Archive for the 'Politik AS' Category

Amerika Bermain Api di Teluk Persia

– Amerika mengirim kapal-kapal perang baru, termasuk kapal induk, ke perairan Teluk Persia untuk menambah tekanan terhadap Iran dan Suriah. Hal itu dilakukan pada saat emosi masih tinggi di kawasan tersebut, menyusul eksekusi mati Saddam Hussein dengan cara digantung tepat pada saat umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha. Tampaknya pemerintahan Presiden George W Bush sama sekali tidak peduli pada emosi yang berkembang dan lebih mengutamakan kebijakannya yang suka campur tangan pada urusan negara lain. Iran diintimidasi karena melakukan pengayaan uranium, sementara Suriah sudah lama diincar untuk dihancurkan.

– Semakin jelas bahwa sikap Amerika yang memosisikan diri sebagai polisi dunia bukannya menenteramkan, sebaliknya meresahkan masyarakat internasional. Kapan saja dan di mana saja seolah-olah boleh bertindak semaunya tanpa ada negara lain atau lembaga internasional yang dapat menghalangi. Kawasan Timur Tengah paling diincar bukan saja karena kaya minyak, tetapi juga karena faktor kepentingan Israel. Selama Timur Tengah dapat dipecah belah, perjuangan bangsa Palestina untuk mendirikan negara merdeka hanya akan menjadi impian selama-lamanya. Apalagi Palestina sekarang pecah sendiri di dalam, juga gara-gara intervensi AS.

– Tetapi Iran dan Suriah bukan Irak. Washington dengan mudah menaklukkan Bagdad dan menghancurkan pemerintahan Saddam pada 2003 lalu karena rakyat Irak terpecah belah. Sebaliknya, rakyat Iran dan Suriah bersatu menghadapi ancaman yang berulangkali dilontarkan AS. Sekalipun rakyat Iran terpecah dalam kubu moderat dan konservatif (pendukung para mullah), mereka kompak dalam satu hal: melawan musuh bersama, AS. Begitu juga Suriah. Sejak dulu rakyatnya mendukung penuh kebijakan pemerintah yang anti-Amerika. Saat Perang Dingin, Suriah berada di kubu Uni Soviet. Secara historis mereka bermusuhan dengan Amerika sekalipun Soviet telah bubar.

Show of force armada kapal perang Amerika di perairan Teluk sangat disayangkan. Washington belum dapat “memadamkan api” yang disulutnya di Irak, namun sekarang sudah mencoba bermain api di dua negara tetangga Irak. Atau, Bush memang ingin mengalihkan perhatian dunia? Tentu tak semudah itu. Tiap hari bom meledak, nyawa manusia melayang, termasuk nyawa serdadu Amerika sendiri. Peliputan gencar media internasional membuat mata dunia takkan mengalihkan perhatian pada perkembangan di Irak. Melepaskan tanggung jawab sungguh tidak bermartabat. Bangsa Amerika tidak boleh cuci tangan, karena mereka dulu mendukung invasi ke Irak.

– Bukannya kita mendukung Iran meneruskan pengayaan uranium, yang secara teori memungkinkan negara para mullah itu membuat senjata nuklir. Namun ketika Iran diperlakukan tidak adil dan diskriminatif, nurani kita pun tergugah. Bukan pula kita senang melihat Iran-Suriah berperang melawan AS. Persoalannya memang harus ada yang berani melawan kesewenang-wenangan Bush dan menghentikan sikap hegemonik negara adidaya itu. Kalau tidak, negara mana pun berisiko dikuya-kuya AS. Peningkatan kekuatan US Navy di perairan Teluk mungkin hanya gertakan, tetapi mengingat kasus invasi ke Irak bisa saja Bush mewujudkan ancamannya.

