Archive for the 'Layar Kaca' Category

Tayangan Perenggut Nyawa

Jawa Pos 29 Nov 2006 – Oleh Teguh Imawan *
Tayangan Smack Down diduga merenggut nyawa anak di Bandung. Di Surabaya dan Jogjakarta terungkap ada siswa terluka akibat menirukan gerakan bantingan, tendangan, bekapan, sikutan, cekikan, dan adegan olahraga keras seperti smack down dan sejenisnya.

Masyarakat pun memprotes keras tayangan televisi yang mengumbar adegan kekerasan. Melalui surat pembaca maupun media online, penonton televisi memprihatinkan, menyesalkan, dan mengecam acara-acara menjual kekerasan, berikut sikap bandel pengelola televisi penanggung jawab siaran yang tetap menayangkan acara kekerasan.

Bahwa efektivitas tekanan publik ke pengelola televisi kadang-kadang membuahkan kekecewaan itu tak terelakkan. Bahwa nada protes penonton, dalam kasus tertentu, oleh pengelola televisi disedot, digenggam, dan dipelintir untuk dijadikan bantalan pendongkrak posisi tawarnya mengerek tinggi banderol harga iklan ke pemasang iklan juga telah menjadi rahasia umum.

Lanjutkan membaca ‘Tayangan Perenggut Nyawa’

Iklan

Kekerasan di Layar Kaca

Kita mungkin telanjur biasa hidup dalam kekerasan, sehingga tak lagi merasakan hal buruk saat menghadapinya; kita mati rasa. Stasiun-stasiun televisi sama saja, bebal, tak lagi tanggap atas bahaya di balik siaran-siaran mereka. Tayangan kekerasan hadir tak kenal waktu, seolah mengajarkan bahwa kekerasan adalah kelaziman, sebuah dunia normal.

Tapi, mari kita lihat nasib Reza Ikhsan Fadillah. Ia bocah kelas 3 SDN Cincin, Kabupaten Bandung. Pekan lalu, ia wafat di pangkuan sang ayah, setelah mendapatkan perawatan rumah sakit berpekan-pekan. Seperti terungkap dalam Republika hari ini, cedera terpantau dalam kepalanya. Urat terjepit. Tulang pangkal lengan lepas.

Apa yang telah menimpa Reza? Beberapa siswa SMP telah memiting, melipat, dan membanting-banting tubuhnya. Mereka belajar dari televisi. Mereka meniru adegan Smackdown, gulat panggung ala Amerika yang ampuh memenuhi hasrat dewa rating.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pernah mengeluhkan siaran ini. Meski pukulan dalam tayangan itu bukan sungguhan, menurut KPI, aroma kekerasan tetaplah tampak pada adegan-adegannya. Komisi Nasional Perlindungan Anak juga telah mengungkapkan keberatan dan menyebut siaran ini berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Stasiun penayang tampaknya mengabaikan reaksi tersebut. Pembelaan yang seakan rasional adalah bahwa acara itu ditayangkan di atas pukul 21.00, bukan waktu bagi para bocah untuk menonton televisi. Mungkin karena hati mereka telanjur keras, pengelola televisi malah menghadirkan anak-anak ke studio, untuk turut berkomentar bersama pembawa acara.

Jadilah, tokoh-tokoh keras dalam acara itu idola anak-anak. Televisi berbagi peran dengan game station, CD, dan kartu-kartu untuk mengagungkan nama-nama seperti The Undertaker, Triple H, McMahon, Batista, dan sebagainya. Cara para tokoh itu bicara, memaki, dan bahasa tubuh mereka saat merendahkan lawan menjadi ilham bagi para bocah dalam kehidupan sehari-hari. Dunia panggung dan dunia nyata telah melebur.

Banyak kekerasan lain di layar kaca. Tidak saja dalam tayangan panggung seperti Smackdown, melainkan juga dalam berita-berita kriminalitas, sinetron, dan film-film. Adegan pukul, tembak, tusuk, begitu mudah tampil di layar kaca kita–artinya di dalam rumah kita!

Kita mungkin semakin terbiasa dengan semua itu dan menganggapnya sebagai kewajaran. Kita mungkin berdalih setiap hari menyaksikan adegan pukul-pukulan dalam Tom and Jerry dan merasa tak ada yang salah dalam diri kita setelah dewasa. Tapi, kita takkan pernah benar-benar tahu apa yang tergurat dan abadi dalam jiwa anak-anak kita setelah menyaksikan semua itu.

Andai mau, kita bisa mengira-ngira berdasarkan sejumlah hasil penelitian. Ambil satu dari penelitian di Amerika Serikat, negeri biang siaran televisi. Pada bocah yang menghabiskan waktu tiga hingga empat jam di depan layar televisi, ditemukan sejumlah fakta: (1) Mereka mati rasa terhadap ancaman kekerasan, (2) mereka suka menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan, (3) mereka menirukan tindakan kekerasan yang tampak di televisi, dan (4) mereka mengidentifikasi diri sebagai pelaku atau korban kekerasan.

Adakah ciri-ciri seperti itu pada anak-anak kita?

Republika, Rabu, 22 Nopember 2006


Blog Stats

  • 803,119 hits
November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.