Archive for the 'Natal' Category

Natal Bersama Yang Spektakuler

Di Sumatera Utara berbagai kejadian yang menarik dan penting selalu saja bermula. Termasuk yang barusan saja dilakukan, yaitu Natal Bersama Umat Kristen tahun 2007 yang pada hari Jumat (28/12) diadakan dengan penuh kemeriahan di Stadion Teladan, Medan. Ratusan ribu jemaat umat Kristen hadir dan memadati tempat pelaksanaan ibadah.

Perayaan Natal ini memang sangat spektakuler. Dilihat dari dukungan masing-masing daerah, hampir semua Kepala Daerah di Sumatera Utara memberikan dukungan kepada Panitia bersama yang dibentuk untuk tujuan itu.

Sebagai sebuah acara bersama, perayaan Natal Umat Kristen tersebut tak pelak lagi telah membuat umat Kristen lebih menikmati apa artinya kebersamaan dalam keragaman. Merayakan Natal bersama umat yang selama ini tidak pernah bersama-sama beribadah, menjadikan seluruh umat Kristen lebih memahami mengenai persaudaraan dalam nama Tuhan.

Memang, Sumatera Utara dikenal dengan keberagamannya. Ada banyak keberagaman di daerah ini. Berbagai perbedaan dapat disebutkan, bahkan di antara sesama umat Kristen sendiri. Bukan hanya suku, tetapi juga dari denominasi yang juga beragam. Bahkan jika kita elaborasi lagi, di antara kita ada bermacam suku dengan bahasanya masing-masing.
Maka keberadaan Natal Umat Kristen tersebut menunjukkan kepada seluruh umat, seluruh masyarakat bahkan seluruh masyarakat Sumatera Utara, bahwa umat Kristen, bersama-sama mengerjakan pekerjaan atas nama Tuhan. Benar bahwa umat Kristen memang berasal dari beragam denominasi. Tetapi ketika bekerja untuk merayakan ibadahnya, umat Kristen bisa bersama-sama mengerjakannya.

Dalam konteks inilah kita mengingat kembali ”amanah” rohani dari seorang intelektual Kristen, alm TB Simatupang, yang menjadikan panggilan sebagai orang Kristen sebagai panggilan penting untuk membangun bangsa. Karena itu, dengan Natal Umat Kristen tersebut, umat Kristen dipanggil untuk menjadi teladan. Dalam konteks Sumatera Utara, saling bahu membahu dan menjalin kerjasama, adalah panggilan khusus buat umat Kristen seluruhnya. Semua orang yang melihat cara bersama dan cara beribadah orang Kristen, akan melihat bahwa ternyata terdapat perbedaan. Umat Kristen, dengan cara bekerja dan menjalin hubungan, di mana semua bisa saling bergandengan tangan itulah, maka panggilan dari alm TB Simatupang tadi dapat diwujudkan.

Umat Kristen bukan secara kebetulan ditempatkan oleh Tuhan di tanah ini. Ada rencana yang dibuat dan direncanakan oleh Tuhan untuk dilaksanakan. Rencana itulah yang harus terus menerus diwujudkan secara bersama-sama. Sumatera Utara adalah tempat di mana Tuhan sudah percayakan untuk membangunnya, memeliharanya dan menjadikannya makmur. Umat Kristen harus menjadi berkat di tanah dan negeri di mana Tuhan telah menempatkan mereka.

Memang ada banyak denominasi dan latar belakang, entah itu marga, suku atau entitas apapun itu. Satu yang harus dimiliki, yaitu bahwa bukan ciri khas umat Kristen terpecah-pecah. Bukan tanda bahwa umat Kristen, kalau hanya mengenai hal-hal kecil lalu kita menjadi kehilangan identitas dirinya sendiri. Kita mengharapkan setelah dilangsungkannya Natal Umat Kristen tahun 2007 ini, umat Kristen dapat memperlihatkan kepada umat dan kepada dunia bahwa menjadi Kristen berarti meneladani cara hidup Tuhan yang telah mengasihi dunia ini. Umat Kristen harus meninggalkan semua perbedaan, dan kemudian melayani dunia di mana umat Kristen berada sebagaimana Tuhan sudah tunjukkan caranya yaitu dengan pengorbanan dan dengan kasih. Dengan itu, maka Natal, sebagai makna kebersamaan di Sumatera Utara ini akan menjadi berkat tiada tara. (***)

