Archive for the 'Olah Raga' Category

Perilaku Kekerasan

Apa sebenarnya yang terjadi di negara kita? Mengapa kita, terutama anak-anak muda, seringkali menyukai kekerasan? Tak percaya? Lihatlah beberapa pertandingan sepak bola dan konser musik di negara kita?

Dalam beberapa hari ini saja, anarkisme penonton telah menelan korban belasan nyawa. Semua yang menjadi korban kekerasan itu adalah anak-anak muda. Anak-anak muda harapan bangsa dan negara.

Di Bandung, tepatnya di Gedung Asia Afrika Cultural Centre (AACC) di Jalan Braga, sepuluh nyawa anak muda melayang sia-sia menjadi korban kekerasan saat menonton konser grup musik lokal Beside. Mereka menjadi korban desak-desakan sesama penonton ketika berebut masuk gedung pertunjukan. Mengapa mereka tidak mau antre dengan teratur dan tertib?

Di dunia olahraga, tepatnya sepak bola, seorang pemuda meninggal dunia menjadi korban kekerasan sesama suporter saat menyaksikan pertandingan semifinal Sriwijaya FC dengan Persija di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (06/02) lalu.

Pada pertandingan itu, Persija dikalahkan oleh Sriwijaya FC. Pendukung Persija yang tak bisa menerima kekalahan lalu mengamuk dan bentrok dengan pendukung Kesebelasan Sriwijaya. Akibatnya, seorang pendukung Persija tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Pertandingan final antara Sriwijaya FC dan PSMS akhirnya dialihkan ke stadion lain di luar Jakarta. Untuk menghindari kekerasan antarpendukung kedua kesebelasan, pertandingan hanya boleh ditonton oleh panitia dan wartawan. Pertandingan final yang semestinya menjadi puncak dan sekaligus pesta masyarakat sepak bola akhirnya sepi dari yel-yel para penonton.

Sebelumnya, baik dalam pertandingan sepak bola maupun konser musik, kita juga sudah sering disuguhi anarkisme penonton. Di dunia sepak bola, dalam beberapa bulan ini saja sudah terjadi beberapa kali kekerasan antarpendukung kesebelasan. Antara lain di Stadion Brawijaya Kediri dan Stadion Manahan Solo. Begitu pula dalam konser-konser musik.

Pertanyaannya, mengapa kekerasan antarpenonton, yang semuanya melibatkan anak-anak muda itu sering terjadi? Mengapa kita tidak bisa menerima fairness dalam pertandingan? Mengapa kita tidak mau secara jantan menerima kekalahan? Mengapa para penonton konser musik berebutan menyaksikan idolanya meskipun untuk itu harus saling sikut dan saling injak penonton lainnya?

Kita tentu tidak bisa menyalahkan semua kekerasan itu pada anak-anak muda. Kita, yang sudah dewasa, juga mempunyai tanggung jawab atas kekerasan yang terjadi pada anak-anak muda. Bukankah perilaku kekerasan anak-anak muda sebenarnya becermin pada perilaku kita yang sudah dewasa? Bukankah bila orang dewasa kencing berdiri, anak-anak muda lalu kencing berlari?

Harus kita akui perilaku kita orang dewasa selama ini memang seringkali jauh dari gambaran keteladanan. Demi jabatan, seorang yang telah dihukum penjara pun tetap ngotot mempertahankan kepemimpinannya di sebuah organisasi olahraga, dengan segala cara.

Demi jabatan, proses pemilihan kepala daerah seringkali harus berakhir dengan anarkisme antarpendukung calon. Demi menumpuk kekayaan, seorang pejabat tidak malu-malu lagi melakukan korupsi. Para wakil rakyat yang fungsi utamanya antara lain legislasi juga tidak segan meminta bayaran untuk memproses sebuah undang-undang.

Itulah gambaran perilaku kita yang sudah dewasa. Intinya, untuk meraih kekayaan, jabatan, dan kehormatan bila perlu harus kita lakukan dengan segala cara, termasuk dengan menelikung kawan maupun lawan, menipu, menyuap, main kayu, dan perilaku-perilaku kotor lainnya.

