Archive for the 'Kriminalitas' Category

Kejahatan Sadis di Tengah Masyarakat

Kita kembali dikejutkan oleh pembunuhan sadis seorang perempuan yang ditemukan tanpa kepala di kamar salah satu hotel di Jakarta Utara. Aksi kejahatan memang akan selalu terjadi. Kita hanya bisa berusaha mencegah serta memperkecil berbagai aksi kejahatan di tengah masyarakat itu. Banyak teori yang bisa dikemukakan berkaitan dengan berbagai aksi kejahatan di tengah masyarakat. Tapi, aksi kejahatan berupa pembunuhan disertai memotong-motong bagian tubuh korban sangatlah sadis dan tidak bisa diterima akal sehat. Kita mengecam keras setiap tidak kejahatan. Kita sangat prihatin terhadap kasus pembunuhan sadis yang kembali terjadi di tengah masyarakat. Apakah norma dan nilai-nilai kemanusiaan sudah pudar di sebagian masyarakat? Masalahnya, pembunuhan dengan memotong-motong tubuh korban sudah sering terjadi di berbagai kota di negeri ini. Korbannya pun bisa dari berbagai kalangan, baik laki-laki maupun wanita, dari anak-anak hingga orang dewasa, tanpa mengenal status sosial. Hal itu seakan menunjukkan kepada kita bahwa aksi kejahatan bisa mengancam siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Kita pun sering bertanya ada apa sesungguhnya dengan masyarakat kita? Ironisnya lagi, kadang-kadang pembunuhan sadis bisa terjadi hanya karena persoalan yang sesungguhnya bisa diselesaikan secara dialektika. Tapi, mengapa jalan pintas dan membunuh yang jadi pilihan? Kasus-kasus pembunuhan sadis sudah sering mengejutkan kita.

Pada 1978 Nurdin Koto tewas terpotong-potong dan jenazahnya di buang ke Kali Kresek, Jakarta Utara. Pada 1980-an ditemukan mayat terpotong 13 bagian yang tidak teridentifikasi hingga kini. Ketika itu, jenazah dibuang oleh pelaku di seputar Jalan Sudirman, Jakarta Selatan. Begitu juga dengan kasus wanita paro baya, Diah, yang tewas pada 1989. Diah dibunuh suaminya dan tubuhnya pun dipotong-potong.

Kita juga seakan-akan kembali diingatkan oleh aksi kejahatan sadis pada 1994 yang menimpa keluarga Herbin Hutagalung. Begitu juga dengan keluarga Acan yang dibantai pada 1995 di Bekasi. Masih banyak pembunuhan sadis yang terjadi di berbagai kota. Kini, di awal 2008, kita kembali dikejutkan aksi pembunuhan sadis terhadap seorang wanita yang kepalanya dibuang ke Kali Kresek, Jakarta Utara.

Kejahatan sadis entah itu pembunuhan yang korbannya dipotong- potong, perampokan disertai pembunuhan dan pemerkosaan, selalu menjadi keprihatinan kita semua. Kita pun sering bertanya, begitu lunturkah nilai-nilai kemanusiaan, sehingga aksi kejahatan sadis sering berulang?

Dari segi patologi sosial disebutkan bahwa kejahatan, baik kualitas maupun kuantitas, merupakan cermin dari sebuah masyarakat. Himpitan ekonomi, persaingan yang semakin ketat, globalisasi, kecemburuan sosial, pola hidup materialistis, egoisme tanpa peduli sesama, amburadulnya penegakan hukum, sistem ekonomi yang kurang menghargai rakyat yang kurang mampu, pengangguran, dan lapangan pekerjaan yang terbatas, sering menjadi motif kejahatan brutal. Untuk mencegahnya adalah dengan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, norma yang baik, serta menanamkan pendidikan budi pekerti sejak dini di tengah masyarakat, yang dimulai dari keluarga kita masing-masing.

Penguatan peran keluarga sebagai pemberi arah dengan menanamkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan sangat efektif untuk mencegah aksi kejahatan. Selain itu, tentu saja kita menuntut penegak hukum dan instansi terkait untuk menjalankan tugasnya secara tegas.