– Kita mengharapkan ketegaran Iran dan Suriah, tidak seperti Libia yang tiba-tiba menjadi good boy setelah dikenai sanksi dan berbagai ancaman. Sayang, kedua negara tersebut sejauh ini berjalan sendiri-sendiri. Sudah tiba saatnya Teheran dan Damaskus beraliansi secara terang-terangan, menyingkirkan perbedaan sikap dan pandangan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka siap menghadapi invasi Amerika secara bersama pula. Ketika dua bangsa yang utuh bersatu dengan tekad penuh, rezim Bush pastilah akan berpikir dua kali untuk melakukan invasi. Sebaliknya mereka akan menjadi makanan empuk jika jalan sendiri-sendiri.

Suara Merdeka, Sabtu, 06 Januari 2007

Iklan

Saddam Dieksekusi, Dunia Terguncang

Dunia seperti terluka, murung, kecewa, terguncang, gusar, dan tercekam atas hukuman gantung terhadap mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Semasa berkuasa, Saddam memang dikenal kejam, dan karena itu banyak dikecam. Namun, dunia tidak bisa menerima pula kalau tokoh berusia 69 tahun itu akhirnya dihukum secara keji dan mengerikan.

Momentum pelaksanaan hukuman mati itu sendiri tidak tepat, mengundang kecaman karena dilakukan di tengah perayaan Idul Adha hari Sabtu 31 Desember.

Kekhusyukan, sukacita, dan makna pengampunan atas perayaan itu ternoda. Golongan Sunni Irak, yang menjadi basis sosial Saddam, benar-benar terpukul dan terhina.

Saddam yang gagah perkasa selama berkuasa tahun 1979-2003 tiba-tiba tidak berdaya, dihukum di tiang gantung atas tuduhan melakukan kejahatan kemanusiaan, antara lain memerintahkan pembantaian 148 warga Syiah tahun 1982.

Tokoh yang mengimpikan kembalinya kejayaan dan keagungan Babilonia itu juga dituduh bertindak represif, yang menewaskan ribuan warga Kurdi dan oposisi.

Sekalipun hukuman mati bagi Saddam sudah diramalkan, reaksi orang tetap saja terkejut dan terguncang. Bagaimanapun Saddam pernah menjadi pemimpin bangsa Irak.

Terlepas dari segala kesalahannya, hukuman atas Saddam terasa tragis karena Amerika Serikat dianggap berada di balik proses pengadilan penuh kontroversial atas mantan penguasa Irak itu.

Sejak awal invasi AS Maret 2003, Saddam memang dijadikan sasaran utama. Invasi AS tidak hanya menjatuhkan Saddam dan membuat Irak porak poranda, tetapi juga mendorong negeri itu ke dalam bahaya perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni.

Kejatuhan Saddam maupun ancaman perang saudara Irak terasa semakin tragis karena alasan AS untuk menyerang negeri itu terbukti tidak benar.

Pemerintahan Presiden AS George Walker Bush menyatakan, Saddam terbukti tidak terkait dengan serangan fantastis teroris 11 September 2001 di AS. Juga tidak terbukti Irak memiliki program senjata nuklir.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti kekejaman Saddam, jika mau dibanding-bandingkan, korban dan kerugian akibat invasi dan pendudukan AS atas Irak jauh lebih hebat dan mengerikan ketimbang masa kekuasaan Saddam.

Sekitar 655.000 warga Irak tewas sejak invasi AS Maret 2003. AS sudah kehilangan sekitar 3.000 personel pasukannya. Lebih mengerikan lagi, Irak terancam pecah oleh bahaya perang saudara.

Kompas, Rabu, 03 Januari 2007

Jangan Berharap AS Serta-merta Berubah

– Kubu Demokrat memang memenangkan pemilihan umum sela dengan mengalahkan Partai Republik. Namun jangan berharap terlalu tinggi Amerika Serikat akan serta-merta mengubah kebijakan luar negerinya. Dengan menguasai Kongres baik di Senat maupun House of Representative (DPR), kemenangan itu telah menebar harapan kepada dunia, negara adidaya itu akan mengubah kebijakannya mengenai Irak. Apalagi salah satu aktor utama invasi dan pendudukan Irak, Donald H Rumsfeld dua hari lalu mengundurkan diri sebagai Menteri Pertahanan digantikan mantan Direktur CIA Robert Gates. Mungkin yang bakal berubah hanya soal gaya.

