Archive for the 'Saddam Husein' Category

Irak Setelah Eksekusi Saddam

Pemerintah Amerika Serikat (AS) tak pernah segembira ini saat mendengar kabar eksekusi mati manusia. Begitu Saddam meninggal tercekik di tiang gantungan, lalu dimakamkan di Ouja desa kelahirannya, Washington langsung melontarkan pujian, menyebut peristiwa itu sebagai tonggak bagi pemulihan Irak.

Tonggak pemulihan? Kita cemas hal yang terjadi justru sebaliknya. Kematian ”jagal dari Tikrit” dan rencana Presiden AS, George W Bush, untuk meningkatkan jumlah tentaranya di Irak justru akan meningkatkan suhu kekerasan di negeri itu. Apalagi, kematian Saddam begitu provokatif: Digantung pada saat Muslim di Irak merayakan Idul Adha.

Sidang-sidang Saddam saja sudah terbukti membuat Irak kian membara. Kepastian hukuman mati untuknya pun memperburuk situasi. Jumlah korban sipil pada empat bulan terakhir mencapai separuh dari jumlah total korban pada 2006. Korban pada Desember 2006 mencapai 1.930 orang, atau tiga setengah kali lipat jumlah korban pada Januari 2006.

Rencana Bush untuk meningkatkan kekuatan militernya di Irak tak memicu harapan baru apapun. Agresi sejak Maret 2003 di Irak membuktikan kekuatan pasukan tak ada artinya. Hasil penelitian Lancet di negeri itu menunjukkan korban agresi, hingga Juli 2006, mencapai 655 ribu orang. Pasukan AS dan sekutunya pun tak berdaya apa-apa. Justru 3.000 orang serdadu AS turut tewas di Irak.

Bak ungkapan kecemasan Raja Yordania, saat hendak bertemu Bush tahun lalu. Skenario AS di Irak memicu perang saudara yang amat buruk. Muslim Sunni dan Syiah kini berhadap-hadapan, padahal peperangan ini sama sekali tak berkaitan dengan keyakinan agama.

Kita melihat pasukan AS dan sekutunya–yang tak pernah mendapat mandat sah dari manapun–telah kalah di Irak. Eropa cenderung berubah sikap. Sebagian negara lain pengirim pasukan malah sudah menarik diri. Tinggal pemerintah AS yang masih menunjukkan ego tak mau menerima kekalahan.

Bush terpojok pada titik tak bisa kembali, dan partainya menelan kekalahan memalukan pada pemilu lalu. Tapi ia berencana mengumumkan penambahan pasukan pada pekan-pekan ini dengan alasan untuk mengendalikan kekerasan. Bush dikabarkan tak lagi berencana melatih tentara dan polisi Irak melalui pasukan besar itu, melainkan hendak terjun langsung dalam pengamanan. Jadi, alih-alih mendapatkan janji kemerdekaan, Negeri Seribu Satu Malam malah kian robek dalam cengkeraman pasukan asing.

Kendati bukan penyelesaian atas agresi AS dan sekutunya, lembaga internasional sudah saatnya menggalang pasukan multinasional yang sah untuk membantu rakyat Irak mengatasi krisis ini. Kita tak mungkin menunggu korban berjatuhan hingga angka jutaan. Kita juga tak boleh membiarkan pasukan tanpa mandat sah terus memperkuat diri di negara berdaulat itu.

Pemerintah RI pernah menyodorkan usul pengiriman pasukan PBB saat Bush melakukan kunjungan yang amat mahal di Bogor pada November lalu. Tak ada respons yang memadai dari sang tamu karena usul kita bisa bermakna melucuti wibawanya. Namun, kita seharusnya konsisten mendorong pelaksanaan usul itu, tak berhenti pada saat kunjungan sang presiden. Tonggak kita bukanlah kematian Saddam di tiang gantungan. Kita lebih membaca nurani untuk tidak membiarkan korban kemanusiaan terus berjatuhan di Irak.

