Archive for the 'Pidato Paus' Category

Dunia Konservatif

Republika, Kamis, 21 September 2006

Seorang George Walker Bush saja sudah membuat dunia kelimpungan. Kini kita dikagetkan oleh lontaran Paus Benediktus XVI. Keduanya adalah pemimpin dunia yang sangat berpengaruh. Bush adalah seorang pemimpin dari satu-satunya negeri yang paling menentukan dunia.

Secara kebetulan Bush dikenal sebagai seorang penganut Kristen Protestan yang taat. Karena itu suatu kali ia begitu reflektif ketika mengucap kata crusade (perang suci atau Perang Salib) setelah Amerika Serikat diserang teroris. Atau ketika ia mengaku mendapat ilham dari Tuhan saat AS menyerang Irak. Sedangkan Sri Paus adalah pemimpin tertinggi umat Katolik di dunia. Pengaruhnya sangat menentukan arah perjalanan dunia. Karena itu, ketika Paus membuat pernyataan yang sensitif, langsung mendapat reaksi luas.

Kata ”sorry” –bukan ”apologize”– yang diucapkan Paus begitu penuh sayap, sehingga tak jelas apa yang disesalinya dan boro-boro dimintakan maafnya. Sejumlah pihak mencoba melakukan ‘pelembutan’ terhadap pernyataan Paus: Hanya mengutip pernyataan orang lain, alpa, dan tak ditujukan untuk menyakiti umat Islam. Namun jika kita membaca keseluruhan naskah pidatonya, akan terlihat bahwa kutipan dari pernyataan Kaisar Bizantium, Manuel II, merupakan satu kesatuan utuh dari substansi pemikiran Paus.

Sungguh tak bijak seorang pemimpin tertinggi suatu agama mengutip kata-kata ”evil, inhuman, sword” secara begitu saja. Apalagi di tengah ketegangan hubungan antara Islam dan Kristen akibat persekusi yang dilakukan Bush setelah tindakan barbar teroris. Di saat seperti ini kita merindukan mitra sekualitas Paus Johanes Paulus II: Aura wajahnya menyinarkan kesabaran dan kelembutan.

Jika menengok ke belakang. Berabad lampau, sembilan kali perintah ”crusade” dilontarkan oleh Paus, sebuah aksi penyerbuan militer atas semangat agama. Setelah itu dunia mengenal apa yang dinamakan episode ”old imperialism”. Itulah sebuah semangat ekspansi menaklukkan berbagai negeri dan bangsa di dunia dengan menggabungkan tiga motif sekaligus –”gold, glory”, dan ”gospel”.

Paus membagi dua dunia untuk Spanyol dan Portugal. Karena memang ”crusade” secara historik tak hanya ditujukan bagi Islam tapi juga bagi kaum pagan Eropa di masa lalu, yang kemudian mendapat lahan baru seperti Indian atau kaum tribal di Afrika. Masa imperialisme modern datang ketika negeri-negeri Protestan di Eropa mengikuti jejak Portugal dan Spanyol. Kini, sejarah mencatat punahnya banyak peradaban dan etnis di dunia akibat dua masa imperialisme tersebut. Peta penganut agama pun ikut berubah. Jadi jalan pedang yang mana yang dipertanyakan?

Namun, apapun, ajaran Islam sangat menganjurkan untuk bersabar dan memberi maaf. Apalagi kata Islam itu sendiri bermakna damai. Karena itu para pemimpin Islam di dunia, kendati membuat pernyataan protes, tetap mengimbau kepada umat Islam untuk tenang dan memberi maaf. Alhamdulillah, walau ada sedikit riak, secara umum umat Islam sangat terkendali. Hanya saja peristiwa ini akan tetap dicatat. Rasa waswas dan waspada menjadi terbit. Apakah ini bukan ”water test”? Dari Iran ada kecurigaan bahwa pernyataan itu terkait dengan Bush. Mungkinkah Bush bertindak pada tataran fisik dan politik, sedangkan Paus secara pemikiran dan keyakinan? Kita berharap kecurigaan ini tak muncul dan tak benar.

Peradaban telah jauh bergerak maju. Pergaulan antarbangsa, antarkeyakinan, dan antarkebudayaan telah memasuki fase baru. Semangat untuk hidup bersama secara damai telah menjadi kesadaran bersama. Kita berharap petualangan Bush, lontaran Paus, dan terorisme hanyalah interupsi. Bukan sesuatu yang permanen. Masih banyak hal yang lebih penting untuk diselesaikan bersama. Kita makin sadar bahwa kemiskinan di satu negeri bisa menjadi beban bagi negeri yang lain. Sebuah penyakit di satu desa terpencil bisa segera menyebar ke berbagai penjuru dunia. Gempa bumi di Aceh bisa merusak puluhan negeri. Kita butuh pemimpin yang bervisi ke depan untuk peradaban yang damai.

