Archive for the 'Flu Burung' Category

Lengah terhadap Flu Burung

FLU burung kembali merenggut nyawa anak bangsa ini. Yang paling mutakhir terjadi akhir pekan lalu, dua penderita flu burung yang dirawat di Rumah Sakit Persahabatan (Jakarta) akhirnya meninggal setelah gagal napas.

Dengan tambahan dua korban meninggal itu, maka dari 79 orang di seluruh Indonesia yang positif flu burung, sebanyak 61 orang meninggal. Artinya, tidak tanggung-tanggung, 77% tidak dapat diselamatkan.

Angka itu merupakan statistik resmi yang disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan dr I Nyoman Kandun dalam jumpa pers, Sabtu (13/1). Dalam kenyataan, bisa jadi jumlah korban lebih banyak, mengingat masih kuatnya kecenderungan menutup-nutupi hal yang negatif di jajaran birokrasi.

Yang pasti, kini bertambah lagi kasus cluster. Yaitu, kasus orang dalam satu keluarga diserang flu burung dan meninggal dunia.

Akan tetapi, sekalipun kasus cluster bertambah, pemerintah tetap berpandangan bahwa belum ada bukti virus flu burung dapat menular dari manusia ke manusia.

Pandangan yang benar, namun hendaknya jangan meninabobokan atau menganggap remeh. Sebab, virus itu bisa bermutasi, sehingga akhirnya dapat menular dari manusia ke manusia.

Bahkan, pemerintah mestinya lebih meningkatkan lagi kewaspadaan, sebab bukan tidak mungkin mutasi virus flu burung itu hingga bisa menular dari manusia ke manusia justru terjadi di Indonesia. Mengapa? Alasannya sangat sederhana, yaitu mengingat kenyataan negara lain yang terlebih dahulu terkena flu burung praktis sukses mengatasinya. Misalnya, nyaris tidak terdengar lagi ada warga China yang meninggal karena flu burung.

Sebaliknya, korban flu burung di Indonesia terus meningkat. Penyakit ini terus bermigrasi, bahkan semakin mendekati Jakarta (terakhir terjadi di Bekasi dan Tangerang). Dan yang paling penting mesti diwaspadai satu cluster lagi terjadi.

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat tidak boleh anggap enteng. Keduanya harus bersama-sama mengambil langkah-langkah yang lebih progresif. Misalnya, memperluas radius pemberantasan hingga sejauh 5 kilometer dari tempat ditemukannya korban positif virus flu burung. Dalam radius itu, semua burung dan ayam harus dimusnahkan secara serentak.

Untuk itu jelas pemerintah memerlukan anggaran yang besar untuk mengganti rugi ayam dan burung milik warga. Sebaliknya, di sinilah pula diperlukan kesadaran yang tinggi dari warga untuk merelakan ayam dan burungnya dimusnahkan. Bahkan mengingat bahayanya bagi sesama anak bangsa, termasuk diri sendiri, mestinya merelakannya tanpa ganti rugi.

Adalah fakta bahwa jumlah korban mati akibat flu burung terus meningkat. Namun sebaliknya, adalah juga fakta bahwa masyarakat dan pemerintah bisa lengah. Lengah, karena flu burung berkelakuan seperti tidak ‘serius’. Ia sebentar datang, sebentar pergi.

Suatu hari mendadak jatuh korban di Tanah Karo (Sumatra Utara), lalu menghilang, dan seperti mendadak muncul kembali di Bekasi dan Tangerang.

Kewaspadaan anak bangsa ini pun terpengaruh, mengikuti irama serangan flu burung itu. Sebentar waspada ketika terjadi korban, namun kemudian lebih banyak lengah sampai dikejutkan lagi oleh kenyataan ada lagi yang mati karena flu burung.

Sikap lengah itu suatu hari bisa sangat berbahaya. Yaitu, terlambat menyadari bahwa sang virus telah mengalami mutasi sehingga bisa menular dari manusia ke manusia. Hal ini jelas sangat mengerikan, sehingga harus dicegah sedini mungkin.

Media Indonesia, Senin, 15 Januari 2007

Ada Asap, Ada Flu Burung

Kompas, Rabu, 04 Oktober 2006

Adalah sebuah kenyataan bahwa ada dua masalah yang terus menuntut perhatian, yakni soal kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap dan flu burung.

Mengapa kita mempersoalkan kedua hal itu? Sebab, baik masalah kebakaran hutan maupun kasus flu burung bukan barang baru. Sejak beberapa lama kita mengingatkan agar kedua hal itu mendapat perhatian khusus karena pengaruhnya langsung terhadap kehidupan masyarakat banyak.

Warga yang tinggal di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan berbulan-bulan harus hidup di tengah kepungan asap karena pembakaran hutan. Selain tidak bisa beraktivitas secara bebas, mereka juga sangat terganggu. Bahkan, seperti terjadi di Kalimantan Tengah, sepasang suami istri yang sedang mengendarai motor menabrak bagian belakang truk karena jarak pandang yang terganggu asap sehingga sang suami meninggal.

Gugatan kita, mengapa meski berulang-ulang diingatkan, persoalannya tidak kunjung tertangani. Bahkan tidak hanya itu, keadaannya malah semakin buruk. Jumlah penerbangan yang harus dibatalkan akibat asap semakin banyak, sementara korban penderita flu burung dan bahkan yang meninggal terus meningkat.

Pertanyaannya, apakah kita mengerjakan tugas yang seharusnya kita lakukan itu? Ataukah kita tidak cukup peka dan cukup peduli untuk mengambil tindakan?

Tentunya terlalu berlebihan kalau dikatakan kita tidak melakukan apa-apa. Kita percaya bahwa langkah tindakan sudah diambil. Hanya saja, efektivitasnya dirasakan kurang dan bahkan tidak ada.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Kita menangkap adanya masalah kelemahan koordinasi. Tidak adanya kesatuan pemikiran dan tindakan membuat kerja keras yang sudah dilakukan menjadi tidak efektif.

Kita memang sangat lemah dalam hal koordinasi itu. Meski telah dibentuk yang namanya tim nasional, komisi nasional, atau apa pun namanya, dalam praktiknya ketika harus diaplikasikan di lapangan, egoisme sektoral, egoisme departemental itu begitu kuatnya sehingga koordinasi selalu menghadapi hambatan.

Apalagi kemudian kita dihadapkan kepada kepemimpinan, leadership, yang kurang kuat. Penunjukan pejabat yang tidak didasarkan atas pertimbangan kompetensi, kemampuan terbaik membuat yang namanya ketua tim, hanya menjadi macan kertas yang tidak berdaya.

Tentunya yang sangat dibutuhkan sekarang adalah efektivitas. Kebakaran hutan hanya bisa dikendalikan apabila ada kepemimpinan yang efektif dan juga tegas sehingga tidak mengenal kompromi. Yang terpenting, langkah tindakan penyelamatan warga dan pengendalian kebakaran hutan bisa terlaksana.

Hal yang sama berlaku dalam pengendalian penyebaran penyakit flu burung. Bagaimana mungkin dengan jumlah penderita yang terus meningkat, apa yang dilakukan hanya terbatas pada sosialisasi di televisi. Yang kita butuhkan adalah tindakan nyata dan terorkestrasi untuk bisa mengendalikan penyebaran penyakit itu.

Sepanjang cara kerja kita masih seperti ini, jangan heran masalah asap dan flu burung akan terus ada.


Blog Stats

  • 791,657 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.