Archive for the 'GNB' Category

Gerakan Non Blok

Tajuk Rencana Pikiran Rakyat Selasa, 19 September 2006

Melihat begitu semangatnya para pemimpin negara-negara GNB mengecam AS, sesungguhnya secara substansial bukan lagi Gerakan Non Blok, melainkan gerakan mengeblok AS.

BERTEMUNYA 118 pemimpin negara-negara yang tergabung dalam Gerakan Non Blok (GNB) di Havana, Kuba, Jumat dan Sabtu (15-16/9), bagaikan memainkan sebuah musik orkestra. Suara mereka padu dan harmoni menyuarakan sistem politik dunia yang hegemonik dan menggunakan ekonomi sebagai kekuatan penekan. Maka, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) GNB ini pun berubah menjadi “pesta pora” mengecam Amerika Serikat.

Para pemimpin yang selama ini paling keras memberikan perlawanan kepada AS menjadi bintang, semakin keras mereka mengecam AS semakin bersinar pula bintangnya. Presiden Venezuela Hugo Chavez dapat dicatat sebagai bintang paling bersinar dalam KTT GNB kali ini. Layaknya bintang, tokoh yang sangat energik ini juga menjadi satu-satunya kepala negara yang menyampaikan pidatonya tanpa membaca teks sehingga menarik perhatian semua peserta KTT.

Chavez mendapatkan dua kali kesempatan menyampaikan pidatonya secara spontan. Pertama dalam acara pembukaan sidang yang dibuka Pelaksana Presiden Kuba Raul Castro, karena Presiden Fidel Castro sendiri masih sakit, kedua dilakukan selama 24 menit Sabtu, (16/9). Inti pidatonya, Chavez menyerukan bahwa KTT GNB di Kuba ini harus menjadi awal berubahnya peta kekuatan dunia. Caranya, para ilmuwan, ekonom, dan pakar di segala bidang harus bersatu membuat langkah mengatasi berbagai ketinggalan yang dialami negara-negara miskin.

Bintang kedua yang paling cemerlang dalam pertemuan negara-negara GNB adalah Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Kecemerlangannya dipantulkan dari keberaniannya menentang upaya-upaya AS dan Uni Eropa menghentikan pengembangan nuklir miliknya. Meskipun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sempat menyegel instalasi nuklirnya untuk melakukan penyelidikan, Ahmadinejad kembali membuka segel tersebut dan meneruskan projek nuklir tujuan damai tersebut.

Bagi Iran, mengembangkan nuklir untuk tujuan damai adalah hak setiap negara, termasuk Iran. Ahmadinejad justru balik mempersoalkan kepemilikan nuklir AS yang digunakan bukan untuk tujuan damai. AS bahkan memutarbalikkan Dewan Keamanan PBB demi kepentingan politiknya. “Mengapa rakyat di seluruh dunia harus terancam di bawah nuklir AS?” tandas Ahmadinejad.

Bintang ketiga adalah tuan rumah Presiden Fidel Castro sendiri. Ia adalah bintang tua paling tulen sebagai penentang AS. Karena sakit, ia hanya menerima Presiden Venezuela Hugo Chavez dan menerimanya bagaikan anaknya yang lama baru pulang. Kecemerlangan Fidel Castro dapat diwakilkan oleh adiknya Raul Castro yang tidak garang mengecam AS. Ia menyatakan, perang yang dikorbarkan AS justru membuat dunia semakin berbahaya. Apalagi Paman Sam membelanjakan satu triliun dolar AS setahun untuk senjata dan tentaranya.