Iklan

Membangun Kerukunan Yang Hakiki

Hari ini, Jumat (28/12), umat Kristen di Sumatera Utara akan merayakan Natal bersama yang dipusatkan di Stadion Teladan Medan. Direncanakan lebih seratusribu masyarakat yang akan menghadiri perayaan tersebut berjubel dari berbagai daerah. Dukungan dari berbagai pihak sudah dinyatakan dengan seksama. Demikian juga dengan situasi keamanan yang sudah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian.

Apa makna perayaan Natal bersama tersebut? Tentu sangat banyak. Salah satu misalnya adalah makna kebersamaan dan kerukunan. Kebersamaan di kalangan umat Kristen itu sendiri, dan juga kebersamaan atau kerukunan bagi seluruh elemen masyarakat Sumatera Utara.

Perayaan Natal tersebut melibatkan gereja-gereja yang ada, persatuan marga-marga, paguyuban etnis dan lembaga keumatan Sumatera Utara, maka kebersamaan yang hakiki sudah terimplementasikan. Namun yang tak ketinggalan adalah dukungan dari masyarakat luas.

Dalam konteks semangat kebangsaan, kebersamaan atau kerukunan yang universal amat dibutuhkan. Bangsa ini hanya bisa bangkit dari segala keterpurukannya, hanya bila ada kebersamaan. Demikian juga halnya dengan kebersamaan dalam perayaan natal tersebut. Bagi mereka yang merayakan Natal, harus pula dirajut kebersaman. Demikian juga dengan masyarakat yang berbeda keyakinan. Singkatnya, inter dan antar sesama elemen masyarakat patut, penting dan wajib menjaga semangat kebersamaan.

Kita menyadari, bahwa di tengah masyarakat yang plural, rajutan kerukunan amat penting untuk diwujudnyatakan. Bahkan urgensi kerukunan menjadi salah satu intisari dari pesan Natal yang sesungguhnya. Berangkat dari situasi selama ini, bahwa kita patut mensyukuri bahwa masyarakat Sumatera Utara sangat serius dalam menata kehidupan yang harmonis. Dan itu bisa terwujud manakala ada kesadaran bersama. Hal ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Yang paling penting adalah bersyukur dan mempersiapkan diri.

Terkait dengan keamanan, kita juga berbangga hati dengan peran dan kontribusi masyarakat luas yang berpartisipasi aktif. Sikap toleransi terus terbangun. Perbedaan bukan berarti pertentangan. Kita amat prihatin, ketika pada tahun-tahun yang lalu, banyak kejadian yang sangat memilukan saat Tahun Baru.

Ke depan, hal seperti itu tentunya jangan sampai terulang kembali. Biarlah itu menjadi kenangan masa silam, yang tak perlu terulang kembali. Cukuplah peristiwa menyakitkan tersebut terjadi di masa yang lalu. Hari esok harus kita songsong dengan penuh optimisme dan karya nyata.

Bangsa ini sudah terlalu sering dilanda berbagai macam peristiiwa yang sangat memilukan. Misalnya bom yang meledak di berbagai tempat, khususnya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Karena itu, kita harus mawas diri. Segala potensi harus dimaksimalkan. Peran dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat harus dimaksimalkan.

Dalam konteks inilah, kita berharap pemerintah pada semua tingkatan dan aparat keamanan, jangan sampai lengah. Memang, dalam beberapa waktu terakhir ini, situasi sudah sangat kondusif. Tetapi kewaspadaan harus tetap ditingkatkan. Karena itu perayaan Tahun Baru kali ini jangan sampai melahirkan kegelisahan di hati kita semua.
Memang, kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terus terbangun. Demikian juga kesigapan aparat keamanan yang sudah lebih fokus pada pencegahan dari pada penanganan akibat. Terbukti, perayaan hari-hari besar keagamaan di tahun 2007 ini, dapat berjalan dengan aman. Semuanya bisa berlangsung dengan penuh hikmat dan dalam situasi yang aman tenteram, namun tetap penuh makna.

