Archive for the 'HIV' Category

Ulama dan Kualitas Hidup Umat

Pulau Bali mencatat sejarah, khususnya bagi kepentingan umat Islam di 14 negara se-Asia Pasifik. Pada Kamis (14/2) lalu, pemimpin Muslim dari 14 negara di kawasan itu mengeluarkan Deklarasi Sanur yang berisi 13 poin, di penutup acara International Confrence of Muslim Leader to Support Population and Development.

Melalui Deklarasi Sanur tersebut disepakati agar para pemimpin umat (ulama) turut berpartisipasi aktif dalam mengawal dan mendorong kepedulian umat terhadap program kependudukan dan pembangunan.

Kepedulian para pemimpin umat Muslim dari berbagai negara tersebut patut disambut positif. Hal itu mengingat masalah kependudukan dan pembangunan sejauh ini jarang dilihat sebagai urusan yang penting untuk diselesaikan dan melibatkan peran para ulama.

Sejak merebaknya masalah terorisme global, isu-isu yang menghadapkan umat Islam dengan masalah terorisme lebih banyak menyita perhatian. Baik dalam skala nasional maupun internasional. Berbagai konferensi internasional yang membahas soal upaya mencegah penyebarluasan terorisme seakan menjadi agenda utama umat Islam di seantero dunia. Walaupun hal tersebut juga penting, namun apa yang dibahas dalam pertemuan di Sanur, Bali, tersebut dapat dianggap sebagai hal yang lebih penting dan mendasar.

Hal penting yang disorot dalam Deklarasi Sanur adalah tentang isu-isu kependudukan seperti program Keluarga Berencana (KB) untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, program mengurangi jumlah penduduk sangat miskin, dan masalah kelaparan. Selain itu juga membahas masalah kesetaraan gender dan isu-isu kesehatan seperti penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta pencegahan penyebaran penyakit malaria, TBC dan HIV/AIDS. Dua penyakit mematikan yang banyak menyerang dunia dewasa ini, khususnya di negara-negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.

Jika mengacu pada tren global dewasa ini, kepedulian para pemimpin umat Muslim tersebut sangatlah tepat. Data-data berikut cukup membuat kita prihatin dengan kondisi penduduk dunia dewasa ini. Berdasarkan catatan USAID (2006), sebagaimana dikutip dari terbitan Komnas HAM tahun 2006, angka kematian bayi 23-103 bayi per 1.000 kelahiran dan angka kematian ibu 307 per 1.000 kelahiran. Setiap tahun hampir 3.000 bayi terlahir mengidap HIV. Di seluruh dunia, lebih dari 25 juta jiwa meregang nyawa akibat mengidap virus HIV. Sementara di Indonesia, kondisinya kian suram. Pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS meningkat tajam sejak tahun 1987. Tercatat empat ribu orang mengidap HIV dan ditemukan enam ribu lebih kasus AIDS.

Apa artinya angka-angka tersebut? Siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban atas kian buruknya kondisi kualitas hidup manusia? Bicara soal tanggung jawab, sah-sah saja jika beban tersebut diberikan pada pemerintah sebagai pembuat kebijakan, bersama DPR. Namun poin penting dari pertemuan para pemimpin Muslim tersebut adalah ajakan bagi para pemimpin Muslim, khususnya di 14 negara se-Asia Pasifik, untuk melakukan penerangan terhadap umat mengenai nilai-nilai Islam yang sangat mendukung kesehatan reproduksi, keluarga berencana, dan pentingnya pengaturan kelahiran. Inti ajakan tersebut adalah bermuara pada peningkatan kualitas hidup umat.

Bagi Indonesia, sinyal dari Deklarasi Sanur harus segera menjadi komitmen bersama para ulama. Kondisi kualitas hidup rakyat Indonesia yang sebagian besar umat Islam, tidaklah lebih baik dari negara-negara berkembang lainnya. Dengan partisipasi aktif para ulama dalam meningkatkan kualitas hidup umat Islam Indonesia, kita harapkan tingkat kesejahteraan umat pun menunjukkan perbaikan. Ujungnya tentu saja berdampak pada peningkatan kualitas hidup rakyat Indonesia. Jadi, ulama jangan cuma tertarik masuk ke area politik dan kekuasaan saja.