Sekali lagi, bila orang dewasa kencing berdiri, jangan salahkan bila anak muda kencing berlari. Perilaku anak muda tentu tidak jauh dari peringai orang dewasa. Orang dewasa edan, anak-anak muda akan gila gilaan.

Republika, Senin, 11 Februari 2008

Kekejian Sepak Bola Indonesia

CONTOH kemunduran peradaban kita sebagai bangsa dapat dilihat pada sepak bola Indonesia. Isinya main pukul, main hantam, menjadikan lapangan sepak bola padang penjagalan.

Sepak bola dengan semangat kekejian itulah yang kita saksikan di lapangan. Pemain memiting pemain lawan. Manajer klub membawa pistol dan melepaskan tembakan ke udara. Penonton yang tidak puas dengan keputusan wasit menganiaya hakim garis dan merusak stadion.

Semua yang tidak masuk akal di dunia sportivitas, itulah yang terjadi di dunia sepak bola Indonesia. Bahkan, yang tidak masuk akal itu, juga terjadi pada pengambilan keputusan di luar lapangan sepak bola.

Contohnya, tidak masuk akal, pelatih yang membawa aksi mogok kesebelasannya, malah dipilih menjadi pelatih nasional. Tidak masuk akal, komunitas sepak bola Indonesia bangga dipimpin seorang terpidana, yang sedang meringkuk di penjara. Tidak masuk akal, pemain dan pelatih asing yang dibawa ke negeri ini justru para begundal, yang menjadi pangkal keributan.

Tidak masuk akal, bagi akal yang waras. Mungkin di sini letak persoalan. Dunia sepak bola Indonesia, jangan-jangan tidak pas dilihat dengan akal sehat.

Sepak bola merupakan cabang olahraga yang paling populer di negeri ini. Paling populer, yaitu paling digemari rakyat. Mestinya, inilah pula olahraga yang paling disayangi, dan karena itu dipelihara dengan semangat peradaban yang tinggi.

Akan tetapi, kenyataannya, inilah olahraga paling tidak populer, karena buruknya prestasi dan buruknya kelakuan.

Bahkan, buruknya kelakuan itu dapat ditonton penggemar sepak bola di berbagai belahan dunia. Kerusuhan di Stadion Brawijaya, Kediri, misalnya, disiarkan stasiun televisi olahraga terkemuka ESPN.

Sepak bola mestinya bagian strategis mengharumkan nama bangsa. Sepak bola Afrika, contohnya, menghasilkan pemain kaliber dunia yang mewarnai sepak bola Eropa. Klub elite Eropa sekarang kelimpungan karena kehilangan pemain-pemain Afrika yang harus pulang untuk membela negaranya di Piala Afrika.

Sebaliknya, sepak bola Indonesia malah mencemarkan nama baik bangsa dan negara, di negeri sendiri. Lebih konyol lagi, pemain asing bukan menjadi contoh sportivitas, tetapi sumber premanisme.

Bertambah celaka, karena premanisme yang mencemarkan nama bangsa dan negara itu, juga dibiayai dengan uang rakyat. Yaitu, klub mendapat dana melalui APBD. Ini jelas bentuk kekejian tersendiri, selain kekejian yang terjadi di lapangan sepak bola.

Menilik kekejian itu, menimbang dampaknya kepada citra bangsa dan negara, ada beberapa langkah yang mesti diambil. Pertama, tinjau ulang kebijakan menyewa pemain dan pelatih asing. Segera buang pemain dan pelatih asing yang sebenarnya preman berkostum sepak bola.

Kedua, DPRD mengambil sikap menolak menyetujui membiayai klub sepak bola yang tidak sportif melalui APBD. Lebih baik anggarannya digunakan langsung untuk kemaslahatan rakyat.

Ketiga, sampai kapan PSSI dipimpin Ketua Umum dari penjara? Mesti ada keberanian menggantinya. Mesti ada kerelaan diganti. Demi kepentingan yang lebih besar.