Namun, disadari bahwa tantangan dalam membangun kebersamaan masih akan terus terjadi. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pengorbanan dan perhatian serius dari kita semua. Semua kita harus memberi kontribusi nyata bagi terwujudnya keinginan bersama itu.

Harapan kita, biarlah tahun 2007 bisa kita lalui dengan penuh kedamaian. Dalam kedamaianalah ada kerukunan yang hakiki. Supaya dengan demikian, ada modal sosial dan teladan dalam mengarungi tahun 2008 nanti. (*)

Sinar Indonesia Baru, 28 Desember 2007

Perayaan Natal dan Hebatnya Kerukunan Beragama

PERAYAAN Natal telah berlangsung tenteram dan damai. Damai yang indah tidak hanya menyelimuti semua gereja, tetapi bahkan bersemi di seluruh negeri.

Yang perlu dicatat dalam sejarah adalah kenyataan luar biasa hebatnya yang terjadi pada Natal kali ini. Yaitu organisasi massa Islam turut serta mengamankan Natal.

Pengamanan itu dilakukan di gereja, di tempat ibadah Natal berlangsung. Sebuah inisiatif yang sangat mulia, yang ditunjukkan saudara-saudara muslim untuk melindungi saudara-saudara sebangsa yang merayakan Natal.

Contohnya Gereja Katedral di Bandung dijaga anggota Banser Gerakan Pemuda Ansor. Masih di Bandung, NU dan Forum Komunikasi Umat Beragama juga membagikan seribu mawar kepada umat kristiani di sejumlah gereja. Di Kediri, 200 anggota Banser dikerahkan untuk mengamankan Natal. Di Jakarta, sejumlah remaja masjid dan anggota ormas Islam turut menjaga malam Natal.

Natal memang menyimpan trauma. Natal pernah berlangsung dalam naungan kekerasan. Gereja dibom dan menelan korban. Sejak itu, saban kali Natal datang, saban kali itu pula ketakutan datang mencekam menyertai ibadah Natal.

Namun, Natal kali ini tidak hanya berlangsung tenteram dan damai. Lebih dari itu, menunjukkan indahnya kerukunan beragama anak bangsa ini. Natal kali ini memperlihatkan bukan saja hebatnya toleransi beragama, melainkan juga rasa sayang mayoritas terhadap minoritas. Semua itu kembali menegaskan hebatnya modal sosial yang dimiliki bangsa ini.

Bangsa ini adalah bangsa yang memang kaya dengan perbedaan, kaya dengan berbagai keanekaragaman. Heterogenitas itu terbentang luas, menyangkut suku, bahasa, adat, dan kebudayaan. Semua itu masih diperkaya lagi dengan berbagai agama yang dipeluk anak bangsa ini.

Akan tetapi, toleransi bahkan apresiasi terhadap berbagai perbedaan yang menyangkut aspek kultural telah terjalin sangat tinggi. Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika (beraneka ragam tetapi satu) dalam perspektif kultural dapat dikatakan telah berlangsung dan terjalin dengan mulus.

Yang masih sensitif adalah menyangkut kerukunan hidup beragama. Perbedaan agama masih potensial menyulut konflik horizontal.

Sekarang sejarah mencatat yang sebaliknya. Kerukunan beragama itulah yang bersemi dengan indahnya di Hari Natal ini. Luar biasa indahnya, gereja diamankan oleh saudara-saudara muslim.

Maka, dunia kini menyaksikan Indonesia bukan saja negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang demokratis. Inilah negara dengan kerukunan beragama yang juga paling mengagumkan.

Anak bangsa ini dapat berbangga sebab Indonesia layak dijadikan contoh nyata di dunia tentang kerukunan beragama. Di negeri ini dialog antaragama bukan kemewahan elitis dan teoretis, yang hanya gemilang di ruang-ruang seminar, melainkan hal ihwal yang konkret mekar dalam realitas kehidupan anak bangsa sehari-hari.