– Pemilu kali ini menjadi semacam referendum mengenai Irak. Suara pemilih yang menentang perang Irak, bagaimanapun menjadi warna dominan. Boleh jadi pertimbangan utama para penentang George Walker Bush adalah ketidaksetujuan terhadap intervensi kedaulatan negara lain dan hak asasi manusia (HAM) terkait dengan jatuhnya banyak korban sipil. Para penentang itu, secara internal juga melihat peningkatan ancaman terhadap Amerika dan warganya akibat kebijakan hawkish pemerintahan orang-orang Republik dalam pola unilateral perang melawan terorisme. Ada pula sejumlah alasan lain, tetapi determinan yang utama tetaplah isu perang Irak.

– Akan adakah koreksi total bagi kebijakan luar negeri yang hegemonik itu? Dengan kekalahan Republik, dalam sisa dua tahun pemerintahannya, Bush diperkirakan akan terpojok walaupun tetap berposisi kuat karena presiden punya kewenangan penuh dalam kebijakan luar negeri, di samping sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata. Dengan perolehan kursi Senat hanya selisih tipis 51-49, masih ada keterbatasan Demokrat dalam mengontrol isu-isu kebijakan luar negeri dan pertahanan. Sebab mereka belum meraih mayoritas dua pertiga yang dibutuhkan untuk memveto kebijakan Presiden atau memberlakukan undang-undang.

– Politik luar negeri AS tidak dapat sepenuhnya diukur dari siapa yang menang: apakah Demokrat atau Republik dalam percaturan DPR dan Senat. Sikap hegemonik sebagai “polisi dunia” merupakan kultur yang terus dijadikan kebanggaan untuk mengontrol dunia, termasuk “mengatur” negara lain. Serangan ke Afghanistan dan Irak hanya bentuk lain di antara sikap-sikap yang sebenarnya sama. Hanya memang terhadap kedua negara itu Amerika menunjukkan kebrutalan luar biasa. Standar ganda yang diterapkan terhadap isu-isu Palestina – Israel sangat jelas menunjukkan di mana dan bagaimana Amerika memosisikan diri.

– Kita merasakan keberadaan akar masalah ideologis yang melatari kebijakan luar negeri Amerika, sehingga Washington tidak pernah bisa bersikap netral sepanjang itu menyangkut negara-negara yang berhadapan dengan Israel. AS menuntut pemahaman universal terhadap isu HAM dan demokrasi, tetapi tidak pernah mau mengakui produk demokrasi, manakala tidak sesuai dengan mindset mereka. Kemenangan kelompok Hamas dalam pemilu Palestina, misalnya, atau keterpilihan Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran. Selalu dikemukakan alasan untuk membentuk opini tentang keterancaman dunia dan Amerika yang harus “menyelamatkan”.

– Gaya kebijakan luar negeri Washington – diakui atau tidak – mendeterminasi terorisme internasional. Sudah banyak yang mengingatkan, termasuk rakyat Amerika, selama mereka masih bersikap tidak adil dalam isu Palestina, perlawanan akan terus terjadi dengan berbagai bentuk. Pemaksaan hegemoni dan intervensi juga terbukti “dilawan” dengan produk pemimpin-pemimpin dalam barisan anti-Amerika seperti Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia), atau Daniel Ortega (Nikaragua). Intervensi politik-ekonomi secara hegemonik atas nama demokrasi, malah membangkitkan perlawanan dan sentimen ideologis.

Suara Merdeka, Sabtu, 11 Nopember 2006


Blog Stats

  • 796,871 hits
September 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.