Membiarkan PSSI dipimpin dari penjara, adalah juga kekejian moral tersendiri. Keji terhadap sang pemimpin, juga keji terhadap rakyat yang merindukan sepak bola yang sportif dan bermutu.

Media Indonesia, 19 Januari 2008

Potret Sepakbola Nasional

Memalukan! Itulah kata yang paling tepat untuk mengomentari kerusuhan yang terjadi di Stadion Brawijaya, Kediri, Jawa Timur, Rabu (16/1) malam lalu saat berlangsung pertandingan sepakbola Grup A Babak Delapan Besar Liga Djarum Indonesia 2007, Persiwa Wamena versus Arema Malang. Sebenarnya kata memalukan tersebut bukanlah yang pertama kali dilontarkan dalam konteks persepakbolaan nasional. Tindakan yang memalukan sering terjadi dalam pertandingan sepakbola di negeri ini. Oleh karena itu, tampaknya kalangan penggemar sepakbola di Indonesia melihat chaos di Stadion Brawijaya itu sebagai sesuatu yang wajar. Bahkan, secara ekstrem penggemar sepakbola itu akan bingung kalau suatu pertandingan tidak dibumbui oleh bentrokan di lapangan. Ada yang bilang ibarat sayur tanpa garam.

Pada Rabu malam itu suasana di Stadion Brawijaya membara. Api menyala di berbagai sudut stadion. Bahkan tiang gawang, yang menjadi incaran para pemain untuk menembuskan “si kulit bundar” pada saat pertandingan, tak luput dari api. Papan dan kursi yang biasanya menjadi tempat menyenangkan untuk menikmati pertandingan, berterbangan pada malam itu.

Lapangan hijau Brawijaya menjadi arena kemarahan sebagian pendukung tim Arema Malang, yang disulut oleh ulah seorang suporter yang tidak bertanggung jawab. Bukan hanya infrastruktur Stadion Brawijaya yang menjadi korban, tetapi juga harta benda penduduk yang tinggal di dekat lapangan olahraga itu tidak luput dari amukan massa. Dikabarkan, satu mobil yang sedang diparkir di dalam garasi rumah tak jauh dari stadion, dihancurkan. Ya, itu benar-benar perbuatan yang tidak bertanggung jawab.

Sekali lagi, tampaknya itulah potret persepakbolaan di Indonesia. Potret yang menggambarkan ketertinggalan dan ketidakpahaman akan arti sebuah pertandingan yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas atau fair play.

Kalangan penggemar sepakbola di negeri ini sepertinya sudah tidak bisa membedakan mana yang adil dan tidak adil. Sang pengadil di lapangan hijau, wasit, yang sebenarnya sudah bekerja dengan benar dan berusaha seadil-adilnya, tetap dinilai tidak adil oleh kalangan penonton. Fenomena itu terjadi sebagai efek dari kesalahan demi kesalahan yang terjadi sebelumnya dan mengakar sampai saat ini. Siapa tokoh dari kesalahan itu? Jawabannya, kalangan pelaku sepakbola itu sendiri. Dengan kata lain, tidak bakal ada asap kalau tak ada api.

Berkaitan dengan kerusuhan atau bentrokan yang terjadi di lapangan sepakbola yang akan dikedepankan di sini adalah benar atau tidaknya kesalahan dilakukan oleh wasit maka dalam suatu pertandingan wasit harus dihormati. Kalau pun seorang wasit salah atau dinilai tidak adil dalam memimpin jalannya pertandingan maka sudah ada pihak yang akan mengadilinya, sehingga tidak perlu dihakimi oleh pihak lain. Wasit juga manusia biasa yang bisa saja salah.

