Archive for the 'Nuklir' Category

Pro-Kontra Nuklir

Saat ini sedang ramai dibicarakan rencana pemerintah untuk menggunakan nuklir sebagai sumber energi listrik untuk Jawa. Tempat untuk membangun reaktor nuklir ada beberapa lokasi antara lain Gunung Muria (Jepara, Jawa Tengah), Palau Madura (Jawa Timur), dan Banyuwangi (Jawa Timur). Akan tetapi masyarakat di lokasi yang dipilih, mati-matian menolak rencana pemerintah tersebut. Bahkan terakhir masyarakat Madura menyatakan menolak. Ketika pertama kali dihembuskan rencana membangun reaktor nuklir di Gunung Muria beberapa tahun silam, berbagai elemen masyarakat ramai-ramai menolaknya. Cukup lama rencana tersebut dibenamkan sampai akhirnya muncul lagi. Ketika rencana penggunaan energi nuklir mulai disosialisasikan kembali, terjadi ledakan di Laboratorium Kimia Pusat Pengembangan Industri Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional di Kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek), Serpong, Tangerang, Banten, awal pekan lalu (10/9/07). Polisi dan Batan memastikan tidak ada dampak radiasi zat radioaktif dari kejadian tersebut. Kita lega. Namun bagi masyarakat, kejadian tersebut tetap mencemaskan. Bagaimana pemerintah mau membangun reaktor nuklir kalau di Puspitek saja bisa jebol. Apalagi ini bukan kejadian pertama. Pada 31 Agustus 1994 telah terjadi ledakan di gudang Pusat Penelitian Teknologi Keselamatan Reaktor Batan. Saat itu seorang karyawan tewas.

Dalam benak masyarakat sudah tertanam, nuklir itu berbahaya. Itu tak salah. Negara pengguna reaktor nuklir di Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat masih pusing memikirkan tempat pembuangan sampah nuklir mereka. Sampah radioaktif bisa menyebabkan munculnya berbagai penyakit mematikan.

Ledakan yang terjadi di Puspitek Serpong kembali “meledakkan” pro-kontra pemanfaatan energi nuklir. Catatan penting dari ledakan itu, penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) memang ada risikonya. Apa yang terjadi di Three Mile Island, AS (1979), dan Chernobyl, Rusia (1986), adalah contoh bagaimana risiko teknologi nuklir.

Akan tetapi nuklir tidak hanya menampakkan wajah yang menakutkan. Nuklir adalah sumber energi listrik luar biasa. Di Puspitek Serpong saja sudah banyak riset dilakukan yang bermanfaat untuk keperluan medis, industri, dan pertanian serta mengukur kadar pencemaran udara. Cukup banyak produk penelitian yang dihasilkan dalam beberapa tahun terakhir, meskipun kalau dibandingkan dengan penelitian di negara lain, apa yang kita hasilkan masih tertinggal jauh. Terlepas dari itu, apa yang diungkapkan ini menunjukkan wajah ramah dari nuklir.

Pemerintah telah memasukkan energi nuklir ke dalam kelompok energi baru dan terbarukan untuk mengatasi krisis suplai listrik di Jawa. Manusia membutuhkan dan menerima teknologi karena dapat memberikan solusi. Namun penemuan satu teknologi akan menimbulkan masalah yang harus diatasi dengan penemuan teknologi baru yang lebih efektif. Pengguna teknologi perlu menyadarinya untuk senantiasa melakukan perbaikan atau penyempurnaan dalam menghadapi risiko karena teknologi tinggi selalu mempunyai risiko jika diterapkan. Namun penerapannya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan dan nilai-nilai baru.

Lantas kita sudah siap dengan nuklir? Penerapan teknologi tinggi seperti PLTN selalu membutuhkan disiplin dan memperhatikan detail. Orang Jerman mengatakan, setan ada dalam detail. Artinya, memperhatikan detail penting untuk mengurangi risiko. Ketika mengunjungi Puspitek Serpong Juli lalu, Presiden Yudhoyono mengatakan, bangsa Indonesia kurang teliti, kurang cepat, kurang inovatif, dan kurang mengembangkan bidang riset dan teknologi. Lantas, apa kita sudah siap untuk membangun PLTN?