Di sisi lain, pemerintah harus terus berupaya mencegah timbulnya penyakit masyarakat dan menopang masyarakat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Suara Pembaruan, 22 Januari 2008

Iklan

Potret Sepakbola Nasional

Memalukan! Itulah kata yang paling tepat untuk mengomentari kerusuhan yang terjadi di Stadion Brawijaya, Kediri, Jawa Timur, Rabu (16/1) malam lalu saat berlangsung pertandingan sepakbola Grup A Babak Delapan Besar Liga Djarum Indonesia 2007, Persiwa Wamena versus Arema Malang. Sebenarnya kata memalukan tersebut bukanlah yang pertama kali dilontarkan dalam konteks persepakbolaan nasional. Tindakan yang memalukan sering terjadi dalam pertandingan sepakbola di negeri ini. Oleh karena itu, tampaknya kalangan penggemar sepakbola di Indonesia melihat chaos di Stadion Brawijaya itu sebagai sesuatu yang wajar. Bahkan, secara ekstrem penggemar sepakbola itu akan bingung kalau suatu pertandingan tidak dibumbui oleh bentrokan di lapangan. Ada yang bilang ibarat sayur tanpa garam.

Pada Rabu malam itu suasana di Stadion Brawijaya membara. Api menyala di berbagai sudut stadion. Bahkan tiang gawang, yang menjadi incaran para pemain untuk menembuskan “si kulit bundar” pada saat pertandingan, tak luput dari api. Papan dan kursi yang biasanya menjadi tempat menyenangkan untuk menikmati pertandingan, berterbangan pada malam itu.

Lapangan hijau Brawijaya menjadi arena kemarahan sebagian pendukung tim Arema Malang, yang disulut oleh ulah seorang suporter yang tidak bertanggung jawab. Bukan hanya infrastruktur Stadion Brawijaya yang menjadi korban, tetapi juga harta benda penduduk yang tinggal di dekat lapangan olahraga itu tidak luput dari amukan massa. Dikabarkan, satu mobil yang sedang diparkir di dalam garasi rumah tak jauh dari stadion, dihancurkan. Ya, itu benar-benar perbuatan yang tidak bertanggung jawab.

Sekali lagi, tampaknya itulah potret persepakbolaan di Indonesia. Potret yang menggambarkan ketertinggalan dan ketidakpahaman akan arti sebuah pertandingan yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas atau fair play.

Kalangan penggemar sepakbola di negeri ini sepertinya sudah tidak bisa membedakan mana yang adil dan tidak adil. Sang pengadil di lapangan hijau, wasit, yang sebenarnya sudah bekerja dengan benar dan berusaha seadil-adilnya, tetap dinilai tidak adil oleh kalangan penonton. Fenomena itu terjadi sebagai efek dari kesalahan demi kesalahan yang terjadi sebelumnya dan mengakar sampai saat ini. Siapa tokoh dari kesalahan itu? Jawabannya, kalangan pelaku sepakbola itu sendiri. Dengan kata lain, tidak bakal ada asap kalau tak ada api.

Berkaitan dengan kerusuhan atau bentrokan yang terjadi di lapangan sepakbola yang akan dikedepankan di sini adalah benar atau tidaknya kesalahan dilakukan oleh wasit maka dalam suatu pertandingan wasit harus dihormati. Kalau pun seorang wasit salah atau dinilai tidak adil dalam memimpin jalannya pertandingan maka sudah ada pihak yang akan mengadilinya, sehingga tidak perlu dihakimi oleh pihak lain. Wasit juga manusia biasa yang bisa saja salah.

Mereka yang sudah memahami falsafah pertandingan, yaitu bisa menerima kemenangan dan bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, pasti hanya bisa mengelu-elus dada melihat kejadian memalukan di Stadion Brawijaya tersebut. Tetapi yang jelas, di bumi Indonesia ini masih banyak orang yang bercita-cita agar sepakbola Indonesia maju dari segala aspek, mulai prestasi tim nasional hingga kompetisinya. Hanya untuk bisa mencapai itu dibutuhkan kesabaran dan keberanian mengambil risiko yang terberat sekalipun. Semua itu diperlukan untuk menjadikan sepakbola nasional membanggakan dan sebagai hiburan yang tidak pernah membosankan.

