Archive for the 'Islam' Category

Menghapus Kekerasan Keagamaan

Agama manapun di dunia tidak ada yang menginginkan kekerasan. Sebab,agama pada dasarnya adalah anti kekerasan. Ajaran agama sarat dengan cinta kasih dan kedamaian. Bukan untuk saling bertikai. Bahkan agama hadir adalah untuk melawan kekerasan, baik yang diperlakukan bagi agama itu sendiri, maupun kepada masyarakat, termasuk masyarakat minoritas. Agama bersifat melindungi.

Ketika ada statemen yang mengatakan bahwa tindakan kekerasan untuk dan atas nama agama, maka hal itu jelas penafsiran yang salah atas ajaran agama itu sendiri. Tanpa membedakan ajaran atau dogma agama, bisa dipastikan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat di tubuh agama manapun.

Kekerasan berakar pada ketidakmampuan manusia itu sendiri dalam mengendalikan nafsu penguasaanya. Naluri manusia yang tak terkendali untuk menyerang, merebut, dan bahkan berkuasa atas orang lain semakin menguatkan beragam tindak kekerasan, termasuk terhadap dan atas nama agama itu sendiri.

Jika kemudian banyak kekerasan yang menimpa agama-agama, maka itu adalah bahagian dari tindakan yang harus disadarkan. Ada ketidakbenaran yang harus disingkirkan. Penafsiran-penafsiran yang keliru harus diluruskan.

Agama dan kekerasan adalah dua hal yang jauh berbeda. Tidak mungkin menyatu. Karena itu, kita amat miris mendengar ketika kekerasan terhadap agama banyak terjadi. Itu berarti, kekuatan utama sebagai pilar penopang bagi kehidupan bersama, sedang mengalami pendegradasian. Dan jika hal seperti ini terus berlangsung, maka pada akhirnya akan bermuara pada membudayanya tindakan-tindakan kekerasan.
Sejarah agama adalah sejarah melawan kekerasan. Bahwa di Indonesia sendiri, agama-agama beperan penting dalam melawan kekerasan, baik sebelum kemerdekaan maupun pascakemerdekaan. Ke depan, parade yang seperti itulah yang harus terus dibumikan. Kesucian agama jangan sampai ternodai oleh segelintir orang yang salah dalam menafsirkan kebenaran agama-agama.

Berkaitan dengan itu, kita menaruh simpati kepada PB Ansor yang dengan sigap mengutus 150.000 anggota banser untuk membantu kepolisian mengamankan Perayaan Natal 2007 dan Tahun Baru 2008. Tindakan ini jauh melampaui wacana dan perdebatan kusir tentang siapa yang berhak dan berkewajiban dalam memelihara keamanan.

Kita juga memberi rasa kagum pada tokoh-tokoh agama, nasional, dan tokoh masyarakat yang dengan tanpa kenal lelah terus menanamkan pesan-pesan kedamaian. Kiranya dengan untaian kata-kata dan sikap mereka, masyarakat luas dapat melihat cerminan yang sesungguhnya betapa pentingnya menjaga kebersamaan itu sendiri.

Pemimpin, baik di pusat maupun di daerah yang berperilaku sejuk dan toleran jelas harus kita dukung dalam menjalankan visi dan misinya. Sebab, demikaianlah potrek pemimpin yang sesungguhnya. Mereka harus membawa kedamaian di masyarakat.

Memang jika kita mengacu pada data yang dikeluarkan Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) bahwa selama tahun 2007 ada 32 kelompok masyarakat mengalami kekerasan agama, Masih banyak yang harus kita benahi. Masih banyak lubang-lubang yang harus kita tutupi dan sikapi dengan arif dan bijaksana. Hal ini penting, supaya untuk hari yang akan datang, lubang-lubang tersebut tidak menjadi alat penyulut konflik yang terjal.

Kekerasan terhadap agama harus diminimalisir dan kalau boleh dihilangkan. Siapakah yang berperan untuk menciptakan situasi yang sedemikian itu? Jawabannya adalah kita semua. Semua kita harus berperan, tanpa harus membeda-bedakan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan. Kita adalah pemilik bangsa ini. Kita adalah penopang kehidupan di masyarakat. Maka, menjadi tugas dan tanggung jawab kitalah menjaga dan memelihara kedamaian itu.