Mereka yang sudah memahami falsafah pertandingan, yaitu bisa menerima kemenangan dan bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, pasti hanya bisa mengelu-elus dada melihat kejadian memalukan di Stadion Brawijaya tersebut. Tetapi yang jelas, di bumi Indonesia ini masih banyak orang yang bercita-cita agar sepakbola Indonesia maju dari segala aspek, mulai prestasi tim nasional hingga kompetisinya. Hanya untuk bisa mencapai itu dibutuhkan kesabaran dan keberanian mengambil risiko yang terberat sekalipun. Semua itu diperlukan untuk menjadikan sepakbola nasional membanggakan dan sebagai hiburan yang tidak pernah membosankan.

Suara Pembaruan: 18/1/08

Sampai Titik Darah Penghabisan

Jujur saja kita sudah lama merasakan hilangnya rasa bangga pada bangsa sendiri. Kebanggaan itu seperti sudah menjadi barang langka. Terlebih setelah reformasi yang justru banyak diwarnai oleh ingar-bingar politik. Tidak sedikit politisi cuma sibuk memikirkan kepentingannya sendiri. Kepentingan rakyat hanyalah retorika belaka dan barang mainan yang cuma diperlukan untuk mengantar mereka ke kursi kekuasaan.

Tetapi, barang langka itu dalam sepekan terakhir ini terasa kental di setiap dada kita. Bukan dari kancah politik, melainkan dari lapangan sepak bola. Perjuangan keras yang diperlihatkan oleh tim ‘Merah Putih’ di kancah Piala Asia membuat kita semua sadar bahwa bangsa ini juga ”bisa”.

Diawali dengan kemenangan 2-1 atas Bahrain, rasa bangga pada Indonesia itu kian terasa ketika Sabtu lalu Bambang Pamungkas dan kawan-kawan menghadapi Arab Saudi. Meski akhirnya kalah 1-2, para pemain sudah menunjukkan perlawanan sampai tetes darah penghabisan. Dengan semangat tak kenal lelah, mereka membuat tim ‘Singa Padang Pasir’ itu kerepotan tidak hanya dalam menyerang tapi juga dalam bertahan. Hanya keberuntunganlah yang membuat Arab Saudi akhirnya menang di detik-detik terakhir.

Semangat juang para pemainlah yang membuat kita bangga. Walaupun akhirnya kalah, tapi mereka kalah dengan kepala tegak. Rasanya kita sudah jarang melihat kegigihan atlet-atlet kita di medan laga internasional. Tak salah bila kemudian seisi Stadion Gelora Bung Karno malam itu memberikan penghormatan sambil berdiri kepada seluruh pemain ketika keluar dari lapangan. Tepuk tangan bergemuruh dari dalam stadion dan hanya surut begitu lampu-lampu mulai dimatikan.

Rasa bangga itu pun mengalir begitu saja di setiap kesempatan. Tak ada yang dapat mengalahkan topik perjuangan keras tim nasional sepak bola kita, dalam setiap obrolan. Dukungan pun terus mengalir menjelang pertandingan hidup-mati melawan Korea Selatan (Korsel) petang ini di tempat yang sama. Tiket pun sudah terjual habis. Padahal, masih ribuan lagi yang ingin menyaksikan langsung perjuangan anak-anak Indonesia.

Kita berharap semangat juang tim Merah Putih tidak mengendor. Bermainlah sampai titik darah penghabisan. Jangan pernah menyerah sebelum wasit meniup peluit panjang. Kalaupun mati, matilah dengan terhormat di lapangan. Kekalahan Korsel oleh Bahrain 1-2 beberapa hari lalu merupakan sinyal kuat bahwa tim ‘Ginseng’ juga dapat dikalahkan. Mereka juga manusia yang ada saatnya lengah.

Selain semangat juang yang tinggi, kolektivitas merupakan kunci para pemain Indonesia tampil ”kesetanan” di dua laga terdahulu. Faktor itulah yang jelas-jelas dapat menutupi kelemahan teknik dan fisik mereka. Dengan kolektivitas yang rapi ternyata semua tujuan dapat digapai, baik dalam menyerang maupun bertahan. Tunjukkanlah itu semua malam ini sekali lagi kepada kami. Bukan apa-apa, ini karena kita bisa dan semestinya berdiri sejajar dengan Korsel.