Iklan

Menyikapi Pernyataan Paus Benediktus XVI

Tajuk Republika, Senin, 18 September 2006

Bagaimanakah kita menyikapi pernyataan pemegang tampuk Takhta Suci Gereja Katolik Roma, Paus Benediktus XVI? Ketika berceramah tentang teologi di Universitas Regensburg, Jerman, beberapa waktu lalu, ia menyatakan, “Tunjukkan padaku apa yang baru dari Muhammad (Nabi Muhammad SAW), dan yang kau temukan hanyalah hal yang berbau iblis dan tak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan agama dengan pedang.”

Kita tidak tahu bagaimana dan apa konteksnya ketika ia menyatakan hal itu. Kita juga tidak tahu apa tujuan dari pernyataannya tersebut. Apapun, pernyataan Paus itu telah melukai hati umat Islam di seluruh dunia. Bagi umat Islam, Muhammad SAW bukan hanya nabi dan rasul. Beliau juga teladan. Semua perkataan, perbuatan, dan sikap beliau menjadi ajaran yang harus diikuti umat Islam, yang lazim disebut Sunnah Nabawiyah atau Hadis Rasulullah SAW. Yang terakhir ini bahkan menjadi salah satu sumber ajaran Islam setelah Alquran.

Bukan hanya itu, setiap kali shalat umat Islam juga diwajibkan untuk selalu mengucapkan shalawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Yakni ketika duduk bertahiyat. Pun ketika mengawali berdoa, umat Islam disunatkan untuk bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW terlebih dahulu. Bahkan mengagungkan Nabi Muhammad SAW pun bagi umat Islam mempunyai nilai pahala.

Lalu bagaimana jika Muhammad SAW Sang Rasul dan Sang Nabi itu dilecehkan, direndahkan, dan bahkan dihujat? Marah! Ya, reaksi demikian tentu menjadi hal yang lumrah, dan bahkan merupakan keharusan. Bagi umat Islam, nyawa pun bisa dikorbankan demi membela Nabi Muhammad SAW dan agama Islam.

Kondisi demikianlah yang tahun-tahun terakhir ini melingkupi umat Islam. Kita belum lupa bagaimana sebuah koran di Norwegia menurunkan beberapa karikatur yang merendahkan Nabi Muhammad SAW. Kita juga masih ingat bagaimana Presiden Amerika Serika George W Bush menyebut Islam sebagai fasis. Lalu beberapa waktu lalu, Paus Benediktus menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai yang menyebarkan Islam dengan pedang, tak manusiawi, dan bahkan bau iblis.

Sekali lagi, bila umat Islam marah, kita menganggap hal itu sebagai reaksi yang wajar. Namun, kita juga ingin mengingatkan bahwa Nabi Muhammad juga mengajarkan kasih sayang dan saling memberi maaf. Beliau mengajarkan untuk menciptakan kedamaian dan perdamaian. Karena itu kita mengajak dan mengimbau kepada umat Islam, terutama umat Islam di negeri ini, hendaknya kemarahan itu tetap terukur. Tidak destruktif dan merusak, apalagi sampai mengakibatkan konflik antar-umat beragama.

Kerukunan antar-umat yang selama ini susah payah terus kita bina dan usahakan jangan sampai terhenti. Kepada umat Kristiani, terutama dari Katholik, kita juga menghimbau agar tidak terprovokasi. Kita yakin bahwa semua agama tentu mengajarkan kasih sayang dan kedamaian.

Sedangkan kepada pemerintah, kita berharap hendaknya bisa bersikap tegas. Tidak cukup Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para pembantunya hanya mengeluarkan pernyataan ‘menyesalkan’ pernyataan Paus Benediktus. SBY sebagai presiden dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia harus berani, misalnya, menarik duta besar Indonesia untuk Vatikan sebagai protes atas pernyataan Paus yang menghina dan merendahkan Nabi Muhammad SAW.

Kita khawatir bila pemerintah tidak segera bersikap tegas, maka umat Islam sendiri yang akan ambil peran, misalnya dengan aksi unjuk rasa secara besar-besaran. Bila ini yang dilakukan, kita khawatir justru menjadi hal yang kontraproduktif, dan bahkan bisa mengganggu stabilitas nasional. Apalagi hari-hari ini adalah menjelang bulan suci Ramadhan, di mana emosi umat Islam sangat sensitif.


Blog Stats

  • 803,119 hits
November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.