penerima, tetapi perampas. Bahkan pemberi pun terancam nyawanya.

Lihat saja bagaimana bantuan langsung tunai (BLT) yang diberikan kepada rakyat miskin tidak dalam rangka ekspresi iman, tetapi kewajiban negara terhadap warga yang menderita. Dengan pengamanan yang ekstra ketat dan pembagian yang tertata pun masih menimbulkan korban karena rakyat tidak sabar.

Di beberapa kota, masih saja ada kaum dermawan yang menempuh cara pembagian zakat di depan rumahnya sendiri. Seperti diketahui, selalu saja ada ekses dari cara seperti ini.

Karena itu cara paling aman adalah menyerahkan penyaluran zakat kepada institusi yang khusus menanganinya. Serahkan kepada pengurus masjid atau lembaga yang terbiasa menangani sehingga tidak jatuh korban jiwa.

Sangat terasa bahwa membangun rasa kepatutan begitu sulitnya dalam masyarakat kita. Yang berkecukupan banyak yang lupa diri, yang miskin juga lupa diri bahkan tidak tahu diri.

Pemberian tidak diterima dengan tulus dan hormat, tetapi dirampas. Kemiskinan itu menyakitkan, tetapi sekaligus bengis.

Media Indonesia, Selasa, 16 September 2008 00:01 WIB
Iklan

Ibu Kota yang Sakit

BILA dilihat, dari sudut apa pun, banjir yang menghajar Jakarta sudah memasuki tahap memalukan negara. Malu memiliki ibu kota negara yang bukan hanya mengalami macet dan semrawut, tetapi juga tiap kali musim hujan datang berubah menjadi sungai dan waduk.

Coba, apa kata dunia tentang Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang kemarin ditutup dan lumpuh?

Padahal, tahun ini diproklamasikan sebagai Visit Indonesia Year. Hal yang dicanangkan dengan basis argumentasi sangat nasionalistis. Yaitu menyongsong Kebangkitan Nasional 100 tahun. Hal itu dihitung sejak 20 Mei 1908, yang ditandai dengan lahirnya Boedi Oetomo, yang tergolong gerakan pertama kesadaran sebagai bangsa.

Namun, kenyataannya ialah urus banjir saja belum beres. Ah, turis mana yang mau datang ke negara banjir? Turis mana yang mau datang ke negeri yang bandara internasionalnya mendadak bisa lumpuh karena banjir? Turis mana yang mau memberi devisa datang ke Ibu Kota bila melihat Presiden Republik Indonesia sekalipun harus ganti mobil karena tak dapat menembus banjir?

Jakarta adalah ibu kota negara yang sakit. Celakanya, itulah sakit yang dibiarkan sendirian untuk mengatasinya. Seakan-akan banjir Jakarta cuma tanggung jawab Bang Foke seorang.

Padahal, banjir Jakarta akibat banyak faktor. Di antaranya karena tekanan dari hulu. Selama ini ia mendapat banjir kiriman dari wilayah Jawa Barat. Di hulu itu terjadi penggundulan dan penyalahgunaan peruntukan yang membuat kawasan Puncak dihuni vila-vila yang tidak tahu aturan.

Jakarta juga mendapat beban yang ditimpakan pemerintah pusat yang berdomisili di Jakarta. Jakarta menjadi magnet raksasa yang menarik siapa pun. Bukan hanya migrasi spontan seperti pembantu rumah tangga yang datang dari desa, melainkan juga membuai wakil rakyat dari daerah yang duduk di kursi Dewan Perwakilan Daerah untuk juga tinggal di Jakarta.

Jakarta yang sakit itu bertambah sakit. Buktinya, gampang. Banjir kemarin merupakan fenomena berbeda. Bukan karena banjir kiriman, melainkan semata karena hujan lokal. Sebuah bukti tersendiri bahwa Jakarta memang telah sakit parah, sangat parah, yaitu tidak memiliki lagi daya dukung bahkan untuk menampung hujan lokal.

Oleh karena itu, diperlukan banyak langkah yang berani untuk menyelamatkan Jakarta. Yang paling ideal adalah memperluas kawasan ibu kota negara menjadi megapolitan hingga ke Cianjur sehingga kantor pemerintah pusat pun boleh dipindahkan ke wilayah itu.