Agama-agama harus bersatu melawan kekerasan. Lahan bagi tumbuhya kekerasan harus diminimalisir. Marilah kita membuka ruang yang selebar-lebarnya bagi persemaian kedamian. Biarla kebenaran agama menjadi sinar yang menerangi kekalutan hidup manusia. (*)

Sinar Indonesia Baru, 12 Januari 2008

Iklan

Hukum Vs Teror

Kapolri, Jenderal Sutanto, kemarin memohon permakluman kita bahwa penanganan terorisme bisa jadi menggunakan cara ”luar biasa”. Maka, ia berharap kasus yang menimpa Yusron Mahmudi tidak dikembangkan. Yusron –polisi menyebutnya pula sebagai Abu Dujana– ditembak dari belakang dalam jarak dekat di depan tiga anak-anaknya saat penangkapan pada 9 Juni lalu.

Reaksi keras atas cara penangkapan datang dari Komisi III DPR. Mereka meminta pengusutan kasus ini dengan berkirim surat kepada Kapolri, Komnas HAM, dan Komnas Perlidungan Anak. Mereka menilai polisi penembak Yusron telah melanggar hukum karena menembak dari belakang dan tersangka saat itu dalam posisi sudah tertangkap.

Sebagaimana sikap DPR, kita tak hendak mencampuri proses hukum, termasuk dakwaan terhadap Yusron. Terorisme adalah ancaman besar tidak saja bagi keamanan bangsa tapi juga untuk kemanusiaan. Kita mendukung upaya polisi yang tak kenal lelah untuk mengejar tokoh-tokoh kunci terorisme dan membongkar jaringannya hingga ke akar.

Dalam dukungan itu, kita perlu mengingatkan Polri untuk tetap menempuh jalur hukum. Kita tak perlu menjadi polisi untuk tahu bahwa menembak orang yang sudah ditangkap, dari belakang, dalam jarak dekat, di depan anak-anak, adalah pelanggaran hukum. Kita pun tak melihat penghargaan terhadap HAM pada peristiwa itu.

Pelanggaran hukum pada cara penanganan kasus terorisme hanya memberi peluang bagi bebasnya tersangka. Sayangnya, hal ini begitu sering terjadi. Bahkan, sampai muncul anggapan di masyarakat dalam aksi-aksi penangkapan, terutama oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, bahwa yang terjadi adalah ”penculikan”.

Kita perlu menjaga momentum penanganan terorisme yang tampaknya sedang mendapat angin baik. Dukungan ormas-ormas besar Islam, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, sangat kuat saat ini. Hal ini jelas tak kalah pentingnya dibanding dukungan dana Australia dan Amerika Serikat. Polri tak dapat hanya memuaskan satu kalangan –katakanlah donor– dan melupakan pendukung lainnya.

Bagaimanapun, saat ini muncul kecemasan bahwa kampanye antiterorisme hanya untuk memuaskan negara adikuasa dan memojokkan kelompok Islam. Polri dapat menepis kecemasan itu. Tidak dengan jargon, tentunya, melainkan dengan cara berpikir dan bertindak. Wacana pengumpulan sidik jari santri, misalnya, jangan pernah muncul lagi.

Melihat begitu mudahnya kelompok teroris menyusup di tengah masyarakat, kita justru kian sadar akan perlunya dukungan masyarakat. Hal yang kita inginkan adalah garis jelas antara penjahat yang melanggar hukum dan masyarakat yang taat hukum. Kejelasan antara hukum dan kejahatan akan berbuahkan dukungan bagi tindakan antiterorisme.

Maka, jangan sampai tindakan aparatur hukum justru merusak dukungan itu. Masyarakat mendambakan keamanan saat bekerja, bermasyarakat, beribadah. Mereka takkan pernah bermimpi suatu ketika, secara tiba-tiba, beralih peran dari warga biasa menjadi ”gembong teroris”.

Republika, Rabu, 20 Juni 2007

Mungkinkah AS Menyerang Iran?

Asrori
Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaran (PSIK) Universitas Paramadina

Meski Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush berulang kali menyatakan tak akan menginvasi Iran, namun tanda-tanda ke arah sana semakin jelas untuk dibuktikan. Pasalnya, perubahan sikap AS terhadap Iran semakin lebih ofensif dan agresif dalam menyikapi keputusan politik luar negerinya terhadap Iran.