Melihat begitu semangatnya para pemimpin negara-negara GNB mengecam AS, sesungguhnya secara substansial bukan lagi gerakan non blok, melainkan gerakan mengeblok AS. Tapi apa pun namanya, yang paling penting adalah substansinya bahwa ketidakadilan dunia yang semakin timpang dan hegemonik harus segera diakhiri.***

Iklan

Reposisi GNB: Menentang Ketidakadilan

Tajuk Rencana Suara Merdeka Selasa, 19 September 2006

– Sikap tegas untuk mengoreksi hegemoni Amerika Serikat dalam tatanan politik dunia seperti luapan dari akumulasi kekecewaan masyarakat internasional. Warna itulah yang mendominasi Konferensi Gerakan Nonblok (GNB) di Havana, Kuba. Mulai dari keluhan mengenai bias perang melawan terorisme yang dilancarkan oleh AS bersama sekutunya, kondisi yang dihadapi rakyat Irak, campur tangan kedaulatan di banyak negara, hingga isu nuklir Iran. Para tokoh seperti Presiden Venezuela Hugo Chavez, Presiden Bolivia Evo Morales, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, serta Raul Castro yang mewakili kakaknya, Fidel Castro, mewakili barisan penentang ketidakadilan.

– Di sinilah kita menangkap relevansi GNB sekarang dalam positioning pasca-Perang Dingin, setelah runtuhnya Uni Soviet. Negara-negara di kutub netral pertarungan ideologi itu kini berada di barisan yang sama dalam menentang ketidakadilan tatanan politik dunia. Ketika Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) nyaris kehilangan gigi karena tindakan-tindakan Amerika yang tanpa mandat, siapa lagi yang harus berperan menjadi pembela negara-negara yang menjadi sasaran AS dan sekutunya? GNB jelas tidak dapat dikatakan kehilangan arah, jika berani dan konsisten mengambil posisi untuk meluruskan semua bentuk hegemoni negara adidaya tersebut. Justru di sini peran strategisnya.

– Para wakil dari 100 negara berkembang dalam pertemuan di Havana itu menilai, pendudukan AS di Irak dan invasi Israel ke Lebanon termasuk dalam praktik terorisme. Keluhan tentang standar ganda juga muncul, yakni bagaimana Amerika dan Israel bisa memutuskan siapa saja yang dimaksud sebagai teroris dunia, tetapi tidak menghukum aksi agresi yang mereka lakukan sendiri. Para wakil dalam GNB juga menolak keras penggunaan istilah “poros kejahatan” oleh negara tertentu untuk menjustifikasi serangan ke negara lain, dengan dalih memerangi terorisme. Disoroti pula, terorisme tidak akan berakhir, jika belum ada solusi yang mengakhiri konflik Palestina-Israel.

– Menarik sekali sikap Presiden Chavez di forum tersebut, “Saya tidak akan beranjak dari sini sebelum ada dukungan tetap bagi Iran”. Dia menggalang dukungan bagi pengembangan nuklir Iran, dengan tujuan kemaslahatan sosial, yang selama ini dituding oleh Washington sebagai proyek senjata pemusnah massal. Dukungan para pemimpin anti-AS, seperti Chavez, memang sudah dapat diperkirakan sebagai nuansa yang mewakili sikap negara-negara Amerika Latin. Sikap itu hakikatnya mewakili kehendak untuk mengoreksi total kebijakan-kebijakan intervensi Amerika, yang semuanya terkait dengan berbagai isu, mulai dari ideologi, energi nuklir, hingga politik minyak.

– Kalau pada masa silam GNB hadir dengan positioning di tengah dua blok kapitalis-komunis, peran tersebut harus bergeser seiring dengan tuntutan konstelasi tatanan politik dunia yang sangat timpang. Kegelisahan mengenai hegemoni Amerika dan sekutunya -terutama Israel di Timur Tengah- makin menjadi-jadi. Konflik Palestina-Israel, yang disebut-sebut menyuburkan terorisme sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, juga berada dalam kontrol kepentingan AS. Tetapi, sejauh mana kekuatan negara-negara GNB dalam memainkan peran yang tak hanya bersifat jargon menuju obsesi menata kembali keadilan hubungan global yang bermartabat?