Suara Pembaruan, 18 September 2007

Nasib Irak dan Korut Memang Beda

Menyusul pengumuman uji nuklir Korut, Presiden George W Bush yang dikenal keras dalam soal proliferasi nuklir, Rabu (11/10), menegaskan, AS tidak akan menyerang Korut. Pernyataan Presiden Amerika Serikat itu serta-merta menimbulkan pertanyaan luas, mengapa ia bisa bersikap begitu terhadap Korut, sementara terhadap Irak ia seperti terburu-buru melakukan serangan ke Irak, meski dasar untuk melakukan hal itu kemudian tidak terbukti.

Ya, nasib Irak tampaknya memang berbeda dengan nasib Korut. Oleh kebijakan tokoh yang sama, kini Irak tampak semakin tenggelam dalam kekacau-balauan.

Semua itu tak diragukan lagi dipicu oleh invasi AS yang dilandasi oleh tuduhan bahwa Irak mengembangkan senjata pemusnah massal. Kita semakin merasa bahwa Irak merupakan satu tragedi justru ketika tuduhan AS itu tidak terbukti.

Dengan mengangkat kontras antara Irak dan Korut, tidak berarti kita pro terhadap serangan ke Korut. Kita sekadar mengamati bahwa memang Korut berbeda dengan Irak. Sebelum menyerbu Irak, AS memang menghadapi tentangan bahkan dari sekutu-sekutu Barat dan Arabnya. Kini tentangan terhadap ide menyerang Korut paling keras justru datang dari Korsel dan China.

Masuk akal kalau Korsel keberatan Korut diserang. Pertama, tentu Korsel melihat pengaruh langsung serangan tersebut terhadap keamanan dirinya, karena Korut yang diserang pasti akan melakukan pembalasan kepada Korsel juga. Berikutnya, serangan terhadap Korut juga akan mengubur kemungkinan tercapainya perdamaian di Semenanjung Korea, yang ada justru jatuhnya banyak korban di antara warga kedua Korea yang beberapa waktu terakhir justru sedang giat mengembangkan kontak.

Dalam konferensi pers hari Rabu (11/10), Bush menjelaskan mengapa tidak akan menyerang Korut, yaitu karena diplomasi masih bisa diharapkan.

Diplomasi yang diharapkan adalah diplomasi multilateral, bukan diplomasi satu lawan satu. Menengok pengalaman hari kemarin, perundingan multilateral kelihatannya mendekati hasil, padahal gagal, karena Korut pada dasarnya ingin perundingan langsung dengan AS.

Meski demikian, perundingan ini masih dijadikan sebagai gantungan AS dalam menangani masalah Korut. Apakah ini baik atau buruk, yang jelas perundingan itu membuat Korut tidak semalang Irak yang, meski tidak terbukti memiliki senjata pemusnah massal, harus menanggung derita seperti sekarang ini.

Kompas, Jumat, 13 Oktober 2006

Bahaya Sanksi bagi Korut

Harga yang harus dibayar Korea Utara atas percobaan nuklir awal pekan ini tidaklah kecil. Sanksi berat tampaknya akan segera dijatuhkan Dewan Keamanan PBB. Upaya menjatuhkan sanksi kepada Korut sedang digalang Amerika Serikat dan Jepang melalui DK PBB. DK PBB sendiri sudah mengingatkan Korut tentang bahaya sanksi, dua hari sebelum negara itu melakukan uji coba senjata nuklir tanggal 9 Oktober lalu.

Belum dirumuskan bentuk sanksi, tetapi sudah terbayang embargo ekonomi dan militer. Bahkan AS tidak mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

Posisi Korut sendiri sudah terjepit oleh kecaman, tekanan, dan kegusaran masyarakat internasional atas percobaan senjata nuklirnya. Tantangan akan semakin berat jika sanksi ekonomi dijatuhkan.