Berdasarkan pengamatan para kritikus perang bahwa pernyataan Presiden AS Selasa (30/1) bahwa Gedung Putih tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas dan keras jika Iran bertindak ‘macam-macam’ di Irak dan membahayakan pasukan keamanan AS. Akhirnya medan perang pun barangkali terbuka lebar siap untuk menjadi kubangan darah yang merambah dan menjadi saksi jutaan mayat terkapar tersayat.

Menurut Francis Fukuyama dalam ‘America at the Crossroads; Democracy, Power, and the Neoconservative Legacy’, 2006, ada tiga alasan utama rezim otoriter Bush untuk melancarkan serangannya terhadap Irak pimpinan Saddam Husein. Akan tetapi menurutnya sebagian besar alasan itu palsu. Pertama, Irak dituduh memiliki senjata pemusnah massal. Kedua, Irak dituduh memiliki kaitan erat dengan jaringan Alaidah dan organisasi teroris lainnya. Ketiga, Irak dituduh sebagai rezim diktator tiranik yang harus dimusnahkan.

Berdasarkan fakta tersebut, tanda-tanda AS ‘mengajak perang Iran’ sepertinya mirip ketika mereka akan menginvasi Irak tahun 2003. Hal tersebut setidaknya bisa dibuktikan dengan beberapa alasan. Pertama, AS menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir sebagaimana yang pernah dikembangkan Irak. Kedua, AS menuduh Iran telah menyebar aksi teror di Irak untuk memerangi tentara keamanan koalisi AS dan Inggris, sehingga mengakibatkan sejumlah tentara mereka terbunuh sia-sia. Ketiga, AS menuduh Iran telah membantu kelompok pejuang di Irak terutama dalam hal penyediaan senjata dan bahan peledak yang membahayakan.

Pada tahun 2002-2003 Bush mungkin bisa dengan mudah meyakinkan Kongres AS yang hawkish maupun komunitas internasional yang masih trauma dibayangi tragedi 11 September dengan menunjukkan ‘bukti-bukti’ bohong bahwa Saddam Hussein sedang mengembangkan nuklir pemusnah massal. Namun, bila alasan ini kembali digunakan untuk menyerang Iran, adakah pihak yang masih percaya?

Rasanya masyarakat internasional tidak mau masuk jurang yang sama untuk kedua kalinya. Karenanya, sebagian pengamat mengatakan bahwa sikap AS terhadap Iran selama ini bagai melempar batu sembunyi tangan. Mereka menuduh tanpa didasarkan pada bukti-bukti yang jelas yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Bersamaan dengan itu Khalid Al Dakhil, penulis dan akademisi Arab Saudi mengatakan bahwa sikap AS tersebut merupakan refleksi atas kegagalan misinya di kawasan Irak. Di kancah dunia internasional wajah mereka terasa dicoreng. Mereka merasa malu atas kegagalannya sehingga untuk mengobati rasa malunya AS menfitnah Iran dengan alasan-alasan irasional.

Atas semua tuduhan itu, pemerintah Iran membantah keras tuduhan tersebut. Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad mengatakan bahwa, tuduhan AS selama beberapa bulan terakhir ini tidak berdasarkan fakta. Tuduhan itu sebenarnya hanya untuk propaganda. Dan dia berjanji jika AS menyerang, Iran akan melakukan tamparan sejarahnya kepada AS dan membuatnya malu di hadapan masyarakat dunia sehingga iblis pun tak mau mengingat kejayaan dan kedigdayaan AS kembali yang pernah dialaminya.

Maka, besar kemungkinan Iran akan melakukan serangan balik pada setiap kepentingan AS di seluruh dunia bila Iran diserang. Sehingga sampai saat ini Iran yakin bahwa tak akan ada seorang pun membuat langkah yang demikian irasional sampai menyulitkan langkah mereka ke depan. Musuh-musuh Iran harus mengerti bahwa Iran akan memberikan balasan komprehensif terhadap para agresor maupun kepentingan mereka di seluruh dunia. Politisi AS dan para analisnya juga harus tahu bahwa rakyat Iran tak akan tinggal diam bila diserang.