Republika, Rabu, 03 Januari 2007

Saddam Dieksekusi, Dunia Terguncang

Dunia seperti terluka, murung, kecewa, terguncang, gusar, dan tercekam atas hukuman gantung terhadap mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Semasa berkuasa, Saddam memang dikenal kejam, dan karena itu banyak dikecam. Namun, dunia tidak bisa menerima pula kalau tokoh berusia 69 tahun itu akhirnya dihukum secara keji dan mengerikan.

Momentum pelaksanaan hukuman mati itu sendiri tidak tepat, mengundang kecaman karena dilakukan di tengah perayaan Idul Adha hari Sabtu 31 Desember.

Kekhusyukan, sukacita, dan makna pengampunan atas perayaan itu ternoda. Golongan Sunni Irak, yang menjadi basis sosial Saddam, benar-benar terpukul dan terhina.

Saddam yang gagah perkasa selama berkuasa tahun 1979-2003 tiba-tiba tidak berdaya, dihukum di tiang gantung atas tuduhan melakukan kejahatan kemanusiaan, antara lain memerintahkan pembantaian 148 warga Syiah tahun 1982.

Tokoh yang mengimpikan kembalinya kejayaan dan keagungan Babilonia itu juga dituduh bertindak represif, yang menewaskan ribuan warga Kurdi dan oposisi.

Sekalipun hukuman mati bagi Saddam sudah diramalkan, reaksi orang tetap saja terkejut dan terguncang. Bagaimanapun Saddam pernah menjadi pemimpin bangsa Irak.

Terlepas dari segala kesalahannya, hukuman atas Saddam terasa tragis karena Amerika Serikat dianggap berada di balik proses pengadilan penuh kontroversial atas mantan penguasa Irak itu.

Sejak awal invasi AS Maret 2003, Saddam memang dijadikan sasaran utama. Invasi AS tidak hanya menjatuhkan Saddam dan membuat Irak porak poranda, tetapi juga mendorong negeri itu ke dalam bahaya perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni.

Kejatuhan Saddam maupun ancaman perang saudara Irak terasa semakin tragis karena alasan AS untuk menyerang negeri itu terbukti tidak benar.

Pemerintahan Presiden AS George Walker Bush menyatakan, Saddam terbukti tidak terkait dengan serangan fantastis teroris 11 September 2001 di AS. Juga tidak terbukti Irak memiliki program senjata nuklir.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti kekejaman Saddam, jika mau dibanding-bandingkan, korban dan kerugian akibat invasi dan pendudukan AS atas Irak jauh lebih hebat dan mengerikan ketimbang masa kekuasaan Saddam.

Sekitar 655.000 warga Irak tewas sejak invasi AS Maret 2003. AS sudah kehilangan sekitar 3.000 personel pasukannya. Lebih mengerikan lagi, Irak terancam pecah oleh bahaya perang saudara.

Kompas, Rabu, 03 Januari 2007

Eksekusi Mati Saddam Hussein

SADDAM Hussein akhirnya dihukum mati. Inilah eksekusi mati yang harus dicatat sebagai lembaran hitam dalam sejarah.

Lembaran hitam, sangat hitam, karena sesungguhnya tidak ada alasan untuk mengeksekusi mati Saddam Hussein. Kematian Saddam jelas lebih merupakan kehendak Presiden Amerika Serikat George Walker Bush.

Justru George Bushlah yang seharusnya diadili sebagai penjahat perang. Di bawah perintahnya, Amerika Serikat menyerang Irak dengan korban manusia yang tidak berdosa. Irak hancur dan hingga sekarang Amerika Serikat belum menyelesaikan kewajibannya merehabilitasi dan merekonstruksi Irak.

Kejahatan lain, Bush menggulingkan pemerintahan yang sah. Saddam Hussein merupakan presiden sah yang ditumbangkan dengan kekerasan perang. Sebuah bukti tersendiri bahwa Amerika Serikat yang menyebut dirinya sebagai kampiun demokrasi sebenarnya negara yang menghalalkan semua cara untuk meraih tujuannya.

Yang juga harus dicatat, Amerika Serikat tidak pernah menemukan yang dicarinya, yang menjadi alasan Amerika Serikat melakukan agresi militer. Irak tidak terbukti menyimpan senjata pemusnah seperti yang dituduhkan. Faktanya, alasan untuk menjatuhkan Saddam Hussein tidak pernah ditemukan, tetapi Saddam malah dieksekusi mati.