Suara Pembaruan: 18/1/08

Waspadai Aksi Penculikan Anak

Kasus penculikan Raisyah (5) adalah satu fakta terbaru perihal aksi penculikan anak. Kasus seperti ini, sebenarnya sudah pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Namun, peristiwa penculikan Raisyah seolah menjadi titik kulminasi betapa aksi kriminalitas berwujud penculikan anak merupakan modus operandi kejahatan yang patut diwaspadai. Jika tidak, bukan tidak mungkin kasus-kasus seperti ini di masa yang akan datang bisa terulang kembali.

Kekerasan, dalam bentuk apapun, harus dihindari. Berbagai peluang bagi terjadinya kekerasan harus ditutup rapat. Ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama; pemerintah, orang tua, kalangan pendidik dan lain-lain. Pemerintah harus pro aktif. Petugas keamanan harus menunjukkan profesionalismenya dalam bekerja. Perangkat-perangkat yang berkaitan dengan itu, harus disiapkan.

Terkait aksi penculikan anak, tentu peran orang tua sangat diharapkan untuk bisa dijalankan dengan maksimal. Demikian juga dengan pihak pengelola pendidikan anak. Semuanya harus saling bersinergi. Pengalaman selama ini, penculikan sering terjadi saat jam sekolah, harus dijadikan sebagai bahan pelajaran yang amat berharga. Biasanya pendampingan terhadap si anak ketika berada di lingkungan sekolah, terkesan tidak maksimal.

Kemudian, kepada si anak juga harus diberi pemahaman tentang berbagai modus kejahatan. Misalnya bagaimana memahami berbagai macam contoh gerak-gerik si pelaku kejahatan. Hal ini penting untuk diperhatikan sebagai tindakan preventif. Dengan demikian, si anak minimal akan dapat berpikir dan melakukan tindakan.

Maraknya kasus penculikan terhadap anak-anak sudah sangat meresahkan kita semua. Terlepas pada faktor apa yang melatarbelakangi aksi ini, yang jelas kasus ini layak dijadikan sebagai bahan perenungan kita bersama. Bagaimana menyelamatkan anak-anak dari segala macam tindak kekerasan, yang bisa menimbulkan trauma pada diri si anak, bahkan sampai pada penghilangan nyawa.

Salah satu elemen penting dalam mengantisipasi maraknya aksi penculikan anak adalah peran pengelola televisi. Tak dapat disangkal, bahwa banyak tayangan yang muncul di layar televisi (seperti halnya media massa lainnya) kurang mendidik. Sekalipun belum ada pembuktian, namun disadari bahwa maraknya tayangan kekerasan di beberapa stasiun televisi kita turut serta sebagai faktor pemicunya.

Sungguh, kekerasan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Kekerasan terjadi karena dipengaruhi banyak faktor. Karena itu, memberantas budaya kekerasan, haruslah berangkat dari pemahaman yang benar tentang kekerasan itu sendiri berikut faktor-faktor penyebabnya. Dengan demikian, kita akan bisa menganalisa akar permasalahannya.

Lantas kita patut bertanya, bagaimanakah sesungguhnya kontribusi kita dalam menyelamatkan generasi anak bangsa, khususnya anak-anak? Adakah budaya kekerasan sudah mengakar begitu kuat di masyarakat kita sehingga sulit dihilangkan?

Perihal tayangan kekerasan di televisi, sesungguhnya sudah lama diributkan. Berbagai masukan dari sejumlah elemen masyarakat sudah banyak dilayangkan. Tetapi, oleh pihak pertelevisian, tidak pernah digubris sama sekali. Dengan demikian, jadilah tayangan yang tak pantas ditonton anak-anak, menghiasi layar televisi kita. Maka, tanpa susah payah, kita dengan gamblang menemukan dampaknya, yaitu kekerasan terjadi di mana-mana.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi aksi penculikan terhadap anak khususnya adalah dengan mengintensifkan jalinan komunikasi antara orang tua, guru, dan anak. Hal ini penting untuk terus memonitor keberadaan dan kondisi si anak. Misalnya, bagaimana jalur komunikasi dipakai sebagai alat untuk terus mengawal ketika si anak sudah meninggalkan rumah.