Menang tentu menjadi harapan seluruh masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Tapi, janganlah itu menjadi beban berat. Hadapi dengan perjuangan tanpa kenal lelah. Sekali lagi, sampai titik darah penghabisan! Kalaupun kalah nantinya, kami tetap bangga. Karena kita sudah bertarung habis-habisan. Setidaknya, telah memberi contoh baik tentang semangat juang dan kolektivitas untuk bisa menjadi bangsa yang tangguh dan disegani.

Republika, Rabu, 18 Juli 200

Persis harus memberi bukti…

Hari ini, Sabtu (10/2), kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2007 akan digulirkan. Hajatan besar tahunan sepakbola nasional yang menelan biaya ratusan miliar ini bakal diikuti 36 tim dari seluruh wilayah di Indonesia, dan akan dibagi dalam dua wilayah, Barat serta Timur.

Bagi warga Solo dan sekitarnya, kompetisi tahun ini akan lebih terasa greget-nya mengingat tim kebanggaan mereka yang merupakan bond asli kota ini, Persis juga akan ikut bertarung. Sebelumnya, Solo memang pernah memiliki Arseto Solo pada era Galatama, kemudian dijadikan homeground dua tim luar dari Jakarta, yakni Pelita serta Persijatim. Namun tentu saja nilai rasanya berbeda antara memiliki kesebelasan kesayangan yang benar-benar berasal dari daerah sendiri dibandingkan dengan ”memiliki” kesebelasan yang mencari dukungan warga Solo karena di daerah asal kekurangan suporter.
Sebelum mengarungi kompetisi yang penuh liku, persiapan Persis menuju kompetisi Liga Indonesia 2007 sebenarnya juga penuh rintangan. Mulai dari belum cairnya dana untuk biaya kompetisi hingga ribut-ribut soal boleh tidaknya klub menggunakan dana APBD untuk berkompetisi. Kita tentu berharap rintangan itu tidak memadamkan semangat juang para pemain, yang medan pertempuran sesungguhnya baru akan mereka jalani mulai Sabtu ini. Kita tentu juga berharap persoalan yang mengadang selama persiapan, justru meneguhkan mental pengurus, manajemen maupun pemain untuk memberi bukti nyata berupa kemenangan demi kemenangan kepada masyarakat Solo yang sudah sepenuh hati mendukung mereka, pun kepada sebagian lain yang masih sanksi akan kemampuan Laskar Sambernyawa.
Kematangan pengurus, manajemen dan pemain Persis dalam menyikapi polemik maupun problematika yang menyertai persiapan tim ini, akan sangat berharga saat tim Kebanggaan wong Solo tersebut bertarung di Liga Indonesia. Pasalnya, belantara kompetisi Liga Indonesia juga bukan seperti medan datar yang mudah dilalui begitu saja. Di dalamnya terdapat berbagai rintangan, tekanan secara fisik maupun mental untuk bisa keluar sebagai juara sejati. Semangat juang yang saat ini membara, tidak mudah untuk dipertahankan hingga akhir kompetisi jika tidak memiliki kematangan dan strategi yang mumpuni untuk menghadapi rintangan-rintangan tersebut. Bagaimana teror penonton tuan rumah yang sangat mungkin terjadi, atau intimidasi wasit yang bisa muncul lewat pemberian keputusan-keputusan yang merugikan, semua tentu sudah harus diantisipasi oleh Persis.
Berada di Wilayah Timur, Persis tergabung di tim yang punya karakter permainan keras seperti Arema Malang, Persipura Jayapura, PSM Makassar dan juga satu grup dengan tim yang punya sejarah konflik antarsuporter, PSIM Yogyakarta. Ini tentu tidak mudah bagi Persis yang merupakan tim debutan di kancah Divisi Utama, namun sudah mematok target prestisius lolos ke Super Liga. Harapan kita, dengan dukungan penuh masyarakat Solo dan sekitarnya, Persis benar-benar bisa melalui kompetisi dengan manis, dan menorehkan kemenangan demi kemenangan lewat koridor sportivitas dan menjunjung tinggi fair play, sekaligus memberi bukti kucuran dana belasan miliar dari masyarakat yang diberikan kepada mereka, bukan sesuatu yang sia-sia belaka. –