Padahal, hukuman mati bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia. Bukankah Amerika Serikat menganggap dirinya selain kampiun demokrasi juga kampiun HAM?

Semua itu jelas bukti sangat kuat yang menunjukkan betapa hipokritnya Amerika Serikat. Hipokrit, serta mau menang sendiri.

Sejarah juga harus mencatat bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Bush menjadi negara yang membabi buta. Atas nama antiterorisme, Bush membuat berbagai pembenaran menyerang Afghanistan dan Irak. Menjadi adikuasa, terlalu berkuasa, telah mematikan hati nurani Bush.

Padahal kekerasan akan menghasilkan kekerasan baru, ketidakadilan akan menghasilkan ketidakadilan baru. Ketika ketidakadilan terhadap siapa pun terjadi, termasuk terhadap Saddam Hussein, hal itu hanya akan melahirkan teroris-teroris baru di muka bumi ini. Kebijakan mengeksekusi Saddam itu jelas sangat kontraproduktif terhadap upaya memerangi terorisme untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Sangat ironis, pesan damai Natal dan semangat berkorban Idul Adha tidak berbekas baik di sanubari Bush maupun penguasa Irak sekarang.

Saddam Hussein telah dieksekusi mati. Kita turut berduka sedalam-dalamnya. Kiranya lembaran hitam seperti itu tak terjadi lagi di masa depan.

Media Indonesia, Senin, 01 Januari 2007

Keterjerumusan Irak dalam Konflik Sektarian

– Konflik sektarian (Suni versus Syiah) di Irak telah berkembang sedemikian buruk, sampai tidak ada lagi yang tampaknya bisa dilakukan untuk mendamaikan kedua sekte tersebut. Tidak Bagdad, apalagi Washington yang semula mengklaim menjadi sang pembebas Irak dari Sadddam Hussein. Serangan maut silih berganti dilancarkan kedua pihak. Ratusan bahkan ribuan orang telah menemui ajal secara sia-sia. Jumlah korban tewas atau luka di kalangan rakyat Irak itu mungkin jauh lebih banyak daripada korban yang jatuh akibat kekejaman rezim Saddam selama 30 tahun berkuasa sampai disingkirkan oleh invasi pimpinan Amerika Serikat, Maret 2003.

– Barangkali, tidak terbayangkan sebelumnya Irak akan terjerumus dalam perang saudara yang parah menyusul kejatuhan Saddam. Bahwa kelompok mayoritas Syiah akan membalas dendam pada minoritas Suni – yang menjadi masyarakat kelas satu selama Saddam berkuasa – memang telah diprediksi. Namun semula kita menduga, pemerintahan baru dukungan Washington – ditunjang pasukan pendudukan Amerika Serikat – mampu mengatasi situasi dalam waktu singkat. Nyatanya tiga tahun telah berlalu dan Irak bukannya menjadi negara demokratis yang aman dan makmur, sebaliknya malah amburadul. Di tengah kekacauan itu, Al Qaedah ikut bermain.

– Di tengah kebingungan, muncul wacana untuk mengajak Suriah dan Iran membantu memecahkan konflik tersebut. Gagasan itu mungkin tidak baik, mengingat kedua negara berpotensi membantu salah satu pihak yang bertikai. Iran adalah negara dengan penduduk berhaluan Syiah yang pernah berperang selama delapan tahun (1980-1988) melawan rezim ”Suni” Saddam. Sementara itu, Suriah sampai sekarang masih dikuasai Partai Baath (sosialis), yaitu partai yang juga berkuasa di Irak selama pemerintahan Saddam Hussein. Keterlibatan emosional kedua negara tersebut dengan pihak-pihak yang bertikai bisa saja malah memperburuk situasi.