– Perkara apakah Washington beriktikad untuk mengoreksi kebijakan-kebijakannya yang hanya menerbitkan penderitaan bagi rakyat negara lain, atau mengutamakan agenda-agenda politik-ekonominya, tentu bergantung pula kepada kebersamaan sikap negara di luar lingkaran mereka. Keterkaitan politik-ekonomi dan keamanan dalam konteks global di bawah sayap hegemoni Amerika sering menyebabkan ketidakkompakan, bahkan di kalangan negara Arab di Timur Tengah, yang menjadi target utama bagi pemenuhan cadangan minyak AS. Faktor lainnya, latar belakang ideologis juga tidak bisa dipungkiri merupakan bagian pemicu sikap AS terhadap negara-negara lain.

Relevansi GNB dan Kemiskinan

Tajuk Suara Pembaruan, 18 September 2006

Gerakan Non Blok (GNB) yang dibentuk secara resmi pada September 1961 di Beograde, Yugoslavia, oleh 25 negara, bertujuan mendorong tercapainya perdamaian dan keamanan dunia, membantu kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah, menentang kolonialisme dan imperialisme dalam segala bentuknya.

Gerakan ini kemudian mencetuskan prinsip politik bersama yakni politik berdasarkan koeksistensi damai, bebas blok, tidak menjadi anggota persekutuan militer dan bercita-cita melenyapkan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya. Prinsip politik GNB sesungguhnya bertujuan agar negara- negara berkembang terlepas dari kungkungan kekuatan dua blok utama saat itu yakni Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet.

Pada konferensi di Kairo, Mesir, tahun 1964 yang dihadiri 47 negara anggota, GNB sepakat mengecam kolonialisme oleh Barat. Namun dalam perjalanannya, GNB menyaksikan dan tanpa dapat mengakhiri berbagai konflik yang justru berkecamuk di sejumlah negara anggotanya sendiri, termasuk serangan AS ke Irak pada 2003, beberapa saat setelah KTT GNB di Malaysia.

Tahun ini merupakan pertemuan KTT GNB ke-14 di Havana, Kuba, dihadiri 118 negara anggota. KTT menghasilkan 92 halaman resolusi yang intinya membahas masa depan GNB. Sejumlah isu hangat yang menyangkut beberapa anggotanya, seperti krisis nuklir Iran, Israel – Lebanon, persoalan ekonomi, perjuangan melawan rasisme dan diskriminasi, diangkat menjadi agenda KTT.

KTT sepakat mengecam berbagai bentuk terorisme. GNB juga sepakat bahwa demokrasi adalah nilai universal yang harus dihormati, tapi dengan syarat tidak ada satu negara atau kawasan pun yang bisa memaksakan nilai tersebut. Satu hal penting dalam KTT adalah seruan segera mereformasi Dewan Keamanan (DK) PBB. Negara-negara anggota, terutama Kuba, Venezuela dan Iran, mengecam AS atas pengaruhnya terhadap PBB dan atas kebijakan luar negerinya.

Sekjen PBB, Kofi Annan sepakat perlunya mereformasi DK PBB. Annan mengatakan, DK PBB harus responsif terhadap negara-negara yang lebih lemah. Pernyataan Annan mengacu pada kekuasaan tak terbatas lima negara anggota tetap DK PBB yang memiliki hak veto yang menyebabkan erosi kewibawaan dan legitimasi PBB.

Annan juga menyinggung perubahan positif di negara-negara berkembang, di mana semakin besarnya pengaruh GNB berarti para pemimpin gerakan itu harus mau memikul tanggung jawab yang lebih besar secara internasional dan melindungi warga mereka di negara masing-masing. Karena sebagian besar negara anggota GNB adalah negara berkembang yang tingkat ekonominya masih rendah, maka tanggung jawab yang dimaksudkan Annan tidak lain bagaimana mengurangi tingkat kemiskinan, mengakhiri konflik dan kekerasan di dalam negeri anggota GNB.

