Archive for the 'Nobel' Category

Nobel bagi “Kaum Miskin”

Hasil yang sangat mengejutkan saat Komite Nobel akhirnya memberikan kemenangan kepada orang dan badan yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat dunia, sebagai peraih Nobel Perdamaian 2006. Ketua Komite Nobel Norwegia, Ole Danbolt Mjoes, di Oslo, Jumat (13/10) kemarin mengumumkan, Muhammad Yunus (66) dari Bangladesh dan bank yang didirikannya, Grameen Bank, sebagai pemenang Nobel Perdamaian 2006. Dengan demikian masing-masing berhak atas hadiah 10 juta krona Swedia atau sekitar Rp 12,5 miliar yang akan diserahkan pada 10 Desember 2006 di Oslo. Kemenangan Muhammad Yunus itu memang di luar dugaan. Sejak pertama kali Hadiah Nobel Perdamaian diserahkan tahun 1901, pemenangnya adalah tokoh-tokoh yang selama ini berkutat dan berjuang untuk upaya-upaya perdamaian. Oleh karena itulah, untuk tahun ini pun kandidat yang santer disebut-sebut antara lain adalah mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya dinilai sukses memperjuangkan perdamaian di Aceh. Kemudian aktivis Muslim etnik Uighur di China, Rebiya Kadeer dan mantan Menlu Australia Gareth Evans dengan International Crisis Group-nya.

Kemenangan Muhammad Yunus ini dinilai sebagai sebuah kemajuan dari Komite Nobel untuk memperluas jangkauan perdamaian. Yunus bukanlah tokoh yang terkenal dan berpidato ke sana ke mari mengobarkan apa yang telah dilakukannya. Dia berjuang untuk kemenangan si miskin dan bukan untuk mendapatkan popularitas melalui tim sukses. Bahkan dia memulai perjuangannya dengan meminjamkan uang US$ 27 kepada sekelompok warga di sebuah perdesaan, sebagian besar perempuan, agar mereka terbebas dari jeratan rentenir.

Guru besar ekonomi di Bangladesh ini memang memiliki ketertarikan untuk mengembangkan skema kredit mikro, kemudian mendirikan Grameen Bank yang khusus memberikan kredit bagi orang miskin. Yunus yang dikenal sebagai “bankirnya kaum miskin” ini berusaha memerangi kemiskinan saat bencana kelaparan melanda negerinya tahun 1974. Dia memberikan pinjaman uang kepada orang-orang miskin yang selama ini tidak bisa mengembangkan usahanya karena tidak bisa mendapatkan pinjaman uang dari bank.

Agar bisa berkembang, uang yang telah dikembalikan akan dipinjamkan lagi kepada orang lain yang membutuhkan. Dengan cara bergulir seperti itu, semakin banyak orang yang bisa menikmati fasilitas pinjaman murah. Cara ini mirip dengan kredit bergulir seperti yang dilakukan di Indonesia, namun tidak bisa berjalan baik karena banyak pinjaman yang tidak kembali.

Dengan cara seperti itu, pada Mei 2006, Grameen Bank telah melayani 6,61 juta peminjam, 97 persennya adalah perempuan. Bank ini telah memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa, dan tidak hanya melayani peminjam dari Bangladesh, tetapi juga negara-negara lain. Tidak mengherankan bila konsep kredit mikro dari Yunus ini kemudian menjadi sumber ide bagi banyak negara untuk mengembangkan kredit serupa. Metode ini mendorong tumbuhnya tanggung jawab sosial, karena tingkat pengembalian mencapai 99 persen.

Kita sangat mengapresiasi terhadap pemenang Nobel Perdamaian tahun ini. Ternyata dari negara yang miskin, muncul pejuang yang dengan gigih memerangi kemiskinan. Kemenangan dalam memerangi kemiskinan juga berarti kemenangan dalam upaya menciptakan perdamaian. Harus diakui, salah satu penyebab munculnya aneka konflik di tengah masyarakat adalah kemiskinan dan terjadinya kesenjangan ekonomi. Kemiskinan bisa dijadikan alat untuk propaganda politik dan memecah belah masyarakat. Hal inilah yang perlu diwaspadai.

Seperti halnya yang terjadi di Indonesia, rasa ketidakadilan dari sisi ekonomi tidak jarang memunculkan konflik horisontal. Sangat disayangkan bila kemudian potensi negatif itu tidak segera diatasi, tetapi justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan keuntungan orang-orang atau kelompok tertentu. Kemenangan Nobel Perdamaian kali ini diharapkan menyadarkan elite politik dan pemegang kekuasaan kita untuk serius memperhatikan rakyatnya. Masih banyak rakyat miskin di Indonesia. Kita butuh orang seperti Muhammad Yunus yang langsung berbuat konkret untuk rakyat kecil, tanpa melalui propaganda yang tak ada realisasinya.

Suara Pembaruan, 14 Oktober 2006


Blog Stats

  • 791,657 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.