Solusi lain menghancurkan sebuah kota kecil di wilayah hulu dan menjadikannya waduk raksasa untuk menampung curah hujan. Air bandang tak sempat turun ke bawah.

Kedua pikiran itu adalah pikiran yang akan mendapat perlawanan sengit dari banyak pihak karena mengempiskan banyak kepentingan. Sampai lima kali ganti presiden, lima kali pula ganti DPR dan DPRD, kedua gagasan itu akan dilawan habis-habisan.

Yang tersisa akhirnya pilihan yang bisa diterima common sense, yaitu membangun Banjir Kanal Timur dan Kanal Barat. Anggaran 2007 telah tersedia, tetapi celakanya tidak terserap. Apa pasal? Terhambat oleh pembebasan tanah. Ini bukan zaman main gusur dan ada banyak LSM yang meraung membuat takut dan gentar pemerintah karena melanggar HAM.

Maka, Jakarta yang sakit itu masih akan lama tetap sakit karena tidak ada solusi yang menyenangkan semua pihak. Mari katakan, ‘Selamat datang banjir Jakarta!’

Media Indonesia, 1 Februari 2008

Luapan Bengawan Solo

Ketidakberdayaan itu terlihat dari kegagalan mengantisipasi bencana hingga amburadulnya penanganan korban.

Banjir yang menerjang wilayah aliran Bengawan Solo sepekan terakhir nyata-nyata membuat pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur tak berkutik. Ketidakberdayaan itu terlihat dari kegagalan mengantisipasi bencana hingga amburadulnya penanganan korban.
Bahwa sungai sepanjang 548 kilometer ini menyimpan kekuatan yang mampu mengubah daratan menjadi serupa lautan, mestinya sudah jamak dipahami. Pada Maret 1966 Kota Solo tenggelam oleh luberan Bengawan. Bahkan tugu jam kota, yang tingginya hampir 3 meter di depan Pasar Gede, hanya terlihat ujungnya. Setelah itu, Bengawan Solo tak mengamuk dahsyat, meskipun luapan yang lebih kecil sering terjadi.
Toh, bahaya sebenarnya tak lenyap sama sekali. Pada 1993 seorang pejabat di Dinas Pekerjaan Umum Jawa Timur mengingatkan bahwa Bengawan Solo beserta anak sungainya masih bisa menimbulkan banjir besar. Sebab, tangkis sungai dan alur aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa ini belum tertata baik.
Menghadapi ancaman bahaya itu, hampir tak ada yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rusaknya lingkungan di sepanjang daerah aliran sungai dibiarkan saja. Begitu pula mendangkalnya sungai karena endapan. Padahal sebuah hasil penelitian menyebutkan telah terjadi sedimentasi sebesar 1,3 juta meter kubik per tahun di hulu sungai. Dan inilah salah satu penyebab meluapnya air.
Celakanya, ketika sekarang seluruh kawasan, dari hulu di Wonogiri, Jawa Tengah, hingga wilayah muara di Gresik, Jawa Timur, telah berubah menjadi lautan berwarna cokelat, pemerintah daerah tertatih-tatih menangani korban. Puluhan ribu orang mengungsi, ribuan lainnya bertahan di atap-atap rumah, tapi jumlah petugas dan peralatan sangat minim.
Di Bojonegoro, Jawa Timur, misalnya, sekurang-kurangnya 117 desa tergenang dan puluhan ribu rumah terendam. Namun, di sana hanya ada empat perahu karet untuk menjemput warga yang terisolasi! Bahkan di Ngawi ada warga yang tewas di atap rumahnya karena kedinginan dan kelaparan.
Akibatnya, sebagian pengungsi terpaksa memakan batang pisang untuk bertahan hidup. Bantuan berupa mi instan juga kurang menolong. Sebab, mereka kesulitan air bersih untuk memasaknya. Sementara itu, puluhan ribu pengungsi lain rawan diserang penyakit karena harus tidur bercampur dengan hewan ternak.
Hingga kemarin jumlah korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah dan Jawa Timur mencapai 102 orang. Sedangkan 21 orang masih dinyatakan hilang. Angka korban bisa jadi akan terus bertambah mengingat kawasan yang terisolasi masih luas.
Pelajaran mahal itu harus ditebus pemerintah dengan sejumlah langkah. Hal yang bisa dilakukan, antara lain, memperbaiki daya dukung lingkungan di sepanjang aliran sungai. Sedimentasi di kawasan hulu harus segera dikurangi.
Sungai yang melintasi 12 kabupaten itu juga belum memiliki sistem peringatan dini jika pintu tanggul waduk Gajah Mungkur dibuka guna mengurangi tekanan air. Pemasangan alat ini mendesak dilakukan bersama penambahan dam-dam di sepanjang aliran sungai.
Koran Tempo,  Kamis, 03 Januari 2008