Dalam kaitan ini, benarlah pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam KTT GNB bahwa tidak ada perdamaian dan keamanan yang bisa terjamin dalam jangka panjang, jika 80 persen manusia di bumi dikuasai oleh dua persen pemegang kekayaan. Dengan pernyataan ini, Presiden mengangkat realitas kemiskinan dunia dewasa ini akibat dikuasainya perekonomian dunia oleh korporat raksasa dunia. Dalam konteks itu, pertanyaan tentang relevansi GNB sangat mendesak untuk dijawab. Kembali ke semangat awal pembentukan GNB, khususnya ke prinsip politiknya, maka bisa dipastikan GNB tidak relevan lagi untuk saat ini. Di abad ke-21, GNB sudah kehilangan momentumnya di bidang politik, karena sejak runtuhnya Soviet sudah pasti tidak ada lagi blok Barat dan Timur.

Arah perjuangan GNB harus diubah dari prinsip politik menjadi sebuah kekuatan melawan dominasi ekonomi negara-negara maju. GNB perlu memfokuskan diri pada program kerja sama ekonomi mengingat salah satu ciri dari negara anggota GNB adalah bergantung pada negara maju. Ini yang perlu diubah. GNB tidak akan bisa berunjuk gigi di tingkat internasional, jika perekonomian negara-negara anggotanya morat-marit.

Jualan isu politik sebagai agenda tunggal GNB bukan saatnya lagi. GNB sulit menjadi penyeimbang dominasi negara maju, jika perekonomian sebagian besar negara-negara anggotanya morat-marit.[]

Kemiskinan dan Kekerasan

Tajuk Kompas, Senin, 18 September 2006

Tak akan ada perdamaian dan keamanan yang bisa terjamin dalam jangka panjang jika 80 persen manusia di Bumi dikuasai oleh 2 persen pemegang kekayaan.

Pernyataan itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di KTT Nonblok di Havana, Kuba. Presiden memperingatkan, kekerasan akibat kemiskinan bisa menyebar ke seluruh dunia.

Dengan pernyataan itu, Presiden mengangkat realitas kemiskinan dunia dewasa ini dan mengacu pada yang di antaranya dikatakan oleh David C Korten, mengacu pada dikuasainya ekonomi dunia oleh korporat alias perusahaan-perusahaan raksasa dunia serta kerajaan finansial. Kecuali aktual dan relevan dengan kondisi serta tantangan dunia dewasa ini, peringatan itu juga sejalan dengan arus pemikiran besar yang kini sedang bangkit serta bergaung di mana-mana. Yakni pemikiran, gerakan, bahkan langkah konkret untuk mengakhiri kemiskinan dengan pandangan, sikap, dan langkah yang dikenal sebagai the post-corporate world.

Dalam gerakan dan upaya baru itu, negara dengan pemerintahnya tetap harus berperan sentral serta membangun sosok hukum, peraturan, dan kebijakan publik yang memihak kepentingan rakyat banyak. Namun, peran negara dan pemerintah saja tidak memadai. Harus ikut serta dan disertakan peran dan partisipasi potensi dan kekuatan-kekuatan masyarakat, termasuk yang amat strategis adalah peran dan partisipasi dunia usaha.

Pergeseran pemikiran itu juga berakibat pada pergeseran gerakan kebangkitan dan pembaruan politik. Gerakan politik berikut hak-hak dasar politik serta hak-hak asasi harus sekaligus hak sosial, ekonomi, dan kultural. Pendekatan terhadap esensi pemahaman hak-hak dasar yang kecuali politik juga menyangkut hak-hak sosial, ekonomi, dan kultural mempunyai konsekuensi dan implikasi dalam pendekatannya. Secara simplistis perbedaan itu ada yang merumuskan, jika hak-hak dasar politik bertitik berat pada bicara, hak-hak sosial, ekonomi, dan budaya harus mengandalkan perbuatan.

Dalam kaitan itu, KTT Nonblok agar memasukkan pendapat Presiden Indonesia itu dalam keputusan dan kemudian ikut serta bekerja sama dalam sinergi melaksanakan kebijakan dan pendekatan baru itu.

