Archive for the 'Energi' Category

Konversi dan Hemat Energi

Harga minyak dunia dalam bulan-bulan terakhir ini terus menciptakan rekor. Sampai pertengahan pekan ini, harga minyak melejit mencapai 82 dolar per barel, padahal Januari silam masih pada posisi 53 dolar per barel.

Kenaikan harga minyak semestinya menggembirakan Indonesia, karena kita negara penghasil minyak. Tapi ternyata itu tidak berlaku. Banyak kalkulasi yang kemudian menjadikan dasar pertanyaan: Apakah kita beruntung atau justru rugi dengan adanya kenaikan harga minyak yang melambung itu.

Bahwa pendapatan dari minyak naik, itu betul. Dengan kondisi harga minyak seperti itu, maka pendapatan di sini akan naik sekitar Rp 17 triliun. Belum dari gas yang harganya juga ikut terkerek manakala harga minyak naik, di mana dari gas ini bisa diperoleh tambahan Rp 15 triliun.

Tapi jangan lupa bahwa setiap barel kenaikan harga, subsidi terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi terhadap listrik juga naik. Dalam APBN 2007, subsidi BBM mencapai Rp 54,1 triliun dan subsidi listrik Rp 32,4 triliun. Dengan kenaikan ini, subsidi BBM diperkirakan akan meningkat menjadi Rp 70 triliun, dan listrik Rp 40 triliun.

Kenaikan harga minyak di satu sisi menjadi windfall profit, tetapi di sisi lain juga menjadi beban, karena subsidi yang harus ditanggung menjadi lebih besar. Kita hanya impas saja dengan kenaikan harga tersebut, bahkan mungkin menjadi tekor manakala penggunaan minyak dalam negeri lebih tinggi dibanding dengan kapasitas produksi yang 950 ribu barel per hari.

Kita bisa menikmati kenaikan harga minyak dunia jika konsumsi minyak dalam negeri bisa berkurang. Bangsa kita termasuk boros dalam menggunakan energi. Artinya produktivitas yang dihasilkan orang Indonesia tidak seimbang dengan konsumsi energi yang dipakai.

Langkah-langkah penghematan ini menjadi mutlak. Dimulai dari yang paling dasar adalah konversi minyak tanah ke gas. Kegagalan konversi selama ini harus dievaluasi menyeluruh untuk kemudian dibuat langkah baru yang lebih strategis sehingga bisa diterima masyarakat. Konversi ini bisa menghemat Rp 22 triliun per tahun.

Dalam skala yang lebih besar adalah konversi BBM ke biofuel. Jika itu segera dilakukan, maka konsumsi minyak akan menurun signifikan sehingga akan terjadi pula penghematan BBM. PLN sebagai perusahaan listrik juga perlu diversifikasi energi yakni ke sumber energi lain seperti batu bara, panas bumi, dan nuklir.

Penghematan juga bisa dilakukan dengan pembenahan transportasi, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Kemacetan sepanjang puluhan kilometer yang terjadi tiap hari jelas memboroskan BBM. Untuk itulah diperlukan angkutan umum yang massal dan nyaman. Busway menjadi salah satu angkutan yang representatif. Karena itu tak perlu grogi menghadapi orang-orang kaya di Pondok Indah yang tidak setuju busway.

Pada intinya, kenaikan harga minyak yang tinggi saat ini justru membuat repot. Dari sini kita harus belajar bahwa konversi minyak ke sumber energi lain sangat penting. Begitu juga penghematan pemakaian energi juga penting, sehingga kita tidak menjadi negera yang boros energi.

Jika kita bisa berhemat energi, jika kita bisa melakukan konversi dengan baik, maka ketika harga minyak terus melejit, kita tidak repot lagi, tapi justru memperoleh rezeki nomplok. Rezeki nomplok itulah yang nantinya bisa digunakan untuk program-program kesejahteraan rakyat.

Republika, Jumat, 21 September 2007


Blog Stats

  • 791,644 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.