sumber : solopos

Kita Jauh Ketinggalan

Pesta olahraga se-Asia atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Asian Games telah berakhir malam tadi. Kota Doha, Qatar, sebagai tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga multievent ke-15 sejak 1 Desember lalu ini akan menjadi saksi bisu babak belurnya atlet-atlet kita. Dengan kekuatan seratusan atlet yang ikut di 15 cabang olahraga, kita hanya mampu meraih dua emas, tiga perak, dan 15 perunggu. Kita harus puas di urutan ke-22 dari 45 negara peserta. Perolehan yang jauh dari target semula yang cuma membidik empat emas.Hasil tersebut memperlihatkan atlet-atlet kita masih jauh ketinggalan di antara negara Asia lainnya. Bahkan dibandingkan tetangga terdekat di kawasan Asia Tenggara saja kita masih berada di bawah mereka. Lihatlah Thailand yang mampu menyodok di peringkat kelima dengan 13 emas, atau Malaysia di peringkat ke-10 dengan delapan emas, Singapura di peringkat ke-12 dengan delapan emas, Filipina di posisi ke-18 dengan empat emas, dan Vietnam di posisi ke-19 dengan tiga emas. Sebuah hasil mengecewakan yang tentu saja patut mendapat perhatian dari semua pihak, tidak terkecuali Presiden.

Sebagai pemimpin nasional, sudah sepatutnya Presiden memberikan perhatiannya yang serius terhadap dunia olahraga nasional. Bukan apa-apa, kemajuan di bidang olahraga juga menunjukkan kemajuan sebuah bangsa. Lihatlah, bangsa-bangsa yang maju olahraganya adalah bangsa-bangsa yang juga maju di bidang lain seperti ekonomi, sains, serta peradaban.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini dunia olahraga kita memang mengalami kemunduran. Untuk menjadi juara umum SEA Games saja yang levelnya cuma Asia Tenggara, kita sudah sulit mencapainya. Kecenderungan ini juga terlihat di bidang lainnya, ekonomi misalnya. Kita kini sudah berada di bawah Malaysia dan juga Vietnam yang dalam beberapa dekade sebelumnya masih “berguru” kepada kita. Jangan bandingkan lagi dengan Thailand atau Singapura yang kian jauh meninggalkan kita.

Situasi Tanah air sekarang ini sebenarnya kita tidak buruk-buruk amat. Meski bergerak lambat, namun pertumbuhan ekonomi tetap ada. Kita seharusnya malu dengan hasil yang dicapai oleh tim sepak bola Irak. Negeri yang masih dicabik-cabik perang ini mampu lolos ke babak final olahraga paling populer ini. Berkaca dari situ, kita bisa berasumsi pasti ada yang salah dengan pola pembinaan olahraga Indonesia.

Untuk itu diperlukan perombakan total dalam manajemen pembinaan olahraga nasional. Sistem pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi di negara kita mungkin sudah tertinggal jauh dengan negara lain. Tak ada salahnya kita mencontoh negara-negara yang sudah maju. Di sinilah diperlukan keseriusan Presiden dalam menggarap bidang olahraga.

Tak ada salahnya kembali menghidupkan semboyan “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga”. Semboyan ini memiliki makna yang dalam. Masyarakat memang perlu diolahragakan, sementara olahraga juga patut dimasyarakatkan. Sebab, banyak hal positif yang dapat diambil dari olahraga itu sendiri. Paling tidak mengajarkan kita untuk selalu menjunjung sportivitas. Sifat ksatria ini nantinya dengan sendirinya akan menular untuk kehidupan di bidang lain.