Aksi penculikan terhadap anak adalah bahagian dari tindak kekerasan. Karena itu, marilah kita menghilangkan budaya kekerasan sejak dini. Banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya. Marilah kita mulai dari hal-hal yang kecil. Kewaspadaan layak ditingkatkan. (*)

Sinar Indonesia Baru, 29 Agustus 2007

Awas Culik

RAISAH Ali, bocah lima tahun dengan bola mata indah itu, sepekan ini merebut perhatian kita. Ia diculik sepulang dari sekolah. Orang ramai pun tersentak: anak-anak kita ternyata tak aman. Sewaktu-waktu ia bisa tercerabut dari pelukan ibunya.
Anak yang ketika berangkat sekolah masih tersenyum ceria itu tiba-tiba tak lagi terdengar suaranya pada siang hari. Segera terbayang wajah panik dan pedihnya hati sang ibu. Di layar kaca, melebihi sinetron dan infotainment mana pun, pemirsa pasti trenyuh ketika menyaksikan ibu Raisah berdoa: ”Anakku, tetaplah kuat dan tabah di situ.”
Alhamdulillah, Raisah telah kembali. Salut buat polisi yang telah membekuk penculik. Diharapkan, aparat penegak hukum segera mengusut 14 kasus penculikan yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Kasus ini benar-benar mengusik ketenteraman orangtua yang memiliki anak usia sekolah. Kami juga yakin, aparat kepolisian di daerah akan mengikuti sukses koleganya di Jakarta, mengingat masih ada beberapa kasus penculikan di daerah yang belum terungkap.
Keberhasilan pengungkapan oleh polisi ini tentu tak lepas dari tekanan publik yang besar. Gelombang empati muncul di mana-mana. Kolega Ali Said, sang ayah, misalnya, membuka ”Raisah Care” dan ”Raisah Center”. Ibu-ibu pengajian di sejumlah tempat berdoa bersama. Gubernur Jakarta Sutiyoso mengirim radiogram ke semua wali kota dan bupati, memerintahkan jajarannya mencari gadis cilik yang hilang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun meminta polisi bekerja keras.
Besarnya kepedulian publik tersebut sangat mengharukan. Untuk kesekian kali masyarakat kita membuktikan bahwa mereka akan berdiri bersama ketika bencana menerpa atau tetangga mereka dirundung duka.
Namun kisah Raisah itu sekaligus menjadi alat pengingat yang baik bahwa masyarakat yang peduli itu ternyata kerap lalai memberikan jaminan rasa aman kepada anak-anak mereka sendiri. Padahal rasa aman adalah hak bagi seorang anak dan kewajiban bagi orangtua, juga guru di sekolah dan aparat penegak hukum, untuk memberikannya.
Kita menyaksikan anak-anak sering dibiarkan bersekolah dan bermain sendiri tanpa pengawasan sama sekali. Anak-anak juga abai diajari bagaimana bersikap menghadapi orang yang tak dikenalnya. Sering luput pula orangtua mendidik anak bagaimana menghargai orang-orang di sekitarnya.
Memberikan rasa aman tak dengan sendirinya berarti menerapkan pengawasan yang ketat. Mengawasi secara ketat justru bukan hal baik, karena seorang anak tetap membutuhkan kebebasan. Rasa aman adalah ketika sang anak percaya dan mengenal betul orang-orang di sekelilingnya: dengan siapa ia bermain, berteman, belajar di kelas atau ruang kursus, jajan di kantin sekolah, hingga pulang ke rumah.
Pihak sekolah selama ini lebih tampak sibuk meningkatkan fasilitas pengajaran, memperbaiki kurikulum dan kesejahteraan guru, ketimbang memperbaiki sistem pengamanan bagi anak didik. Tak hanya selama proses belajar semestinya murid mendapat perhatian yang memadai, tapi juga ketika bermain di halaman sekolah hingga tiba kembali di rumah.
Usul Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi agar sekolah menggelar simulasi penculikan untuk meningkatkan kewaspadaan anak dan pengelola sekolah patut diterapkan. Ini bagus sebagai langkah pencegahan. Setidaknya, melalui pelatihan, anak-anak dapat memperoleh informasi mengenai pola atau modus pelaku penculikan. Sekolah juga tahu bagaimana seharusnya membantu. Berbekal pemahaman ini, anak dan pengelola sekolah diharapkan mampu bertindak menghadapi penculikan.
Jelas, langkah pencegahan ini harus disertai upaya serius aparat kepolisian dalam mengusut pelaku penculikan. Kejahatan ini terbukti telah menjalarkan kecemasan di masyarakat. Lihatlah jumlahnya yang mencengangkan: 14 kasus penculikan di Jakarta dan sekitarnya hanya dalam waktu dua bulan terakhir! Angka ini setara dengan jumlah penculikan selama setahun di seluruh Indonesia pada tahun lalu.
Dari 14 kasus itu, korban dari delapan kasus penculikan adalah anak-anak. Motifnya pun beragam: mulai dari masalah ekonomi, dendam atau sakit hati, persaingan usaha, hingga sindikasi perdagangan anak. Bukan mustahil, motif yang lebih mengkhawatirkan bakal ditemukan: kejahatan seksual pada anak. Penculikan anak di Sulawesi Selatan dua pekan lalu mengarah pada motif ini.
Tingginya angka penculikan dan kemungkinan berkembangnya motif pelaku itu mestinya merupakan peringatan serius bagi orangtua dan pendidik. Pun bagi polisi. Tanpa sanksi hukuman seberat-beratnya bagi pelaku, bukan mustahil korban penculikan terus bertambah.
Kisah Raisah telah memberikan pelajaran berharga kepada para orangtua, pendidik, juga penegak hukum, agar senantiasa waspada terhadap mata nyalang yang setiap saat mengintai anak-anak kita.