– Sedikit harapan bisa jadi muncul dari forum Liga Arab yang para menteri luar negerinya akan mengadakan pertemuan di Kairo, 5 Desember mendatang, dengan agenda utama soal Irak. Namun berdasarkan pengalaman masa lalu liga tersebut, agaknya juga tidak bisa diharapkan dapat mencarikan solusi. Liga secara sinis dituding hanya sebatas NATO (no action talk only). Masalah Palestina dan Lebanon saja tidak bisa dipecahkan karena hanya komitmen dan janji yang ditebar, bukannya tindakan nyata di lapangan. Namun, bagaimanapun kita lihat saja dahulu langkah macam apa kira-kira yang akan diambil lewat pertemuan di Kairo tersebut.

– Untuk memecahkan suatu konflik, terutama yang sudah telanjur parah, biasanya diperlukan ”orang kuat” penuh wibawa yang mampu bertindak tegas. Dalam kaitan ini, kita mau tak mau mesti berpaling pada sosok Saddam Hussein yang telah divonis mati atas kejahatan kemanusiaan yang dia lakukan pada masyarakat Syiah. Mantan presiden itu tidak disangsikan lagi masih dicintai kaum Suni, terutama di Tikrit dan sekitarnya. Dialah yang tampaknya masih bisa mengendalikan kelompok itu. Kenyataan perlawanan kelompok tersebut makin sengit belakangan ini, pasti tidak terlepas dari vonis yang dijatuhkan kepada bekas penguasa Irak itu.

– Mengampuni Saddam mungkin solusi yang ekstrem. Jelas hal itu sulit dilakukan walaupun pengampunan terhadap seorang eks pemimpin – berdasarkan pengalaman di banyak negara, termasuk Filipina – biasanya dapat menenangkan para pengikutnya. Langkah selanjutnya, beri status otonomi khusus untuk kaum Suni di wilayah utara Irak, berbatasan dengan wilayah otonomi khusus Kurdi saat ini. Jangan mengandalkan Amerika Serikat. Jika pasukan pendudukan angkat kaki, Irak bakal bernasib sama dengan Vietnam Selatan dan Kamboja yang ditinggalkan begitu saja pada 1975. Vietkong dengan leluasa menghabisi musuhnya. Jangan sampai Irak juga menjadi killing field.

Suara Merdeka, Rabu, 29 Nopember 2006

Kekerasan Ideologi Amerika Serikat

SADDAM Hussein akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Sebuah vonis yang tidak mengagetkan Saddam, karena ia sendiri sudah menduga akan dijatuhi hukuman mati.

Dapat dipastikan, banyak orang pun telah menduga Saddam akan dihabisi. Pengadilan hanyalah kedok Amerika Serikat, semata untuk memberi kesan kepada dunia, bahwa Saddam divonis setelah melalui proses peradilan yang diselenggarakan oleh pengadilan Irak. Saddam pun menganggap pengadilan Irak sebagai sebuah drama komedi.

Amerika Serikat di bawah kendali Presiden George W Bush memang tidak hanya ingin menghancurkan kekuasaan Saddam, tetapi juga menghabisinya sebagai manusia. Untuk itu, negara adidaya itu akan menghalalkan semua cara.

Perlakuan Amerika Serikat terhadap Irak dan Saddam Hussein adalah contoh paling brutal bagaimana kekerasan ideologi Amerika Serikat diterapkan. Atas nama perdamaian dunia, ia menghancurkan Irak sekalipun tidak menemukan Irak menyimpan senjata pemusnah massal. Atas nama demokrasi, Amerika Serikat sah menggulingkan pemimpin yang legal berkuasa dengan senjata perang. Dan tidak usah heran, jika Amerika Serikat yang berkoar-koar sebagai pendekar hak asasi manusia itu membiarkan Saddam Hussein dihukum mati dengan cara digantung.

Amerika Serikat juga tahu betul bahwa menghukum mati Saddam hanya akan menimbulkan konflik yang lebih tajam antara Syiah dan Sunni. Syiah bergembira, sebaliknya Sunni mengutuk vonis itu. Namun, Amerika Serikat yang sok menghormati perbedaan itu tidak peduli akan adanya perbedaan aspirasi warga Irak itu.

Oleh karena itu, dikhawatirkan hukuman mati Saddam justru memicu konflik horizontal yang lebih keras antara warga Syiah dan warga Sunny. Juga akan membakar perlawanan yang lebih militan kepada Amerika Serikat dan pemerintah bentukannya melalui bom bunuh diri.