Sikap naif AS
Andaikan benar AS dan sekutunya menyerang Iran sebagaimana yang perna dilakukannya terhadap Irak beberapa tahun lalu, hal tersebut tentunya akan menyulitkan AS mewujudkan tujuannya. Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan yang harus dilakukan AS. Pertama, sebuah serangan udara terbatas yang targetnya hanyalah fasilitas nuklir Iran, seperti yang terdapat di Natanz dan Isfahan. Kedua, serangan militer yang lebih luas dan menyeluruh, yang targetnya bukan hanya menghancurkan fasilitas nuklir Iran, tetapi juga melumpuhkan angkatan bersenjata negara itu.

Dengan demikian AS harus melumpuhkan seluruh sistem pertahanan Iran, memperkuat pasukan darat, udara, dan laut di Irak dan Afganistan, serta memindahkan kapal-kapal perang AS ke Teluk Persia untuk melindungi jalur perdagangan. Jet-jet tempur AS harus diluncurkan dari pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia, sementara pesawat-pesawat pengebom stealth bisa langsung diterbangkan dari AS. Washington juga harus membujuk Turki untuk memberi izin bagi penggunaan pangkalan militer di Incirlik.

Berdasarkan foto-foto satelit hasil pemantauan yang dilakukan pesawat pengintai AS terhadap fasilitas nuklir Iran sejak tahun 2004, setidaknya ada 400 target yang harus dihantam melalui serangan udara. Di antaranya rudal-rudal balistik jangka menengah yang ditempatkan mendekati perbatasan Irak, 14 lapangan terbang beserta pesawat-pesawat tempurnya, kapal-kapal selam Iran, dan bangunan-bangunan yang terkait dengan kepentingan intelijen maupun dengan Garda Revolusi.

Langkah selanjutnya, AS membutuhkan senjata nuklir penghancur bungker (bunker-buster tactical nuclear weapon), seperti B61-11, untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas yang terdapat di bawah tanah. Target utamanya adalah fasilitas nuklir Iran di Natanz yang diperkirakan memiliki 50 ribu mesin pemutar (centrifuge), laboratorium, dan ruangan kerja di kedalaman 25 meter di bawah tanah.

Dari semua keterangan tersebut, sepertinya upaya-upaya yang harus dilakukan AS untuk menaklukan Iran cukup berat dan secara material harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak juga. Maka berdasarkan analisis subjektif upaya ke arah sana tidak mungkin dilakukan AS. Walhasil, upaya AS untuk menaklukan Iran hanya akan menjadi angan-angan dan cemoohan dunia internasional belaka. Sehingga buah yang akan dipetik adalah kenaifan dan kemustahilan untuk memenangkan peperangan dengan Iran, yang secara historis-sosiologis telah memiliki pengalaman perang dengan Barat (Imperium Romawi).

Semestinya AS lebih memikirkan hubungan baik dengan Iran dalam politik luar negerinya demi kemaslahatan bersama terutama menyangkut nasib warga kedua negara, AS dan Iran. Sebaiknya permasalahan ini diselesaikan dengan jalan diplomatik bukan melalui jalur militer yang akan memakan korban jiwa dan harta benda yang banyak pula. Karena bagaimanapun juga perang tidak akan menyelesaikan masalah akan tetapi hanya akan memperuncing masalah.

Ikhtisar

– AS terlihat mengulang modus rencana penyerangan Irak, untuk berusaha menyerang Iran.
– Dunia internasional sudah berubah, sehingga kemungkinan besar skenario AS itu sulit mendapat dukungan.
– AS memerlukan biaya yang sangat besar untuk bisa melumpuhkan sendi-sendi pertahanan Iran.
– Rencana penyerangan AS terhadap Iran pun pada gilirannya hanya akan mengundang cemooh.

sumber : Republika 

Ulama dan Kualitas Hidup Umat

Pulau Bali mencatat sejarah, khususnya bagi kepentingan umat Islam di 14 negara se-Asia Pasifik. Pada Kamis (14/2) lalu, pemimpin Muslim dari 14 negara di kawasan itu mengeluarkan Deklarasi Sanur yang berisi 13 poin, di penutup acara International Confrence of Muslim Leader to Support Population and Development.

Melalui Deklarasi Sanur tersebut disepakati agar para pemimpin umat (ulama) turut berpartisipasi aktif dalam mengawal dan mendorong kepedulian umat terhadap program kependudukan dan pembangunan.

Kepedulian para pemimpin umat Muslim dari berbagai negara tersebut patut disambut positif. Hal itu mengingat masalah kependudukan dan pembangunan sejauh ini jarang dilihat sebagai urusan yang penting untuk diselesaikan dan melibatkan peran para ulama.