Media Indonesia, Selasa, 26 Desember 2006

Ajakan Berbagi dari Presiden

Ibarat orang sakit, imbauan berbagi ataupun kegiatan tolong-menolong antarmasyarakat merupakan aksi yang sifatnya kuratif, bukan pencegahan.Imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar perayaan Natal, tahun baru, dan Idul Adha dijadikan momentum untuk berbagi dengan sesama terasa sangat pas di tengah bencana banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai kawasan di negeri ini.
Hujan deras selama beberapa hari menjelang perayaan Natal telah mengakibatkan banjir di sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sumatera. Provinsi Aceh, yang baru dua tahun lalu remuk-redam terhantam tsunami, kini menjadi kawasan yang terkena banjir paling parah. Sedikitnya 90 orang tewas.
Kita yakin, permintaan Presiden agar masyarakat yang berkecukupan berbagi, membantu korban bencana banjir, pasti akan direspons. Sebab, berkaca pada pengalaman masa lalu, ketika terjadi bencana tsunami, masyarakat tanpa diimbau-imbau pun, dengan sukarela membantu saudara-saudara mereka yang terkena musibah.
Artinya, tanpa bermaksud mengecilkan imbauan mulia dari Presiden, yang terpenting sebenarnya bukan masalah berbagi. Sebab, siapa pun pasti tidak menginginkan terkena musibah. Ibarat orang sakit, imbauan berbagi ataupun kegiatan tolong-menolong antarmasyarakat merupakan aksi yang sifatnya kuratif, bukan pencegahan.
Memang, bencana alam merupakan musibah yang sulit diduga, bisa menimpa siapa saja, kapan saja. Tapi, mengutip penelitian dari Wahana Lingkungan Hidup, sekitar 85 persen bencana alam di Indonesia adalah bencana banjir.
Persentase tersebut berarti bahwa bencana yang sering terjadi justru bencana yang bisa diatasi, diantisipasi, dan diperkirakan risikonya. Banjir dan tanah longsor adalah bencana yang terjadi bukan hanya karena faktor alamiah alam, melainkan lebih banyak karena campur tangan manusia. Artinya, bencana banjir dan longsor merupakan bencana yang “bisa direncanakan”.
Banjir bandang di Aceh yang terjadi sekarang ini sangat jelas menunjukkan adanya campur tangan manusia, yaitu kegiatan pembalakan liar. Kawasan Ekosistem Leuser seluas 2,5 juta hektare, yang salah satu fungsinya sebagai tempat penangkapan air misalnya, kini telah rusak 25 persen. Adapun yang telah menjadi area gundul sekitar 10 persen.
Kondisi yang hampir sama juga terjadi di berbagai daerah rawan banjir lainnya. Akibatnya, banjir di negeri ini memang sudah menjadi musibah tahunan. Masalahnya, hingga kini pemerintah belum memiliki–atau bahkan memikirkan–pola penanganan banjir yang terpadu. Sejauh ini yang sudah cukup lancar dilakukan adalah mengumumkan kepada masyarakat agar waspada terhadap banjir.
Namun, tindakan-tindakan yang nyata dan konkret untuk mengantisipasi musibah itu dengan membuat bangunan pengendali banjir, seperti pintu air dan drainase, serta mempersiapkan pompa-pompa di berbagai daerah rawan banjir belum terlihat. Selain itu, pemberantasan pembalakan liar sampai sekarang belum berhasil sepenuhnya. Yang ditangkapi baru para “keroco”, sedangkan para cukongnya masih bebas berkeliaran.
Jika hal-hal itu belum juga dilakukan, imbauan berbagi dari Presiden akan menjadi statement yang “bisa direncanakan” seperti halnya banjir yang setiap tahun selalu hadir di tengah-tengah kita.

Koran Tempo, Selasa, 26 Desember 2006

Menyambut Hari Natal

Besok, 25 Desember 2005, umat Kristiani akan merayakan Hari Natal. Hari yang diperingati sebagai kelahiran Yesus Kristus, Juru Selamat manusia yang datang ke dalam dunia dalam rupa manusia.