Majalah Tempo, Edisi. 27/XXXIIIIII/27 Agustus – 02 September 2007

Buron

Tampaknya Kejaksaan Agung merasa perlu menjawab pertanyaan masyarakat selama ini, ”Seberapa efektifkah penayangan wajah koruptor di televisi?” Sebelumnya, mereka diplomatis saja menjawab, ”Namanya juga usaha.” Tapi, kemarin, mereka menjawab dengan penangkapan Dharmono K Lawi, anggota DPR yang menjadi terpidana kasus korupsi dana perumahan dan dana bantuan kegiatan DPRD Provinsi Banten.

Jaksa Agung dan jajarannya berulang mengatakan, keberadaan Dharmono di sebuah rumah di Bandung tercium berkat laporan masyarakat. Bahkan, Jaksa Agung mengaku, laporan tersebut masuk langsung ke telepon selulernya. Luar biasa bahwa pejabat setingkat dia membuka akses telepon genggam langsung bagi masyarakat umum. Selamat atas keberhasilan penangkapan ini.

Tapi, Kejaksaan Agung belum layak berpesta atas penangkapan itu. Dharmono cuma satu dari 15 terpidana korupsi yang sampai pada tahap putusan tetap alias inkracht dan masuk dalam daftar buron. Terus terang, perkembangan perburuan mereka, termasuk kinerja tim pemburu koruptor yang dibuat Kejaksaan Agung, samar-samar saja dalam pandangan masyarakat. Tak ada greget.

Dharmono pun nyaris luput dari perhatian. Ia ”naik panggung” lebih karena polah sendiri, yakni muncul dalam wawancara-wawancara di surat kabar dan nampang di layar televisi. Dharmono pun menyurati Presiden pada awal Desember serta menolak periode buron versi Kejaksaan Agung. Segala kevokalan itu –yang sebenarnya bermanfaat kalau ia tetap menjadi anggota DPR– seakan mengejek aparat Kejaksaan Agung.