Sejak merebaknya masalah terorisme global, isu-isu yang menghadapkan umat Islam dengan masalah terorisme lebih banyak menyita perhatian. Baik dalam skala nasional maupun internasional. Berbagai konferensi internasional yang membahas soal upaya mencegah penyebarluasan terorisme seakan menjadi agenda utama umat Islam di seantero dunia. Walaupun hal tersebut juga penting, namun apa yang dibahas dalam pertemuan di Sanur, Bali, tersebut dapat dianggap sebagai hal yang lebih penting dan mendasar.

Hal penting yang disorot dalam Deklarasi Sanur adalah tentang isu-isu kependudukan seperti program Keluarga Berencana (KB) untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, program mengurangi jumlah penduduk sangat miskin, dan masalah kelaparan. Selain itu juga membahas masalah kesetaraan gender dan isu-isu kesehatan seperti penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta pencegahan penyebaran penyakit malaria, TBC dan HIV/AIDS. Dua penyakit mematikan yang banyak menyerang dunia dewasa ini, khususnya di negara-negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.

Jika mengacu pada tren global dewasa ini, kepedulian para pemimpin umat Muslim tersebut sangatlah tepat. Data-data berikut cukup membuat kita prihatin dengan kondisi penduduk dunia dewasa ini. Berdasarkan catatan USAID (2006), sebagaimana dikutip dari terbitan Komnas HAM tahun 2006, angka kematian bayi 23-103 bayi per 1.000 kelahiran dan angka kematian ibu 307 per 1.000 kelahiran. Setiap tahun hampir 3.000 bayi terlahir mengidap HIV. Di seluruh dunia, lebih dari 25 juta jiwa meregang nyawa akibat mengidap virus HIV. Sementara di Indonesia, kondisinya kian suram. Pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS meningkat tajam sejak tahun 1987. Tercatat empat ribu orang mengidap HIV dan ditemukan enam ribu lebih kasus AIDS.

Apa artinya angka-angka tersebut? Siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban atas kian buruknya kondisi kualitas hidup manusia? Bicara soal tanggung jawab, sah-sah saja jika beban tersebut diberikan pada pemerintah sebagai pembuat kebijakan, bersama DPR. Namun poin penting dari pertemuan para pemimpin Muslim tersebut adalah ajakan bagi para pemimpin Muslim, khususnya di 14 negara se-Asia Pasifik, untuk melakukan penerangan terhadap umat mengenai nilai-nilai Islam yang sangat mendukung kesehatan reproduksi, keluarga berencana, dan pentingnya pengaturan kelahiran. Inti ajakan tersebut adalah bermuara pada peningkatan kualitas hidup umat.

Bagi Indonesia, sinyal dari Deklarasi Sanur harus segera menjadi komitmen bersama para ulama. Kondisi kualitas hidup rakyat Indonesia yang sebagian besar umat Islam, tidaklah lebih baik dari negara-negara berkembang lainnya. Dengan partisipasi aktif para ulama dalam meningkatkan kualitas hidup umat Islam Indonesia, kita harapkan tingkat kesejahteraan umat pun menunjukkan perbaikan. Ujungnya tentu saja berdampak pada peningkatan kualitas hidup rakyat Indonesia. Jadi, ulama jangan cuma tertarik masuk ke area politik dan kekuasaan saja.

Republika, Sabtu, 17 Februari 2007

Perspektif Lain Soal Pembaruan Islam

Al Makin
Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kandidat Ph D Universitas Heidelberg, Jerman.

Tulisan berikut mencoba menanggapi dua artikel terdahulu, Hamid Fahmi Zarkasyi (28/12/06) dan Ismail F Alatas (5/01/07), yang kurang lebih berkenaan dengan kritik terhadap para pemikir pembaruan Islam di Indonesia semisal Nurcholish Madjid dan Harun Nasution. Terasa unik, terutama Nurcholish sampai meninggal dan mungkin juga yang lainnya hampir tidak pernah menjawab secara langsung segala kritik pedas. Paparan berikut berfokus pada deskripsi kritik yang telah dilontarkan.