Tanpa sanksi ekonomi yang keras saja, Korut sudah sangat menderita. Jutaan rakyatnya terancam mati kelaparan. Ironisnya, Pemerintah Pyongyang lebih berkonsentrasi pada upaya pengembangan senjata nuklir yang menguras banyak dana dan perhatian.

Sudah terbayang, masyarakat Korut akan semakin menderita jika sanksi ekonomi dijatuhkan. Jika demikian, makna sanksi pun menjadi hambar dan dipertanyakan dari aspek kemanusiaan.

Apalagi penguasa Korut dipastikan tidak merasakan dampak atas sanksi itu. Selama ini para pemimpin dan elite Korut tetap berjaya di atas kondisi penderitaan mayoritas 23 juta rakyatnya.

Hampir pasti pula, sanksi belum tentu mampu menghentikan program senjata nuklir Korut. Lebih-lebih karena Pemerintah Korut yang merasa dikucilkan ingin menarik perhatian dengan program senjata nuklir.

Upaya menarik perhatian itu berbahaya karena terkait dengan senjata pemusnah massal yang mengandung risiko besar. Seluruh dunia telah terperangkap oleh isu nuklir Korut. Warga Asia dan global benar-benar cemas dan tertekan oleh ancaman bahaya kemanusiaan yang bersumber pada program nuklir Korut.

Sebelum menjadi runyam, sangat diperlukan upaya untuk melepaskan dunia dari mimpi buruk tentang bahaya senjata nuklir Korut. Sebenarnya juga telah lama muncul desakan bagaimana dunia dibebaskan secara total dari senjata nuklir.

Impian itu tidaklah gampang diwujudkan seperti dalam kasus Korut yang menantang opini dunia. Kesulitan serupa juga terdapat dalam menghadapi pemilik senjata nuklir lainnya seperti AS, Rusia, Inggris, Perancis, China, Israel, Pakistan, dan India, yang tetap enggan menghancurkan semua senjata pemusnah massalnya.

Kompas, Kamis, 12 Oktober 2006

Dunia Dibuat Panik oleh Korut

Segala tekanan dunia sama sekali tidak menghentikan niat Korea Utara melaksanakan uji coba senjata nuklir. Dunia benar-benar dibuat frustrasi, panik, dan gusar. Suka atau tidak, Korut kini menjadi negara kesembilan dalam jajaran pemilik senjata nuklir di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, China, India, Pakistan, dan Israel.

Uji coba hari Senin 9 Oktober itu dilakukan hanya dua hari setelah Dewan Keamanan PBB mengingatkan tentang konsekuensi serius atas rencana Korut mengadakan percobaan senjata nuklir.

Korut seperti sedang menantang dunia. Jauh sebelumnya, Korut diancam sanksi ekonomi lebih keras jika negeri miskin berpenduduk 23 juta jiwa itu nekat melakukan uji coba nuklir.

Sekalipun isu nuklir Korut sudah lama merebak luas, masyarakat Asia dan global tetap terguncang ketika percobaan nuklir benar-benar dilakukan. Percobaan itu juga dianggap sebagai kegagalan tim enam negara—Amerika Serikat, Rusia, China, Jepang, Korea Selatan, dan Korut—yang telah berusaha membujuk Pemerintah Pyongyang menghentikan program senjata nuklirnya.

China sebagai sekutu terdekat Korut dengan nada kasar menyebut percobaan itu sebagai pelanggaran mencolok dan tidak tahu malu melawan opini internasional. Korsel sebagai pihak yang merasa paling terancam menyebut percobaan nuklir itu sebagai ancaman berbahaya bagi stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang sedang berkunjung ke Korsel awal pekan ini menyebut percobaan nuklir Korut sebagai “tindakan yang tak dapat dimaafkan”, sedangkan AS menilai percobaan itu sebagai tindakan provokatif dan mendesak Dewan Keamanan PBB segera mengambil sanksi keras terhadap Korut.

Masyarakat global sangat cemas atas senjata nuklir Korut sekalipun negara itu bukanlah satu-satunya negara pemilik senjata nuklir. Sudah sering diwacanakan, senjata nuklir sendiri sudah sangatlah berbahaya. Potensi bahayanya akan bertambah besar jika berada di tangan negara atau pemerintah yang tidak bertanggung jawab.