Kekerasan ideologi Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara superpower memang harus dihentikan. Dewan HAM PBB mestinya bersuara keras, sangat keras, menentang hukuman mati Saddam Hussein. Juga negara-negara yang tergabung dalam Gerakan Non-Blok dan Organisasi Konferensi Islam, misalnya, seharusnya juga berupaya sekuat-kuatnya menekan Amerika Serikat.

Sebab, membiarkan Amerika Serikat sesukanya sendiri, mentang-mentang berkuasa, justru berbahaya bagi keselamatan umat manusia. Perang dunia yang menghancurkan justru yang akan meletus, jika Amerika tidak tahu diri, lalu misalnya memperlakukan Korea Utara seperti Irak, hanya untuk menggulingkan Kim Jong Il seperti menggulingkan Saddam Hussein.

Sebab, kekuasaan yang tidak bisa dikontrol adalah berbahaya.

Media Indonesia, Senin, 06 November 2006

Vonis Hukuman Mati atas Saddam

Banyak kalangan terperangah ketika vonis hukuman mati dijatuhkan kepada mantan Presiden Irak Saddam Hussein hari Minggu 5 November. Sekalipun vonis hukuman mati itu sudah diramalkan, reaksi orang tetap saja terkejut dan terperangah. Bagaimanapun Saddam pernah menjadi pemimpin Irak.

Saddam dijatuhi hukuman mati atas tuduhan melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap 148 warga Syiah tahun 1982. Pembunuhan terhadap 148 orang itu dilakukan setelah terungkap rencana pembunuhan atas dirinya.

Heboh atas pengadilan Saddam bertambah karena saudara tirinya, mantan Kepala Intelijen Barzan Ibrahim, dan mantan Kepala Pengadilan Revolusioner Awad Hamed al-Bandar, juga divonis mati. Sementara mantan Wakil Presiden Taha Yassin Ramadan divonis penjara seumur hidup, dan hukuman belasan tahun penjara bagi beberapa mantan anggota staf Saddam.

Terlepas dari kesalahan Saddam, pengadilan dirinya sejak awal menimbulkan kontroversi karena dianggap sebagai bagian dari rekayasa Amerika Serikat, yang menginvasi dan menduduki Irak sejak tahun 2003.

Bahkan, ada yang berspekulasi, vonis terhadap Saddam seperti dipaksakan menjelang pemilihan Kongres AS hari Selasa 7 November besok. Pemerintahan Presiden George Walker Bush dari Partai Republik tampaknya menggunakan isu Irak untuk mendapatkan dukungan politik dalam menghadapi pemilu 7 November.

Kehadiran AS di Irak dikatakan Bush sebagai bagian dari kampanye melawan terorisme. Argumentasi itu tidak banyak menggugah hati rakyat AS, sejauh dapat dilihat dari jajak pendapat. Semakin banyak rakyat AS menuntut penarikan segera pasukan dari Irak.

Serangan dan pendudukan atas Irak terasa bertambah tragis karena segala tuduhan untuk menyerang Irak terbukti tidak benar. Irak tidak memiliki program senjata nuklir. Juga terbukti Saddam tidak terkait dengan serangan teroris 11 September 2001.

Keadaan bakal lebih runyam lagi sebagai implikasi atas vonis mati terhadap Saddam. Belum diketahui kapan eksekusi dilaksanakan, tetapi komunitas Sunni, dari sana Saddam berasal, langsung bergolak. Sebaliknya golongan Syiah menyambut gembira atas hukuman terhadap Saddam. Perbedaan reaksi ini hanya meningkatkan ketegangan di antara dua kelompok, yang cenderung bertikai dalam beberapa bulan terakhir.

Para pengamat mencemaskan kemungkinan merebaknya perang saudara antara golongan Syiah dan Sunni sebagai komplikasi atas vonis mati bagi Saddam. Masa depan Irak benar-benar dipertaruhkan.

Kompas, Senin, 06 November 2006


Blog Stats

  • 791,657 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.