Tipologi kritik
Perkenankan penulis membuat tiga tipologi kritik: defensif, penolakan westernisasi, dan epistemologi. Pertama, kita menjumpai sikap defensif terhadap pembaruan yang diajukan oleh para pemikir kita. Hal ini bisa dikategorikan sebagai pro status qou. Dalam perspektif ini hal baru yang ditawarkan dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan yang ada, baik itu pada dataran teologis maupun anggapan kemapanan struktur yang ada (politis maupun sosiologis). Keprihatinan kita adalah penolakan yang dijustifikasi dengan akidah, seperti pengkafiran. Kritik semacam ini mengandung resiko bahaya yang nyata: tidak menawarkan pendewasaan dalam masyarakat yang majemuk dan karenanya tidak perlu dikembangkan di masa depan.

Bisa dipukulratakan bahwa kritik ini berlandaskan dari Welstanschaung hitam-putih (baca: simplifikasi). Jika tidak Muslim tentu kafir. Pandangan ini berakibat pada pembenaran transendental suatu ideologi dan bahkan mengarah pada sakralisasi diri sendiri. Pola pikir ini juga memicu pada lahirnya radikalisme dan fundamentalisme.

Sikap simplifikasi juga berarti mengingkari seluruh kompleksitas sejarah pemikiran peradaban dalam dunia Islam yang kosmopolit. Berbagai cabang ilmu keislaman telah sedemikian berkembang selama berabad-abad termanifestasikan dalam kalam, fikih, filsafat, sejarah, sastra, bahasa, arsitektur, geografi, biologi, astronomi, kedokteran dan lain-lain disimpulkan menjadi dua pilihan tegas: Islam atau kafir. Tetapi, simbolisasi superfisial ini mudah diterima khalayak karena kesederhanaannya. Sedangkan kerumitan sejarah dan logika pengetahuan tidak mudah untuk dicerna, sehingga pada tingkat diseminasi masih terasa elitis.

Lanjutkan membaca ‘Perspektif Lain Soal Pembaruan Islam’

Semangat perubahan di Tahun Baru Hijriah

Pergantian Tahun Baru Hijriah dari 1427 H menuju 1428 H besok akan diperingati umat Islam di Indonesia. Tidak jauh beda dari tahun sebelumnya, pergantian tahun baru Islam ini kita peringati dalam suasana penuh keprihatinan.
Bagaimana tidak, menjelang pergantian tahun, berbagai musibah yang menyedihkan beruntun mendera bangsa kita. Sejak dari tenggelamnya KM Senopati Nusantara, banjir di Riau, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), hilangnya pesawat Adam Air, hingga kecelakaan KA Senja Bengawan. Berbagai musibah ini menelan korban yang tidak sedikit. Menimbulkan kesedihan tak hanya bagi orang yang kena musibah, keluarga korban, tapi juga semua komunitas bangsa ini ikut berduka. Harus diakui, semua perasaan bela sungkawa, ikut prihatin, dirasa tidaklah cukup. Perlu ada langkah nyata agar musibah-musibah serupa tidak lagi terulang.
Bukankah berbagai musibah yang kita terima itu bukan semata-mata kehendak Yang Maha Kuasa? Bukankah manusia juga ikut memberi kontribusi terjadinya musibah itu? Berbagai musibah bisa dicegah atau paling tidak ditekan seminim mungkin dampaknya bila kita memang punya kemauan keras untuk itu. Intinya adalah kesediaan melakukan perubahan. Dan spirit Tahun Baru Hijriah adalah juga spirit perubahan. Hal ini dilandasi peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah pada 24 September 622 M silam. Muhammad memutuskan hijrah ke Madinah karena masyarakat Mekah sudah tidak lagi bersahabat dengan Nabi, tak bisa menerima dakwahnya. Hijrah itu sebagai langkah perubahan Muhammad untuk membuat sesuatu yang lebih baik di masyarakat Madinah. Benar, di tempat yang baru, Muhammad ternyata berhasil membangun peradaban baru yang lebih mencerahkan. Peristiwa hijrahnya Muhammad ke Madinah ini oleh sahabat Umar Bin Khattab dipakai sebagai awal penanggalan Islam.
Banyak cara dilakukan umat Islam dalam memperingati Tahun Baru Hijriah ini. Dalam budaya masyarakat Jawa-khususnya di lingkungan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, Tahun Baru Hijriah juga diperingati sebagai Tahun Baru Jawa. Mereka memperingatinya dengan melakukan kirab 1 Sura dengan mengirab benda-benda pusaka mengelilingi keraton maupun pura. Dalam masyarakat Islam, Tahun Baru Hijriah juga diperingati dengan berbagai aktivitas keagamaan.
Lanjutkan membaca ‘Semangat perubahan di Tahun Baru Hijriah’

Kunjungan Syekh Qaradhawi

Ada baiknya kita memperkuat kepercayaan diri di pentas global. Harapan demi harapan telah datang kepada bangsa ini dalam berbagai isu dunia, sebutlah masalah Palestina, Irak, Myanmar, serta nuklir Iran dan Korea Utara.