Republika, Sabtu, 17 Februari 2007

Sinergi Nasional Menghadapi HIV/AIDS

JUMLAH penderita HIV/AIDS di negeri ini cenderung semakin meningkat. Bahkan, mulai muncul gejala semakin banyak ibu hamil terkena HIV/AIDS yang menyebabkan sang anak pun tertular.

Jumlah kasus penderita HIV/AIDS paling tinggi terjadi di DKI Jakarta, kemudian disusul Papua pada urutan kedua, dan Jawa Timur pada urutan ketiga. Namun, dilihat dari sudut prevalensi untuk 100 ribu jiwa penduduk, Papua tetap yang paling tinggi karena jumlah penduduknya yang lebih sedikit.

Ada dua faktor penyebab meningkatnya penderita HIV/AIDS. Yaitu, berhubungan seks bukan dengan pasangan serta penggunaan narkoba suntik. Di Papua terutama diakibatkan hubungan seks, sedangkan di Jakarta akibat pemakaian jarum suntik narkoba.

Di berbagai kota besar di Pulau Jawa memang terjadi kecenderungan meningkatnya penderita narkoba yang menggunakan jarum suntik. Bahkan, menimpa kota pelajar dan kebudayaan seperti Yogyakarta.

Narkoba adalah musuh berwajah ganda. Tidak hanya menghancurkan generasi muda bangsa ini akibat ketergantungan, tetapi juga menularkan HIV/AIDS melalui jarum suntik. Oleh karena itu, pemberantasan penjualan dan peredaran narkoba haruslah dilakukan dengan komitmen yang sangat kuat dan tidak dapat ditawar-tawar atau dinegosiasikan. Sebab, adalah fakta bahwa penjual dan pengedar dengan gampang dapat lolos karena petugas dapat dibeli dengan uang. Sementara itu, terjadi salah kaprah, menganggap pemakai narkoba lebih sebagai kriminal dan bukan sebagai pasien yang seharusnya mendapatkan pengobatan di pusat-pusat rehabilitasi. Bahkan lebih ironis lagi, justru penjualan dan peredaran narkoba semakin marak di dalam penjara.

Tak gampang menyembuhkan orang dari ketergantungan narkoba. Tak ada jalan pintas untuk menyadarkannya. Tak bisa lain, negara harus memiliki program yang bertahap dan sistematis, sehingga penderita narkoba dapat disembuhkan dan penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik dapat dicegah.

Langkah cepat harus diambil karena pendeknya jarak waktu setelah menderita HIV menjadi AIDS. Untuk orang Indonesia rata-rata diperlukan 5-8 tahun, sedangkan untuk orang barat dari HIV menjadi AIDS diperlukan 10 tahun karena gizinya lebih baik.

Untuk Papua, pemerintah daerah juga harus berani mengambil langkah untuk memaksakan penggunaan kondom 100% di lokalisasi. Adalah sangat ideal bila lokalisasi akhirnya ditutup. Namun, pemberantasan penularan HIV/AIDS jelas memerlukan pendekatan yang realistis agar efektif.

Langkah lain adalah menganjurkan ibu-ibu hamil muda, yang suaminya berkelakuan miring dan suka narkoba, untuk melakukan tes sehingga lebih awal dapat diketahui apakah menderita HIV/AIDS atau tidak. Dengan melakukan pemeriksaan yang lebih dini, sang bayi pun dapat diselamatkan melalui pengobatan.

Peningkatan penderita HIV/AIDS harus menjadi keprihatinan nasional. Jangan tunggu HIV/AIDS menjadi epidemi, apalagi pandemi, baru semua kita tersentak dan kalang kabut.

Berbagai upaya mutlak mesti dilakukan agar negeri ini bisa bebas dari penyakit yang satu ini. Intinya ialah pentingnya sinergi nasional, yaitu perpaduan gerakan moral dan gerakan medis, yang disertai dengan gerakan menegakkan aparat yang tidak bisa dibeli dengan uang dalam memberantas narkoba. Sebuah pekerjaan yang mendekati utopia nasional bila tanpa komitmen yang hebat.

Media Indonesia, Senin, 27 November 2006


Blog Stats

  • 792,982 hits
Juli 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.