Dharmono telah tertangkap dan kemarin dikirim dari Bandung ke Serang dengan tangan terborgol –kendati tetap mengumbar senyum. Ia akan menjalani hukuman. Lalu, bagaimana kabar belasan koruptor lainnya? Kapan kita mendapatkan Sudjiono Timan, Eko Edi Putranto, Lesmana Basuki, S Hartono, Sherny Kojongian, Hendro Bambang Sumantri, Eddy Djunaedi, Ede Utoyo, Tony Suherman, Bambang Sutrisno, Andrian Kiki Ariawan, Harry Matalata alias Hariram Rachmand Melwani, Nader Taher, dan Thabrani Ismail?

Kejaksaan Agung tampaknya baru bisa mengalahkan buron kelas lokal yang cuma mampu bersembunyi di Pekalongan, Semarang, Solo, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Padahal, dari 14 nama dalam daftar yang dirilis beberapa pekan lalu, hanya dua orang yang diperkirakan masih di dalam negeri. Itu sinyalemen dari kejaksaan sendiri. Bagaimana dengan 12 buron lainnya?

Tim pemburu koruptor sebenarnya telah bergerak ke banyak negara. Tapi, tak satu pun yang tertangkap. Andrian Kiki Ariawan, misalnya, dikabarkan telah menjadi warga negara Australia. Eko Edi Putranto diduga juga ada di negara itu, mengingat sang ayah, Hendra Rahardja, dulu pun lari ke Australia dan buron kasus BHS senilai satu triliun rupiah itu di sana dengan mewariskan kekayaan dan perusahaan.

Ada sedikit alasan tentang tidak adanya perjanjian ekstradisi atau mutual legal assistance, katakanlah dengan Singapura, yang mempersulit penangkapan para penjahat itu. Tapi, alasan ini mendapat penolakan banyak pihak. Transparency International, misalnya, mengatakan kalau mau serius menangkap para koruptor itu, kita bisa saja mengadukan negara yang tidak kooperatif ini ke lembaga dunia untuk pemberantasan korupsi.

Kita akan lebih prihatin mengingat delapan pengemplang BLBI pun tetap melenggang. Mereka sudah diberi keringanan dan mendapatkan janji release and discharge, tapi tak jua menunjukkan iktikad baik. Batas untuk mereka adalah akhir bulan ini. Daftar buron bisa semakin panjang, padahal kemampuan kita untuk menangkap segitu-gitu saja.

Republika, Rabu, 20 Desember 2006

Korban “Smack Down”

asus korban tiru-tiru adegan gulat bebas di televisi yang dikenal dengan acara smack down mulai bermunculan setelah tewasnya Reza Ikhsan Fadilah (9) siswa kelas III SDN Cingcin I Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pertengahan November lalu. Reza meninggal setelah sempat sakit seusai bermain gulat bebas bersama tiga temannya. Sejumlah saksi menuturkan, Reza konon dipelintir kedua tangannya ke belakang dan kemudian ditindih tiga temannya. Permainan ini dilakukan meniru-niru adegan yang mereka lihat dalam tayangan televisi.

Korban lainnya ialah seorang siswa SD di Yogyakarta yang harus dirawat di rumah sakit karena gegar otak ringan setelah jatuh di-smack down kawannya. Tayangan gulat bebas di stasiun televisi Lativi sebetulnya bukanlah tayangan baru.

Program serupa juga pernah ditayangkan di stasiun televisi TPI dengan menampilkan pertarungan bebas Ulti- mate Fighting Championship. Meskipun tayangan itu disertai peringatan larangan untuk meniru adegan tersebut, na-mun faktanya anak-anak sangat meng- gemari dan suka mempraktikkannya dengan adik, kakak, atau teman bermain mereka.

Kasus yang menimpa Reza tidak dapat disebut sekadar kecelakaan, karena adegan gulat bebas telah ditiru oleh anak-anak secara meluas di Indonesia. Upaya orangtua untuk memberi pengertian pada anak-anak acapkali gagal. Anak-anak sering kali “mencuri-curi” waktu menyaksikan tayangan tersebut saat orangtua mereka lengah.

Rasa ingin tahu anak-anak ditambah masa pencarian akan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan pahlawan atau panu- tan, terpenuhi saat menyaksikan tayangan smack down yang atraktif, meski sadis. Apalagi jam tayangnya mulai pukul 22.00 masih tergolong sore di ruang keluarga.