Ke Mana Saja?

Sejak beberapa tahun terakhir ini, kita sudah mendengar ‘berita kecil’ tentang banjir di sejumlah titik di beberapa kabupaten yang dilintasi Bengawan Solo. Sejumlah rumah tergenang, juga sawah terendam. Rupanya berita itu tak cukup menggerakkan para pihak yang bertanggung jawab untuk mawas diri. Akibatnya, kini, beberapa kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur dilibas banjir. Tak hanya terkena luapan sesaat.

Lebih dari 50 persen wilayah di Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Solo, Sukoharjo, dan Sragen terlimpas banjir. Bengawan Solo adalah sungai terpanjang (540 km) dan terbesar di Jawa. Sudah lebih dari 100 orang yang meninggal akibat banjir tahun ini. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan kejadian tahun ini: Pendangkalan sungai dan waduk, pembabatan hutan, dan curah hujan yang tinggi. Kombinasi tiga hal inilah yang berujung pada musibah.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dan menyeluruh dari pemerintah tentang musibah ini. Kita berharap bahwa pemerintah masih cukup memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada rakyat. Jika hingga kini belum ada penjelasan, kita berpikir positif saja bahwa pemerintah masih sibuk melakukan langkah yang lebih utama, yaitu menolong para korban. Hingga kini, masih ribuan penduduk yang masih menunggu pertolongan untuk segera dievakuasi ke tempat-tempat penampungan sementara. Mereka tinggal di atap-atap rumah atau di tempat-tempat yang tinggi. Mereka terisolasi. Mereka kedinginan, kelaparan, dan butuh bantuan kesehatan segera. Para sukarelawan, donatur, dan juga pemerintah bahu-membahu memberikan pertolongan.

Alhamdulillah, atmosfer untuk mencari siapa yang salah tak lagi mendominasi wacana di awal bencana. Walau bagaimanapun, melakukan langkah penyelamatan adalah yang paling utama. Namun, kita tak boleh kehilangan daya kritis. Karena birokrasi kita belum banyak berubah, mentalitas aparat kita masih sedikit beranjak, dan kehidupan politik kita belum berorientasi ke publik. Terbukti, bencana yang datang silih berganti tak cukup menjadi pelajaran. Sehingga, bencana selalu berulang dan tinggal menunggu giliran dan bentuknya saja.

Untuk itulah, kita harus tetap kuat bersuara lantang dan menggonggongi pemerintah agar tak bebal dan tak lancung. Bencana yang terjadi di sepanjang Bengawan Solo tak boleh dibiarkan untuk ditimpakan pada curah hujan yang tinggi akibat perubahan iklim global. Karena, di sana ada pendangkalan sungai dan waduk serta penggundulan hutan. Artinya, pemerintah tak bekerja dengan baik dan benar. Kita harus menggugat bupati, wali kota, gubernur, dan polisi yang membiarkan hutannya digunduli.

Kita juga harus menggugat Departemen Pekerjaan Umum yang tak segera mengeruk waduk-waduk yang dangkal. Ke mana saja mereka selama ini? Kita menuntut KPK, BPK, BPKP, Polri, dan Kejaksaan Agung untuk segera mengaudit dan menyelidiki penggunaan anggaran di sekitar masalah ini. Jika kita bisa mengambil pelajaran dari kasus ini, insya Allah Indonesia bisa menjadi negara yang maju. Contoh paling nyata ditunjukkan oleh Korea Selatan.