Syukur-syukur kemudian dari kegiatan massal olahraga ini muncul bibit-bibit yang unggul dan bisa diharapkan bersaing di tingkat internasional. Kalaupun belum menemukan mereka yang berbakat, setidaknya sifat-sifat sportif bisa membawa dampak positif di tempat lain.

Republika, Sabtu, 16 Desember 2006

Medali Emas Taufik Hidayat

Prestasi pebulu tangkis nasional, Taufik Hidayat, yang merebut medali emas tunggal putra di Asian Games Ke-15 di Doha (Qatar) patut diberi acungan jempol. Di final Taufik mengalahkan pebulu tangkis Tiongkok, Lin Dan, dengan skor 21-15 dan 22-20.

Kita patut memberi acungan jempol bukan karena menantu Ketua Umum KONI Agum Gumelar itu berhasil mempertahankan gelar sebagai juara tunggal putra Asian Games Ke-14 Korea 2002, tetapi juga karena dengan kemenangan itu berhasil menambah emas bagi kontingen Indonesia yang sangat miskin prestasi.

Dengan tambahan medali emas dari Taufik, Indonesia untuk sementara mengoleksi dua emas. Bahkan, emas Taufik mungkin emas terakhir kontingen RI di Asia Games kali ini.

Inilah wajah prestasi olahraga nasional Indonesia di even internasional paling bergengsi bangsa-bangsa Asia itu. Dengan penduduk lebih 200 juta jiwa dan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, prestasi Indonesia sungguh mengecewakan.

Bandingkan, misalnya, dengan Thailand -tetangga di Asia Tenggara- yang penduduknya kurang dari 50 juta jiwa, untuk sementara berhasil mengoleksi enam medali emas.

Dari tahun ke tahun atau dari waktu ke waktu prestasi olahraga Indonesia di berbagai kejuaraan multicabang seperti Asia Games tetap saja berada di urutan kelas kambing. Tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Prestasi itu tidak sebanding dengan klaim politik para pemimpin nasional bahwa bangsa Indonesia adalah sebagai bangsa yang besar.

Apanya yang besar? Mungkin yang tepat hanyalah jumlah penduduknya. Yang lain, kebesaran itu hanya omong kosong. Pendidikan, misalnya, makin tertinggal dari Malaysia -tetangga serumpun- yang di masa lalu rakyatnya banyak sekolah ke negeri ini.

Dalam bidang ekonomi, kita juga sama sekali tidak besar. Dengan Singapura pun jauh ketinggalan. Bahkan, dengan Thailand dan Malaysia pun makin jauh tertinggal.

Mental dan daya saing bangsa ini dalam percaturan internasional juga makin lemah. Bangsa Indonesia makin tidak dianggap sebagai bangsa yang bakal mengancam dalam persaingan prestasi iptek internasional.

Dalam manajemen pemerintanan, birokrasi, dan politik sama saja. Transparansi internasional (TI) masih menggolongkan Indonesia sebagai negara paling korup.

Tingkat buruknya korupsi di negeri ini sangat memalukan karena sejajar dengan negara Afrika seperti Nigeria, Kongo, dan negara kecil di Pasifik, yakni Fiji. Peringkat korupsi seperti itu tidak sebanding dengan klaim sebagai bangsa yang berbudaya luhur dan masyarakatnya dikenal agamis.

Karena itu, prestasi-prestasi buruk wakil bangsa Indonesia dalam berbagai even internasional -pendidikan, olahraga, budaya, dan lain-lain- seharusnya menjadi introspeksi bagi para pemimpin bangsa, pengelola pemerintahan, dan pengelola negara.

Perlu dicarikan solusi dengan segera apa sesungguhnya yang terjadi dengan bangsa ini. Mengapa bangsa Indonesia makin jauh tertinggal dengan bangsa-bangsa lain hampir di semua bidang kehidupan? Mengapa pula moral, mental, dan daya saing bangsa Indonesia dalam percaturan internasional semakin lemah? Apa yang salah dengan bangsa Indonesia?

Indopos, Senin, 11 Des 2006


Blog Stats

  • 791,644 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.