Minimnya pengetahuan anak-anak tentang kaidah-kaidah olahraga gulat bebas membuat mereka mengabaikan bahayanya. Itu sebabnya protes bermunculan di masyarakat belakangan ini terhadap penayangan acara gulat bebas di televisi.

Kita akui bahwa iklim kebebasan pers telah memberi keleluasaan media massa untuk menafsirkan sendiri apa yang pantas dan tidak pantas dipublikasikan. Ditambah lagi dengan perkembangan pers sebagai industri, membuat pertimbangan komersial dikedepankan dalam mengukur kepatutan informasi yang disampaikan kepada khalayak.

Idealisme dan pertanggugjawaban sosial ditempatkan di urutan kesekian. Pada televisi, sukses di zaman sekarang diukur dengan rating dan perolehan iklan. Sedangkan di suratkabar dan majalah, secara umum ukuranya adalah tiras, keterbacaan, dan perolehan iklan. Pencapaian dalam aspek idealisme tidak disebut-sebut lagi seperti pada era pers perjuangan yang lalu.

Kasus meninggalnya Reza pantas dicermati dan direnungkan oleh insan pers, terutama para pemodalnya. Media massa bukan sekadar tempat mencari keuntungan komersial.

Televisi, koran, majalah, dan radio hadir di ruang keluarga, dibaca, disaksikan, dan didengar oleh anak, orangtua, pembantu, hingga kakek serta nenek. Dampak pesan yang dipublikasikan tentu berbeda-beda pada masing-masing penerima pesan tersebut.

Meskipun kini merupakan era industri pers, media massa dari segi fungsinya bukanlah sekadar penyaji informasi dan hiburan. Undang-Undang Pokok Pers masih tegas mengamanatkan pers sebagai sarana pendidikan dan alat kontrol sosial.

Itu sebabnya kita mengimbau stasiun televisi untuk mempertimbangkan dengan lebih bijaksana lagi penayangan acara smack down. Kalaupun hendak dipertahankan, pilihlah jam tayang bukan saat bagi anak-anak menonton. Misalnya selepas tengah malam.

Demikian pula berita-berita gosip, sinetron, dan kartun yang menonjolkan urusan kawin-cerai, ketidakharmonisan hidup, dan kekerasan. Kurang pantas rasanya jika hal-hal ini kita suguhkan kepada anak-anak kita.

Konsep-konsep mengatasi masalah dan perselisihan dengan menghancurkan lawan sebagaimana dikesankan sinetron dan film-film kartun, jelas tidak pas untuk anak-anak.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain, berselisih, berdamai, dan bermain kembali. Betul bahwa falsafah kebe- naran harus menang atas kejahatan sebagai basis informasi, namun penggambarannya tidak selalu harus dengan kekerasan.

Masih banyak cara untuk menghibur dan memberi pengajaran kepada anak-anak, tanpa harus ada korban jiwa seperti yang terjadi saat ini.

Suara Pembaruan, 27 November 2006

Kejahatan dan Akhlak

Kejahatan jalanan (crime street) memperlihatkan kecenderungan meningkat dan perlakuan para penjahat terhadap korbannya semakin sadis. Masyarakat sangat terbebani oleh keadaan ini karena mereka juga tengah mengalami kesulitan ekonomi. Jadi, kejahatan jalanan ini tidak hanya bermotif ekonomi, tetapi juga menganggu kewibawaan pemerintah.

Kejahatan jalanan kemungkinan besar lebih didorong untuk mencukupi kebutuhan hidup, bukan korupsi yang cenderung diakibatkan kemerosotan akhlak. Bukankah harga BBM, beras, dan lainnya terus meningkat sementara pendapatan menurun atau stabil tetapi nilai intriksiknya merosot?

Kejahatan mempunyai hubungan yang erat dengan kondisi makro ekonomi. Kejahatan, secara relatif, akan menurun bila kesejahteraan rakyat meningkat. Begitupun sebaliknya.
Sinar Harapan, Kamis, 12 Oktober 2006


Blog Stats

  • 796,871 hits
September 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.