Di saat mereka lepas dari perang saudara, kondisinya jauh lebih miskin dari Indonesia. Namun, titik baliknya bukan pada berakhirnya perang saudara. Banjir yang melanda negeri ginseng itulah yang memantik hati Park Chung-hee dalam membangkitkan rakyat Korea untuk berubah. Dari banjir itu, alam memperlihatkan pada pemimpin Korea tentang kondisi perdesaan dan masyarakatnya yang miskin, terbelakang, tak berpendidikan, dan tak memiliki fasilitas untuk maju.

Maka, melalui saemaul undong, Park memajukan Korea dengan dimulai dari desa. Bukan seperti Indonesia yang dimulai dan berpusat di kota. Kini, Korea jauh lebih maju dari Indonesia. Kita harus bertekad bahwa mengamuknya Bengawan Solo ini menjadi pertanda bagi kebangkitan Indonesia. Tentu harus dimulai dari kejujuran kita tentang penyebab musibah ini. Gejala alam ini akan menjadi tabir pembuka jika kita bisa mengambil hikmahnya. Jika suatu saat kita ditanya ”ke mana saja” selama ini maka kita bisa dengan percaya diri menjawab, ”kami di sini, di tanah ini, Indonesia”.

Republika, Kamis, 03 Januari 2008

Bencana Bengkulu Berpacu dengan Waktu

GEMPA bumi 7,9 pada skala Richter yang mengguncang Bengkulu dan sejumlah kawasan di Sumatra, tidak bisa dimungkiri adalah bencana yang menyedihkan. Ribuan rumah dan bangunan luluh lantak, ribuan pengungsi kehilangan tempat tinggal, dan belasan meninggal.

Akan tetapi di celah-celah kedukaan tersembul juga sedikit kegembiraan. Kita gembira karena pemerintah ternyata menampik bantuan asing. Adalah PBB dan Singapura yang hendak mengulurkan tangan bagi korban bencana kali ini. Tetapi baik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun Wakil Presiden Jusuf Kalla kompak menolak.

Kegembiraan, tentu, didasarkan pada analisis logis. Kalau bantuan asing ditampik, berarti kita sesungguhnya mampu mengatasi bencana yang menimpa anak negeri di negeri sendiri. Bencana demi bencana yang sering sekali memorak-porandakan Indonesia rupanya telah menumbuhkan kemampuan untuk belajar dari malapetaka.

Ini sekaligus mengangkat status kompetensi negara. Dari negara yang serbameminta di kala bencana, menjadi negara yang membatasi belas kasihan negara lain terhadap kenestapaan warganya.

Tetapi peningkatan kompetensi dan tanggung jawab seperti ini masih harus dibuktikan. Tidak sekarang, tetapi setidak-tidaknya satu bulan mendatang.

Dari segi kecepatan informasi, terlihat–walaupun masih gelagapan–telah terjadi perubahan sikap melayani yang baik. Badan Meteorologi dan Geofisika serta sejumlah instansi terkait memberi tahu publik bahwa telah terjadi gempa dan peluang tsunami.

Presiden Yudhoyono memimpin rapat darurat. Obat-obatan dan makanan serta fasilitas tanggap darurat berdatangan ke Bengkulu dan pantai Sumatra dari instansi resmi.

Pemerintah terlihat berupaya tidak mau kalah cepat dari badan-badan swasta atau lembaga swadaya masyarakat dalam menolong warga yang menderita. Dana Rp212 miliar bisa disepakati dengan gampang untuk mengatasi bencana di Bengkulu.

Tetapi pengalaman di masa lalu, terutama dalam kasus penanggulangan bencana gempa di Yogya dan Aceh, mendorong kita untuk khawatir. Khawatir karena pola penanggulangan bencana di Indonesia belum berubah banyak.

Setiap kali ada bencana, entah banjir, entah longsor, entah gempa bumi, pemerintah cukup baik dalam bereaksi melalui bicara dan rapat. Tetapi dalam penerapan, sering tumpang tindih bahkan lamban.

Yogyakarta adalah contoh yang paling kentara untuk dikemukakan. Setelah lebih dari satu tahun gempa menimpa, masih sangat banyak penduduk yang tinggal di tenda-tenda darurat. Aceh juga sama. Tiga tahun setelah tsunami menghajar, masih banyak sekali warga yang kehilangan rumah tinggal, bertahan di penampungan darurat. Padahal dana yang mengalir ke sana sangat banyak dan rehabilitasinya dikerjakan oleh sebuah tim nasional yang besar.