Pemerintahan Korut yang Stalinis dipersepsikan dan dikategorikan sebagai rezim yang tidak bertanggung jawab seperti terefleksi pada sikap tidak peduli terhadap nasib rakyatnya. Jutaan rakyatnya dibiarkan menderita kekurangan pangan dan terancam mati kelaparan.

Atas dasar itu, muncul kekhawatiran tentang kemungkinan Pemerintah Korut kedodoran dalam program nuklirnya. Benar-benar menjadi petaka besar jika uranium sebagai bahan dasar nuklir jatuh ke tangan kaum teroris. Sungguh mengerikan!

Kompas, Rabu, 11 Oktober 2006

Dunia dalam Ancaman

Uji coba senjata nuklir Korea Utara (Korut) terjadi Senin (9/10) lalu, namun ledakannya seolah terus mengguncang Bumi hingga hari ini. Dari uji coba di bawah tanah itu, todongan terhadap perdamaian menyeruak. Dunia dalam ancaman.

Korut sedang mengubah ekuilibrium dunia, mengguncang bandul kehidupan. Kita belum tahu, kesetimbangan baru macam apa yang akan tercapai kelak. Jangan-jangan, perlombaan senjata lagi seperti di waktu-waktu lalu. Mungkin diawali Korsel, atau Jepang, mungkin pula Taiwan. Lalu, aktif lagilah nuklir India, Pakistan, dan Timur Tengah. Israel yang diam-diam sudah punya senjata ini pun akan semakin agresif.

Di Asia Timur, dengan kecemasan terhadap kegilaan Kim Jong-il, Jepang jelas paling siap. Teknologi nuklir negeri ini paling maju. Para analis memperkirakan Jepang mampu menggeser aktivitas produksi energi nuklirnya menjadi senjata pembunuh massal dalam waktu beberapa pekan saja.

Dengan uji coba nuklir, Korut sebenarnya sedang melepaskan diri dari jepitan. Lelah atas tekanan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya sejak 2002, kecewa atas sikap Cina, sahabat lamanya, yang menyetujui sanksi atas uji coba rudalnya, negeri ini memakai cara radikal berupa uji coba ledakan nuklir. Dunia mungkin cemas, tapi Korut berhasil meningkatkan posisi tawar secara dramatis.

Bayangkan kalau hulu nuklir pada ledakan Senin lalu dipasang pada Taepodong, rudal Korut. Tak ada benua yang tak terjangkau karena daya jelajahnya mencapai ribuan kilometer. Kita sedikit tahu bahwa negara yang dikucilkan itu mampu membuat rudal berdaya jangkau hingga 10 ribu kilometer. Benua Australia, Amerika, Eropa, Afrika bisa kena.

Tapi, datang dari Korutkah ancaman itu? Tidak sepenuhnya. Uji coba nuklir Korut adalah bagian dari ketegangan baru dunia pasca-Perang Dingin. Negara itu sebenarnya sudah menutup program nuklirnya pada 1994, namun kembali memperkuat diri pada 2002 akibat provokasi AS. Pemicunya adalah pernyataan Presiden George W Bush bahwa Korut, bersama Iran dan Irak, adalah ”axis of evil” alias ”poros setan”.

Korut tumbuh dalam dukungan ekonomi Cina, negara raksasa yang bagi Washington merupakan ancaman baru. Memakai jubah peperangan terhadap terorisme, AS mengalang kekuatan di Asia dan Australia, yang ujung-ujungnya adalah persiapan menghadapi kekuatan Cina. Kita tahu pendekatan-pendekatan Bush di kawasan ini acap berbau penangkalan terhadap Cina–misalnya dalam kebijakan serangan pre-emptive Australia, deputi AS di kawasan ini, yang akhirnya juga merugikan Indonesia.

Kini, dengan uji coba nuklir Senin lalu, situasi menjadi semakin rumit. Cina sebagai pendukung Korut dalam posisi gamang. Cina jelas membutuhkan Korut sebagai penyangga menghadapi Amerika Serikat di semenanjung itu, Jepang, dan Taiwan. Tapi, Cina pun cemas dengan gaya Kim Jong-il.

