Archive for the 'KMP Lampung' Category

Membangun Jembatan Artistik

KORUPSI bukan saja menelan uang negara, melainkan juga bisa membahayakan nyawa rakyat. Itulah yang akan terjadi, bila sertifikasi laik terbang dan laik berlayar diberikan karena hebatnya sogok dan suap.

Berkat uang pelicin, kelayakan itu hanyalah dipenuhi di atas kertas. Secara administratif semuanya beres, namun faktanya, jauh panggang dari api.

Terbakarnya kapal muat penumpang (KMP) Lampung menunjukkan buruknya kepatuhan akan kelayakan berlayar itu. Ada tabung hidran di dalam kapal, namun tidak dapat digunakan, sehingga api gagal dipadamkan.

Kasus itu membuktikan berfungsi atau tidaknya alat pemadam kebakaran tidak penting, sebab yang lebih penting barang itu ada secara administratif. Inilah bentuk kebohongan terhadap publik yang paling halus, sebab rakyat tidak merasa ditipu atau dibohongi. Padahal, inilah kebohongan paling kejam, karena akibatnya sangat mencelakakan nyawa.

Dan bila terjadi kecelakaan, jawaban pun dengan mudah dan lancar meluncur dari pejabat yang berwenang. Yaitu, setiap tahun dilakukan pemeriksaan, setiap tahun kapal masuk dok, dan banyak sekali item yang harus dipenuhi agar layak berlayar.

Umumnya feri yang menghubungkan Jawa-Madura, Jawa-Bali, Jawa-Sumatra (Lampung) berusia tua. Bahkan ada kapal yang telah berumur 35 tahun. Padahal, salah satu kultur terburuk anak bangsa ini ialah merawat. Buruknya perawatan, berakumulasi dengan buruknya uji kelayakan karena sertifikasi berlayar dapat dibeli dengan uang pelicin, sehingga keselamatan penumpang merupakan sebuah perjudian. Hanya menunggu waktu saja terjadi malapetaka.

Terbakarnya kapal roll on roll of atau roro KMP Lampung telah mengakibatkan 55 kendaraan bermotor (truk, bus, pikap, mobil pribadi, dan sepeda motor) hangus terbakar. Seorang awak kapal pun meninggal terpanggang api. Malapetaka ini mestinya memberi pelajaran agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Untuk itu, semua kapal harus diperiksa kembali kelaikannya, dan pejabat yang mengizinkan kapal berlayar sekalipun tak layak seharusnya dicopot dari jabatannya.

Peristiwa kapal Lampung itu hendaknya juga membuka cakrawala yang lebih jauh untuk menghubungkan Jawa-Bali dan Jawa-Sumatra tanpa lagi menggunakan kapal, melainkan membangun jembatan seperti jembatan Jawa-Madura yang direncanakan selesai 2008. Dibangunnya jembatan Jawa-Bali lebih memacu turis domestik menuju Bali, sedangkan jembatan Jawa-Sumatra menyebabkan arus yang padat antara Merak-Bakauheni menjadi jauh lebih lancar dan efisien.

Jembatan pun dapat dibangun untuk dua fungsi, yaitu angkutan mobil dan kereta api, sehingga menambah alternatif bagi angkutan publik dan memperluas pasar bagi PT Kereta Api.

Tidak kalah penting, jembatan dapat dibuat artistik seperti Golden Gate di San Francisco, atau jembatan Tsing Ma, Hong Kong, atau setidaknya seperti jembatan Barelang yang menghubungkan tiga pulau Batam-Rempang-Galang, sehingga menambah keindahan tersendiri.

Dihabisinya angkutan feri Jawa-Bali dan Jawa-Sumatra itu juga bisa membuka pintu dilakukannya reformasi birokrasi. Departemen Perhubungan akan menjadi lebih ramping dengan melikuidasi jajaran Direktorat Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP).

Terus mempertahankan angkutan feri jelas tidak membuka kemungkinan menghubungkan dua pulau besar secara indah dan efisien dengan tingkat keselamatan yang lebih terjamin.

Media Indonesia, Senin, 20 November 2006

Iklan

Blog Stats

  • 797,104 hits
September 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.