Gempa di Bengkulu kali ini memiliki dimensi dukacita yang agak lain. Gempa terjadi di awal Ramadan. Satu bulan dari sekarang, warga akan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Adalah amat merisaukan jika dalam tempo hanya sebulan seluruh impian tentang kegembiraan Idul Fitri sirna dari mereka yang tertimpa bencana.

Di sinilah tantangan terberat pemerintah. Mampukah dalam satu bulan ke depan, mengembalikan korban ke rumah-rumah mereka seperti sedia kala?

Rasanya tidaklah mudah. Membangun dan merehabilitasi ribuan rumah dalam tempo satu bulan ke depan adalah pekerjaan besar. Selain membutuhkan uang dalam jumlah besar, juga memerlukan komitmen besar, dan koordinasi dalam dimensi besar juga.

Bila gagal, publik akan menilai penolakan bantuan asing tidak disebabkan oleh keyakinan tentang kemampuan sendiri, tetapi simplifikasi terhadap bencana. Ini tentu menyedihkan.

Tetapi, dalam kultur optimisme yang mesti dibangun, tidak elok memang, menilai buruk terhadap sesuatu yang belum terbukti. Baik, kita tunggu….

Media Indonesia, Sabtu, 15 September 2007

Gempa dan Calon Presiden

Hari-hari ini perhatian kita terus tertuju kepada gempa bumi yang mengguncang Bengkulu. Kita terus memikirkan nasib mereka yang menjadi korban.

Kita ikut prihatin karena mereka sedang menjalani puasa. Pikiran kita bukan hanya tertuju kepada bagaimana mereka bisa menjalani puasa dengan baik, tetapi bagaimana kelak mereka akan merayakan Idul Fitri.

Waktu sebulan tidaklah lama. Mereka yang kehilangan tempat tinggal tidaklah mungkin bisa membangun kembali rumahnya dalam waktu secepat itu. Apalagi kalau mereka juga kehilangan sanak keluarga. Penderitaan itu terasa semakin berat.

Sepantasnyalah jika kita semua terpanggil untuk ikut memikirkan mereka yang menjadi korban gempa bumi hari Rabu lalu. Kita harus berupaya agar nasib mereka tidak seperti saudara-saudara yang ada di Aceh atau DI Yogyakarta yang begitu lama menunggu bantuan.

Kadang kita merasa kecil hati karena sepertinya perasaan ini tidak merata di antara kita. Para elite sepertinya asyik dengan dirinya sendiri untuk mencalonkan menjadi presiden pada Pemilihan Umum 2009.

Semula kita menduga pencalonan presiden untuk Pemilihan Umum 2009 baru akan terjadi tahun depan. Ternyata pengusulan nama sudah muncul lebih awal.

Kita bisa memahami apabila partai-partai politik mengincar kekuasaan. Itulah memang nature dari pendirian parpol, yakni memegang tampuk kekuasaan.

Hanya saja, bagi kita hal itu tetap menimbulkan kekhawatiran. Mengapa? Karena kita membutuhkan suasana yang tenang untuk menggerakkan roda ekonomi yang mulai berputar lancar. Kita perlu berkonsentrasi penuh untuk memperbaiki perikehidupan rakyat.

Kondisi kita memang agak aneh. Terhadap hal-hal yang positif, reaksi begitu lambat. Sebaliknya terhadap berita yang negatif, reaksi selalu cepat. Terutama pihak-pihak asing selalu penuh prasangka setiap kali ada sesuatu yang mereka nilai tidak biasa. Sepuluh tahun demokrasi belum juga membuat orang percaya bahwa kita akan bisa membangun demokrasi yang baik.

Satu-satunya cara untuk menjawab kekhawatiran itu tidak bisa lain kecuali kita menunjukkan cara berpolitik yang dewasa. Ukurannya, dengan tidak hanya mencari kesalahan pihak lain, sekadar ramai berwacana, tetapi berupaya untuk membuat demokrasi itu bekerja, demokrasi itu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Itulah yang kita ingin ingatkan dalam ingar-bingar pencalonan presiden sekarang ini. Munculnya nama-nama capres harus diikuti dengan persiapan untuk merumuskan program kerja yang jelas, yang mampu meyakinkan rakyat bahwa yang dikejar bukan kekuasaan semata, tetapi kekuasaan yang melayani rakyat.

