Archive for the 'Radikalisme' Category

Heboh atas Kematian Pengkritik Putin

Kasus kematian mantan agen spionase Rusia, Alexander Litvinenko, menimbulkan heboh besar, lebih-lebih karena Kremlin dispekulasikan terlibat. Heboh bertambah besar karena kematian Litvinenko hanya berselang sekitar satu bulan setelah kasus pembunuhan wartawan Rusia, Anna Politkovskaya, yang dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan Presiden Vladimir Putin yang represif atas pemberontakan di Chechnya.

Kematian Politkovskaya maupun Litvinenko menimbulkan heboh besar bahkan melampaui batas wilayah Rusia karena kedua orang itu dikenal vokal mengkritik pemerintahan Presiden Putin, yang dinilai cenderung represif dan otoriter.

Belum tersingkap otak dan pelaku atas kedua kasus kematian itu. Litvinenko meninggal di London, Inggris, pekan lalu karena keracunan. Sekitar sebulan sebelumnya, Politkovskaya tewas ditembak. Semakin kuat spekulasi, pemerintahan Putin berada di balik kasus kematian dua pengkritiknya itu.

Kebetulan Politkovskaya dan Litvinenko, yang sudah menjadi warga Inggris dan tinggal di London, dikenal vokal mengecam gaya kepemimpinan Putin yang cenderung represif, memasung kebebasan berekspresi, dan membungkam para lawan politiknya.

Politkovskaya melalui tulisannya sering mengecam Pemerintah Rusia yang mengandalkan pendekatan represif ketimbang dialog dalam mengatasi pemberontakan separatis di Chechnya.

Pemerintahan Putin sudah membantah keterlibatannya dalam kasus kematian dua pengkritiknya. Jika tidak diungkapkan secara jelas otak dan pelaku atas kematian kedua pengkritiknya itu, muncul spekulasi seperti sekarang ini. Efek spekulasi itu telah menambah prasangka buruk terhadap pemerintahan Putin.

Kasus kematian kedua pengkritiknya itu menimbulkan guncangan dan riak politik di Rusia. Tidak sedikit pula para lawan politik Rusia menggunakan kasus kematian Litvinenko dan Politkovskaya untuk mendiskreditkan Putin.

Apalagi kepemimpinan Putin sendiri menimbulkan kontroversi. Tidak sedikit yang memuji Putin atas kepemimpinannya yang tegas untuk memulihkan ketertiban, keamanan, melawan ancaman terorisme, dan mempertahankan integritas wilayah Rusia.

Para penentangnya mengecam Putin karena pemerintahannya cenderung represif dan otoriter. Tidak sedikit yang berspekulasi, kematian Litvinenko dan Politkovskaya terkait dengan gaya pemerintahan represif Presiden Putin. Namun, tidak gampang pula membuktikan kebenaran atas spekulasi itu.

Kompas, Senin, 27 November 2006

Iklan

Buka Dialog dengan Kelompok Radikal

Editorial Media Indonesia, Kamis, 14 September 2006
PERJALANAN sejarah Indonesia kerap diwarnai kehadiran kelompok garis keras. Berbagai motivasi melatarbelakangi gerakan-gerakan radikal seperti agama, etnik atau kedaerahan, ideologi, dan politik.

Orde Baru berhasil membungkam kelompok radikal dengan kekuatan militer. Setiap pemikiran yang berseberangan dengan pemerintah dimatikan. Namun, kelompok-kelompok itu hanya mati suri. Mereka kembali siuman pada era reformasi yang mengedepankan demokratisasi dan penghormatan kepada hak asasi manusia.

Kehadiran kelompok radikal di Tanah Air saat ini sudah menjadi sebuah fakta. Mereka memonopoli tafsir. Atas nama kebenaran yang dianut, mereka melanggar hak orang lain atau menabrak hukum.

Pendekatan represif atas kelompok radikal hanya mengembangbiakkan kekerasan. Itulah pelajaran yang bisa kita petik dari pergolakan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kekuatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak bisa padam dengan desingan peluru. Kekuatan bedil memang mampu mematikan raga, tapi tidak bisa memadamkan semangat. Hanya dialog yang mengantarkan GAM kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Kita juga bisa memetik hikmah dari kasus Amerika Serikat dalam membasmi terorisme. Negara adidaya itu hanya bisa menebar teror di Irak dan Afghanistan. Namun sama sekali tidak mampu melawan idealisme. Kedamaian yang diagungkan pun semakin jauh.

Sudah saatnya bangsa ini meninggalkan cara-cara represif. Sebab, kelompok moderat sekalipun bisa menjadi radikal setelah menyaksikan kekerasan demi kekerasan yang dipertontonkan di ranah publik.

Pemerintah perlu membuka diri untuk berdialog dengan siapa pun, termasuk kelompok garis keras dan orang-orang yang dituding sebagai teroris di Tanah Air. Dialog yang tulus mampu mengatasi sumbatan komunikasi. Sumbatan informasi justru memicu setiap orang atau kelompok mengambil jalan pintas.

Dialog tidak selamanya menggunakan jasa pihak ketiga seperti yang terjadi antara pemerintah dan GAM. Pemerintah harus mengambil inisiatif. Di sinilah letak persoalan bagi pemerintahan yang mementingkan citra semata. Hanya mau berdialog dengan kelompok pendukung dan cuma mau berbicara dalam temu kader sealiran politik.

Padahal, mengutip Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, pendekatan dialog akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang berbudaya dalam menghadapi kelompok garis keras.

Kehadiran kelompok garis keras bukan mustahil akibat kebijakan negara yang mengecewakan kebutuhan individu atau kelompok. Dialog mampu menjembatani perbedaan tafsir dengan tetap menegakkan supremasi hukum.

Pada akhirnya dialog tidak semata kewajiban satu arah, yaitu dari pemerintah ke masyarakat. Dialog harus juga menjadi pilihan dan tabiat utama masyarakat dalam menyelesaikan konflik horizontal maupun vertikal. Hanya dengan begini, negara dan bangsa tenteram nyaman.


Blog Stats

  • 803,645 hits
November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.