Sebagai sebuah ibadah, hari Natal sarat simbol. Setiap kali umat Kristiani merayakannya, ada sebuah renungan yang amat dalam betapa berharganya jiwa manusia sehingga Tuhan sendiri harus datang untuk menyelamatkan manusia. Pentingnya jiwa menyebabkan Tuhan meninggalkan diriNya dengan segala kebesaran dan kemegahan Pencipta, dan memilih mengosongkan diriNya demi menyatakan diri kepada umatNya, menyatakan kasihNya kepada mereka dan mengharapkan mereka percaya kepadaNya. Bahkan untuk itulah, manusia itu, Ia rela mati di kayu salib. Inilah sebuah kisah yang sangat inspiratif kepada bangsa ini. Kita perlu belajar bagaimana memahami betapa berharganya manusia itu sehingga Tuhan pun perduli.

Mengapa? Sebab nilai-nilai kemanusiaan kini sudah semakin luntur. Hubungan antar sesama di negeri ini lebih didominasi oleh keinginan untuk menyingkirkan. Bentrokan antar sesama diwarnai oleh amarah untuk melepaskan yang lain dari komunitas. Egoisme dan keinginan untuk memenuhi diri sendiri amat kuat sehingga kita tak lagi menemukan ketulusan dalam hubungan sosial.

Segala sesuatu kini diukur tidak dengan ukuran kemanusiaan, melainkan harta dan benda. Apa yang dipakai, dimakan, dilihat, dimiliki, ternyata kini lebih berarti daripada keberadaannya sebagai manusia. Di mana-mana, bahkan ketika merayakan Natal sekalipun, manusia-manusia didandani, seolah dandanan itu lebih berharga daripada dirinya sendiri. Yasraf Piliang menuliskan dalam esainya, dunia ini seperti berlari kencang meninggalkan Tuhan. Dunia yang kita diami kehilangan logika ke-Tuhanan. Sebaliknya, dunia membangun logika sendiri, yang penuh dengan imajinasi. Namun semuanya bermuara kepada pengingkaran kepada nilai dan harkat kemanusiaan.

Politik dizahlimi sehingga menjadi kotor. Ekonomi dinista sehingga sarat dengan tekanan pada manusia. Kehidupan sosial dijadikan alat untuk menghancurkan. Sistem kebudayaan didisain untuk menimbulkan kegairahan palsu. Seluruh dinamika masyarakat ditundukkan kepada sebuah sistem yang amat palsu, penuh dengan dehumanisasi. Itu sebabnya kemudian berkembang deraslah jagad ini dengan pelacuran, pembunuhan, perampokan, kekerasan dan berbagai patologi sosial lainnya.

Tuhan mengetahui semua itu. Persis ketika di jamannya Ia memandang betapa menyedihkannya kehidupan manusia kala itu sehingga Ia memutuskan untuk datang dan berkunjung meski dalam suasana yang amat nestapa, kini Natal pun dirayakan dengan harapan semoga datangNya Tuhan mengilhami kita semua.

Natal kali ini harus membawa kita semua pada permenungan, apakah benar kita sedang memperihatinkan derajat kemanusiaan kita, lingkungan kita, dan bangsa kita? Benarkah Natal kali ini membawa semangat yang sama dengan semangat Tuhan ketika datang, yaitu untuk memperbaharui dan menyelamatkan kemanusiaan manusia, atau hal lain?

Natal kali ini harus menginspirasikan kita untuk memandang diri kita, lingkungan kita, dan bangsa kita secara jujur. Kita harus membawa kembali kemanusiaan dalam tempat yang paling utama sebagai pengejaran terus menerus bagi bangsa ini. Natal yang benar adalah ketika kita dalam perayaannya “bersatu” secara alamiah dengan hatiNya, yang memandang dunia dengan hati yang lara dan duka. Natal yang sejati adalah ketika kita memiliki hati yang sama dengan Tuhan, yang dengan rela memberikan diriNya bagi manusia, maka kita pun ingin melakukan sesuatu sekecil apapun itu, bagi manusia, bagi sesama, bagi bangsa kita dan bagi negeri ini. Selamat Hari Natal 25 Desember 2005. (***)

Sinar Indonesia Baru, Medan,  Dec 23, 2006

Kepedulian Natal 2006

Sepanjang tahun 2006 bencana alam silih berganti datang. Gempa bumi Yogyakarta dan Jateng seolah-olah awal serangkaian bencana setahun belakangan.