Kita tentu berharap semua itu bukanlah hanya khayalan. Kondisi besar rakyat yang masih dilingkupi kemiskinan, pengangguran, dan juga berbagai bencana alam menyadarkan para calon pemimpin untuk mau melengkapi orientasinya dengan tidak sekadar mengejar kekuasaan, tetapi menyatukan kekuatan bangsa untuk bersama membangun kembali negeri tercinta ini.

Kompas, 15 September 2007

Bencana Itu Datang lagi

Bencana selalu datang secara tiba-tiba. Tanpa permisi. Apalagi gempa. Sampai saat ini belum ada satu teknologi pun yang bisa memprediksi datangnya gempa. Kita hanya tahu bahwa sebagian besar wilayah nusantara ini rawan gempa, tapi kapan gempa itu datang, tak ada yang tahu.

Gempa bumi kembali datang meluluhlantakkan sebagian dari negeri kita. Setelah sebelumnya Aceh, kemudian Yogyakarta, disusul Pangandaran, kemudian Padang, dan tempat-tempat lain, kini giliran Bengkulu digoyang gempa dengan kekuatan 7,9 SR. Bagi Bengkulu, ini lebih merupakan serangkaian gempa yang tak henti-hentinya terjadi.

Setidaknya lima orang tewas, ratusan luka-luka, puluhan gedung dan rumah roboh, ribuan orang mengungsi, termasuk pasien-pasien rumah sakit. Bahkan Bupati Muko-Muko, Bengkulu Utara, pun ikut mengungsi. Mereka luar biasa panik terlebih karena Bengkulu sempat digetarkan gempa besar serupa pada Juni 2000 silam yang menewaskan banyak warga.

Indonesia yang menjadi bagian dari ring of fire (cincin api) merupakan daerah yang rawan bencana, terutama gempa bumi dan letusan gunung berapi. Kita tidak bisa mengelak dari kondisi tersebut. Posisi geologis Indonesia sebagai daerah bencana itu boleh dikata sudah takdir.

Selalu akan ada gempa di bumi kita tercinta ini. Sepanjang wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, terus naik ke Maluku, Sulawesi, itu merupakan daerah yang setiap saat terjadi gempa bumi. Bisa gempa besar yang menimbulkan korban, bisa hanya getaran kecil yang kita tidak merasakan.

Melihat posisi geografis dan geologis seperti itu, mau tidak mau kita yang hidup di daerah gempa dan gunung berapi ini menyesuaikan diri. Kita tidak bisa memaksa cincin api itu pergi dari wilayah Indonesia. Juga tidak bisa memindahkan Indonesia ke tempat yang aman. Tapi, kita yang harus tahu diri dan menyesuaikan terhadap kondisi tersebut.

Pemerintah harus secara terus-menerus mensosialisasikan kondisi ini terhadap masyarakat. Pemerintah perlu melatih masyarakat agar selalu bersiap diri menghadapi gempa yang datang sewaktu-waktu. Bisa dengan latihan menghadapi bencana secara berkala, maupun selalu menyiapkan logistik yang mencukupi.

Dan masyarakat pun harus selalu siap terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Langkah-langkah antisipasi mau tidak mau harus dilakukan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Misalnya dalam mendirikan bangunan, setidaknya harus memperhitungkan kemungkinan adanya gempa.

Langkah antisipasi diperlukan untuk mencegah adanya korban yang lebih besar. Kita tidak bisa mencegah datangnya gempa maupun letusan gunung api, tapi kita bisa mencegah timbulnya korban harta dan nyawa yang lebih besar. Antisipasi merupakan bagian dari langkah kita selain berdoa agar dijauhkan dari bencana.

Bencana ini merupakan ujian bagi kita semua. Terlebih bencana itu datang bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Semuanya adalah skenario Allah SWT. Bencana pun merupakan sunatullah, merupakan hukum Allah di muka bumi ini. Dan tentu saja bencana ini merupakan peringatan agar kita selalu mendekatkan diri pada Dia.

Republika, Jumat, 14 September 2007


Blog Stats

  • 803,119 hits
November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.