Bagi banyak mata di dunia, Indonesia adalah contoh luar biasa masyarakat Islam yang mampu menerapkan demokrasi. Syekh Yusuf Qaradhawi, ulama berwibawa yang kini bermukim di Qatar, dalam kunjungan di Jakarta kemarin juga menunjukkan apresiasi atas hal ini.

Indonesia, baginya, adalah contoh bagi pelaksanaan prinsip demokrasi yang beraspek moralitas, kejujuran, dan keadilan. Tidak semua bisa melakukan itu. Kasus Irak, misalnya, kendati terdapat jargon penegakan demokrasi di dalamnya, situasi yang berkembang pada era pendudukan oleh AS dan sekutunya hingga kini justru kian jauh dari demokrasi.

Syekh Qaradhawi pun mengaku kagum karena bangsa Indonesia menghormati pluralisme, berhasil merealisasikan kemaslahatan umum, dan menghargai perbedaan tradisi. Ia berharap hal itu menjadi bingkai kokoh dalam upaya menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Dalam pernyataan seperti itulah kita melihat masih ada pelita dalam kehidupan sebagai bangsa. Ada banyak bencana menimpa negeri kita–dan kita dengan mudah bisa membaca kegundahan Presiden akibat masalah tersebut. Kalau kita tak cukup sabar dan tawakal, bisa-bisa kita terbenam ke dalam jurang keputusasaan.

Penghargaan yang kuat dari luar tentu bukan tanpa risiko. Waktu kita sangat sempit untuk membuktikan bahwa sanjungan yang bertubi-tubi itu layak kita miliki. Sederhana saja, kalau kita memang masyarakat Islam penerap demokrasi yang luar biasa, terbesar di muka bumi, lalu apa sumbangsih kita buat masyarakat dunia?

Irak masih carut-marut. Penindasan terus terjadi di Palestina. Hubungan Iran tegang dengan sebagian masyarakat internasional. Pertumbuhan Cina memicu ketidakseimbangan ekonomi. Uji nuklir Korut memperkeras pertarungan senjata di Asia. Lalu, di manakah posisi Indonesia dalam masalah-masalah itu?

Secara ekonomi kita belum jadi siapa-siapa di pentas itu. Tapi banyak hal lain, katakanlah geopolitik, yang membuat kita tetap punya nilai. Kita punya 200 juta lebih penduduk, sebagian besar adalah Muslim dan moderat, yang diharapkan menularkan hawa perdamaian ke seluruh dunia. Tak heran, kita kembali terpilih menjadi anggota Dewan Keamanan PBB pada tahun ini (suatu saat kita harus menjadi anggota tetap), melengkapi peran-peran kita di lembaga internasional lainnya.

Kita melihat sejumlah inisiatif pemerintah. Beberapa cukup menonjol, antara lain dalam isu Palestina, Irak, dan Korut. Namun, kita cukup prihatin bahwa berbagai inisiatif seakan berlalu bersama waktu. Kita, misalnya, cukup agresif dalam ide-ide terkait masalah agresi Israel terhadap Lebanon, tapi langkah kita–termasuk pengiriman pasukan–sangatlah lambat. Kita vokal dalam masalah Irak, tapi ide-ide yang kita sampaikan kepada Presiden AS, George Bush, lewat kuping kiri keluar kuping kanan.

Modal politik saja rupanya tidak cukup. Sekadar kemauan baik pun tak memadai. Kita tampaknya masih perlu belajar merealisasikan gagasan dalam situasi yang lebih konkret. Di Dewan Keamanan PBB kita punya peluang besar untuk melakukannya. Di arena diplomasi antarnegara pun masih banyak pintu terbuka. Jangan sampai harapan yang tinggi kepada kita jatuh dalam kenyataan yang buruk.

Republika, Rabu, 10 Januari 2007


Blog Stats

  • 796,871 hits
September 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.