Relevansi pernyataan itu berlaku aktual bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Maka, kita kentalkan pendapat itu dengan judul opini ini: Kemiskinan di dunia dan kemiskinan di negeri sendiri. Pandangan itu diperkuat oleh transisi demokrasi yang sedang kita lalui, demokrasi mengacu dan identik dengan nonkekerasan. Tetapi, sejauh ini pengalaman kita menunjukkan demokrasi yang bersisi substansial kebebasan memberi kesan disertai justru maraknya bukan saja unjuk rasa, protes, namun sekaligus bentrokan dan kekerasan. Jika kita cermati beragam kasusnya, yang terbanyak bersumber pada kemiskinan dan ketidakadilan. Di antaranya berupa penggusuran yang membangkitkan protes, unjuk rasa, bentrokan, dan kekerasan.

Kena pula catatan, untuk hak dasar politik modal utamanya bicara. Untuk hak dasar sosial, ekonomi, dan budaya, diperlukan aksi, perbuatan alias kerja nyata.

Soal Relevansi Gerakan Nonblok

Tajuk Rencana Kompas, Sabtu, 16 September 2006

Wacana tentang relevansi Gerakan Nonblok muncul lagi menjelang pertemuan puncak ke-14 organisasi yang beranggotakan 118 negara berkembang itu.

Masih relevankah Gerakan Nonblok? Itulah antara lain pertanyaan mendasar menjelang pertemuan puncak GNB, yang dibuka hari Jumat 15 September di Havana, Kuba, atau hari Sabtu 16 September waktu Indonesia. KTT antara lain dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pertanyaan itu lebih terkait dengan latar belakang pembentukan GNB tahun 1961 pada saat memuncak Perang Dingin. GNB lahir untuk mengimbangi pertarungan ideologis antara Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.

Ketika Perang Dingin memuncak, peran dan fungsi GNB mencegah perang nuklir antara Blok Barat dan Blok Timur. Setelah Perang Dingin berakhir, peran GNB surut, dan keberadaannya dianggap sudah selesai pula.

Namun, dalam perkembangannya, setelah era Perang Dingin semakin jauh ditinggalkan, GNB justru tetap bertahan. Memang perlu diakui, muncul banyak kritik terhadap peran dan fungsi GNB, yang dinilai kurang membantu menyelesaikan berbagai persoalan di kalangan anggotanya maupun antaranggotanya.

Sebagai organisasi yang ditopang oleh 118 negara anggota negara berkembang, GNB sesungguhnya dapat meningkatkan kiprahnya di tengah dunia yang sedang berubah. Apalagi GNB lahir dari keinginan dan semangat mencegah perang dan memperkokoh perdamaian.

Setelah Perang Dingin berakhir, perang dan konflik bersenjata masih muncul di mana-mana, terutama di kalangan anggota GNB sendiri. Harapan akan terbentuknya dunia yang lebih aman dan damai ternyata masih sulit diwujudkan.

Dunia masih terus dilanda kekacauan bukan hanya oleh konflik bersenjata dan gelombang kekerasan yang merebak di mana-mana, tetapi juga oleh ketimpangan sosial ekonomi, kemiskinan, dan krisis ekologi.

Jika ketegangan di era Perang Dingin lebih dipicu oleh pertarungan ideologis antara kapitalisme dan komunisme, saat ini dunia dilanda oleh masalah ketimpangan ekonomi dan tatanan dunia yang tidak adil.

Tantangan bagi setiap anggota GNB tentu saja bagaimana berbenah diri dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya masing-masing agar dapat berperan lebih aktif dalam mengurangi ketidakadilan dan ketimpangan yang melanda dunia.

Melalui KTT Havana, GNB kembali diberi kesempatan dan diuji kemampuannya untuk memberikan kontribusi bagi perdamaian dan keadilan dunia.


Blog Stats

  • 796,871 hits
September 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.