Ada yang menyebut tahun 2006 Tahun Bencana. Dari sisi mana pun sebutan itu masuk akal. Ketidakmampuan kita mengatasi masalah pun termasuk bencana. Belum sampai ke taraf “negara yang gagal”, kita kelompok piawai membuat rencana, tetapi tidak get things done. Kita jagoan membuat instruksi tanpa tindak lanjut.

Semua masalah hanya sebatas diwacanakan. Melangitnya harga beras sebulan terakhir, hilangnya minyak tanah dari peredaran, dan semburan lumpur di Sidoarjo, sekadar menyebut tiga kasus yang hingga sekarang belum teratasi.

Realitas kemiskinan yang dikaitkan Bank Dunia dengan naiknya harga beras menuai protes. Jumlah penduduk miskin 39,05 juta jiwa tidak merangsang kita menemukan solusi. Beli beras dan minyak secara dicatu, setelah berjam-jam antre, mengingatkan pengalaman tahun 1960-an. Bedanya dulu kita sama-sama miskin, sekarang terjadi pemisahan yang kaya dan yang miskin.

Repotnya laporan kemiskinan itu ditanggapi reaksioner. Bentuknya—lagi-lagi—tidak lebih dari keasyikan berwacana tentang kemiskinan. Kata kunci kebiasaan ini adalah kepedulian. Kepedulian tidak hanya menuntut ketajaman analisis dan solusi, tetapi juga aksi. Tidak hanya keberpihakan romantis, tetapi juga empati-kompasi praktis.

Hari Natal, hari istimewa bagi umat Kristen, berangkat dari kepedulian. Solidaritas terhadap yang lemah, miskin, dan tergusur jadi tema sentral. Ekspresinya kadang melenceng dari semangat dasar tersebut. Natal jadi barang dagangan. Ucapan Selamat Natal dibisniskan. Kepedulian Natal tergantikan oleh naluri pragmatisme bisnis dan serba pamrih.

Refleksi Romo Johannes Dijkstra SJ (1911-2003), misalnya, menegaskan perlunya keberpihakan kepada rakyat miskin. Tulis Romo Dijkstra, “seluruh bangsa kita hidup dari hasil bumi petani kecil di desa”. Artinya, solusi kemiskinan, khususnya beras, harus ditempatkan dalam kerangka keberpihakan kepada petani (Menjadi Garam Dunia Sejati, 2006).

Ungkapan sederhana itu mengingatkan, dalam perjuangan hak ekonomi sosial peran negara tetap diperlukan. Kalau dalam perjuangan hak sipil dan politik, negara sebaiknya tidak campur tangan, sebaliknya dalam pemenuhan hak dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Pemenuhan hak-hak dasar itu tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar.

Menyelesaikan persoalan yang berurusan dengan rakyat banyak adalah entry point (pintu masuk) membangun habitus (keadaban publik) yang baru. Habitus lama, keasyikan kita berwacana soal kemiskinan misalnya, perlu ditinggalkan.

Merayakan Natal 2006 berarti membangun sikap peduli pada persoalan masyarakat banyak. Habitus baru tidak selesai dengan niat, instruksi, dan wacana! Kepedulian itu perlu aksi nyata!

Selamat Hari Natal 2006!

Kompas, Sabtu, 23 Desember 2006

Natal di Tengah Keprihatinan

Natal telah tiba. Hari kelahiran Yesus Kristus ini merupakan peristiwa keagamaan yang amat penting bagi umat Kristiani. Tidak heran bila di sepanjang bulan Desember, peristiwa ini dirayakan dengan meriah oleh umat Kristiani di seantero jagat raya ini.

Tak ketinggalan tentunya umat Kristiani di Tanah Air yang setiap tahun merayakan dengan penuh kegembiraan hari kelahiran Sang Juru Selamat ini. Di berbagai mal dan tempat-tempat publik kita bisa dengan mudah menyaksikan aneka hiasan Natal yang begitu gemerlap. Umat Kristiani tak segan menghamburkan uangnya untuk membeli keperluan Natal, termasuk pakaian baru tentunya. Toko-toko kue pun diserbu untuk mendapatkan aneka kue yang dirasakan pantas dihidangkan di hari penuh suka cita ini.