Menghukum Korea Utara? Cina tak terbukti mampu atau tulus. Ini tampak pada sikap saat Korut menguji rudalnya. Cina sama sekali tak mengurangi bantuan ekonominya. Satu alasan memang kekhawatiran akan gelombang pengungsi jika ekonomi Korut kolaps. Tapi alasan lainnya adalah geopolitik.

Kita bukanlah bagian luar dari situasi yang mencemaskan ini. Indonesia berada di dalamnya dan semestinya proaktif. Kita pernah menawarkan diri untuk menjadi penengah dan tawaran itu tak pernah kita cabut. Kita tak bisa sekadar menonton para gajah bertarung dan membiarkan para pelanduk terjepit di tengah-tengah.

Republika, Rabu, 11 Oktober 2006

Perundingan Nuklir yang Lebih Adil

SUHU politik di Semenanjung Korea memanas setelah Korea Utara (Korut) sukses menguji coba bom atom di Hwadaeri, Kilju, bagian timur negeri komunis itu, Senin (9/10). Dunia bereaksi keras atas aksi yang mengancam stabilitas kawasan Asia Pasifik itu.

Hampir semua negara menyalahkan Korut. Percobaan itu dinilai mengancam perdamaian kawasan dan memicu lahirnya kembali perlombaan senjata.

Langkah Korut memang mengundang keprihatinan. Saat dunia risau dengan kekerasan dan perang yang berkecamuk di Irak dan di Afghanistan, negeri itu bermanuver dan membuat dunia khawatir. Khawatir, bila manuver itu memicu perang lebih besar. Khawatir, bila provokasi itu mengarah kepada perang yang lebih memusnahkan karena menggunakan nuklir sebagai senjata pamungkas.

Namun, pantaskah semua kesalahan ditimpakan kepada Korut? Sungguh tidak adil menimpakan semuanya kepada sebuah negeri yang miskin, kelaparan, serta terus diisolasi dengan tekanan, embargo, dan sanksi. Terlebih negeri itu ‘baru’ pertama kali menguji coba bom nuklir.

Sedangkan Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya ribuan kali melakukan uji sejenis dengan level teknologi lebih canggih, dengan skala lebih besar, dan kekuatan ribuan kali lebih dahsyat.

Lantas, kalau AS boleh melakukannya, mengapa Korut tidak? Kalau sekutu Amerika dibiarkan? Mengapa Korut dan negara lain dilarang?

Kepemilikan senjata nuklir Korut itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan dari serangan AS. Bukanlah tidak mungkin AS menyerang negara tersebut karena bersama Irak dan Iran, Korut secara tegas dan jelas dikategorikan AS sebagai ancaman, sebagai musuh.

Kendati demikian, upaya mendorong Korut agar menghentikan percobaan senjata nuklir tetaplah sebuah opsi yang harus didukung. Dan menjadi kewajiban semua pihak yang terlibat dalam perundingan enam negara untuk membujuk Korut meneruskan kembali perundingan. Namun, itu harus didasari niat, sikap, dan bahasa yang lebih tulus, lebih bersahabat.

Menjatuhkan sanksi sekeras-kerasnya terhadap Korut bukanlah langkah kesatria dan terpuji. Apalagi Korut jelas dan tegas menyatakan niatnya akan menghentikan proyek bom bila seluruh sanksi ditanggalkan.

Kita ingin Semenanjung Korea bebas senjata nuklir. Lebih dari itu, kita mendambakan seluruh wilayah dunia terbebas dari bom atom. Karena itu, tepat saatnya menggunakan insiden Korut ini sebagai momentum untuk mendorong lahirnya perundingan nuklir yang lebih adil.

Perundingan yang tidak saja membatasi kepemilikan bom atom, tapi juga menghapus seluruh pemusnah massal yang telah ada. Tidak peduli siapa pun pemiliknya.

Media Indonesia, Rabu, 11 Oktober 2006


Blog Stats

  • 791,657 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.