Namun, karena begitu lazimnya Natal ini diperingati, sering yang menjadi terpenting dari Natal hanyalah bungkus-bungkus luarnya saja seperti ornamen-ornamennya; pohon terang dan lampu-lampu hias, kue, pakaian baru, dan sebagainya. Umat Kristiani cenderung mengabaikan mutu dan relevansi daripada aspek-aspek fundamental yang menjadi inti atau hakekat terdalam dari perayaan Natal itu sendiri.

Akibatnya, dari hari ke hari Natal semakin tidak dirasakan faedah dan signifikansinya bagi perwujudan perdamaian dan perbaikan tatanan kemanusiaan, keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan. Memang harus diakui bahwa belakangan ini banyak peristiwa keagamaan, bahkan agama itu sendiri, kerap kehilangan makna dan signifikansi praksis sosial-kemanusiaan, sebagai akibat penonjolan terlalu kuat pada aspek-aspek formal dan ideologinya saja. Tidak heran bila agama dan peristiwa keagamaan kerap tidak memberikan solusi atas berbagai masalah kemanusiaan, bahkan seringkali yang terjadi adalah sebaliknya.

Karena itulah, di tengah kegembiraan menyambut kelahiran Sang Juru Selamat tersebut, kita ingin mengingatkan semua pihak, terutama umat Kristiani di seantero pelosok Nusantara, agar Natal ini bisa menjadi momen instrospeksi untuk mengingat saudara-saudara kita yang sedang dirundung kemalangan akibat berbagai hal. Masih banyak warga negeri ini yang masih terus dilanda kedukaan akibat konflik horisontal yang tak berkesudahan, bencana alam, busung lapar, kemiskinan struktural, dan sebagainya. Bahkan di hari-hari menjelang Natal ini saudara-saudara kita Mandailing Natal Sumatera Utara dilanda gempa bumi yang merenggut sejumlah korban jiwa. Beberapa desa di Langkat, masih di wilayah Sumatera Utara, juga dilanda banjir yang mengakibatkan banyak korban jiwa.

Di tengah kegembiraan Natal ini kita tak boleh melupakan pula saudara-saudara kita di Aceh, Nias, Yogyakarta, Sidoarjo, dan berbagai daerah lainnya, yang hingga hari ini masih harus hidup di tempat pengungsian karena tempat tinggal mereka rusak oleh tsunami, gempa bumi, lumpur panas dan banjir.

Semuanya dapat dipastikan tidak akan bisa menikmati kegembiraan seperti yang dirasakan oleh saudara-saudaranya di tempat-tempat yang tidak dilanda bencana. Bukan itu saja, di jalan-jalan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Ujungpandang dan kota-kota lainnya, masih banyak kita menyaksikan saudara-saudara kita yang menggantungkan hidupnya menjadi peminta-minta, pemulung dan sebagainya. Mereka semuanya tentu saja saat ini hidup dalam keprihatinan. Gemerlap Natal jauh dari kehidupan mereka.

Dalam kaitan inilah, di Hari Natal yang penuh suka cita dan kedamaian ini, kita ingin mengajak umat Kristiani di Tanah Air agar memaknai Natal secara lebih mendalam dengan penonjolan pada aspek sosial-kemanusiaan, tidak sekadar melakukan perayaan rutin yang menonjolkan aspek-aspek formal dan ideologis semata.

Natal hendaknya menjadi momen untuk melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan sosial-kemanusiaan di Tanah Air, berbuat bagi sesama saudara kita yang saat ini sedang dirundung kemalangan. Langkah ini jelas sangat sejalan dengan makna terdalam kelahiran Yesus Kristus, yang datang ke dunia dan mengorbankan nyawanya di atas kayu salib untuk menebus dosa kita umat manusia.

Selamat Merayakan Hari Natal. Damai di Surga, Damai di Bumi.

Suara Pembaruan, 23 Desember 2006


Blog Stats

  • 803,119 hits
November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.