Archive for the 'Suharto' Category

Pahlawan

Kegesitan kerap memicu rasa kagum. Namun, langkah cepat Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR, mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan nasional, justru membakar kontroversi. Bukan sekadar soal kelayakan sang tokoh yang baru wafat ini, tapi juga motif pengusulan.

Ketua FPG DPR, Priyo Budi Santoso, menyebut usulnya itu sebagai ijtihad politik. Soeharto, menurut dia, memiliki banyak jasa kepada bangsa dan negara. Priyo menilai jasa-jasa penguasa Orde Baru tersebut melampaui khilaf dan kekurangan yang ia lakukan pula.

Tampaknya FPG sedang memanfaatkan suasana yang berbalik romantis setelah proses sakit Soeharto yang panjang dan dramatis –terutama di TV-TV– hingga wafat pada Ahad (27/1) lalu. Muncul kenangan-kenangan manis pada sebagian masyarakat tentang masa indah era Orde Baru. Kenangan yang kian terasa manis karena tidak mereka dapatkan pada pemerintahan-pemerintahan berikutnya.

Penolakan muncul. Tidak hanya dari kalangan LSM seperti Kontras, melainkan juga dari kolega Priyo di Senayan. Kepahlawanan seharusnya tanpa noda. Bagi mereka yang menolak ide Priyo, Soeharto memiliki cacat yang bahkan tersurat dalam Ketetapan MPR No 11 Tahun 1998, sehingga tak pantas menyandang gelar pahlawan.

Lalu, siapakah sebenarnya pahlawan? Deddy Mizwar dalam Nagabonar Jadi 2 pernah mempertanyakan hal itu. Di Taman Makam Pahlawan Kalibata, ia termenung lalu bertanya, ”Apakah semua yang ada di sini layak disebut pahlawan?” Ia pun bertanya kepada patung seorang pahlawan, Jenderal Sudirman, yang tegak memberi hormat di jantung Jakarta, ”Apakah penghormatan diberikan karena orang-orang yang melintas di depannya mengendarai mobil?”

Mengacu pada Peraturan Presiden No 33/1964, Soeharto akan terganjal ketentuan bahwa seorang pahlawan tidak boleh ternoda oleh perbuatan yang membuat cacat perjuangannya. Tapi, peraturan semacam ini selalu saja mudah menjadi bahan berbagai penafsiran. FPG bahkan menyebut Ketetapan MPR No 11 Tahun 1998 tak lagi menjadi aturan hukum.

Pahlawan atau bukan, dengan demikian, telah menjadi nisbi. Ini adalah sejarah panjang kita. Sebut Gajah Mada, Aru Palaka, Syafruddin Prawiranegara, Tan Malaka, atau Bung Karno; maka kita akan mendengar versi-versi yang bersilangan. Fakta pula, orang seperti Siti Hartinah yang kita kenal sebagai Ibu Tien, istri Soeharto, adalah seorang bergelar pahlawan nasional sejak 1996. Adakah kuasa rakyat Indonesia untuk membantah saat itu?

Soeharto, atau Pak Harto, telah melahirkan penghormatan dari mana-mana. Tidak saja dari dalam negeri, tapi juga dari negara-negara lain, termasuk negara-negara besar. Ada pengakuan atas perannya dalam membangun Indonesia dan Asia, namun pengakuan itu tak menghapus catatan dunia atas penyimpangan-penyimpangan yang ia lakukan, dalam hal ekonomi, politik, hukum, dan hak asasi manusia.

Mengusulkan gelar pahlawan tak memberi tambahan apa pun baginya. Tidak menambah dalam penghormatan terhadapnya. Tidak pula menghilangkan catatan hitamnya. Bagi kita pun, pembahasan gelar ini semestinya sama sekali bukan prioritas.

Republika, Rabu, 30 Januari 2008

Pemimpin Besar

Pemimpin besar senantiasa berani mengambil keputusan dan mengambil risiko apa pun yang ditimbulkan dari keputusannya tersebut.

DALAM perspektif religius, tidak baik kita membicarakan keburukan orang yang baru saja meninggal dunia. Tak terkecuali membicarakan mantan Presiden RI H.M. Soeharto. Sebab, dengan kematian, seseorang dengan sendirinya berhadapan dengan pengadilan sejati, yang terbebas dari rekayasa. Bahkan, setiap anggota tubuh satu persatu memberikan kesaksian dalam keadaan mulut terkunci. Lebih bijaksana jika kita mencari nilai di balik kematian seseorang yang dapat dijadikan pelajaran bagi setiap orang, termasuk bagi kebaikan masa depan bangsa Indonesia.

Salah satu yang pantas menjadi harga tertinggi dari Pak Harto adalah beliau pemimpin besar. Pemimpin belum tentu steril dari salah dan keburukan. Namun, pemimpin besar senantiasa berani mengambil keputusan dan mengambil risiko apa pun yang ditimbulkan dari keputusannya tersebut. Pemimpin besar tidak maju-mundur, apalagi mencla-mencle, sore mengatakan kedelai, pagi berubah menjadi tempe.

Dalam perkembangan politik seputar tahun 1965, keberpihakan Soeharto begitu jelas, anti-komunisme dan atheisme, dan kemudian membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahwa kemudian keputusannya tersebut menimbulkan korban jiwa yang sedemikian masif, itu adalah risiko yang masih kita sesalkan dan menjadi bagian kelam sejarah Indonesia. Namun, dengan kepemimpinan Soeharto, wajah Indonesia berubah. Indonesia yang mengedepankan politik dan ideologi sebagai panglima dalam pemerintahan sebelumnya, berganti dengan Indonesia yang berwajah politik pembangunan.

Dalam beberapa dekade, kebijakan Soeharto terbukti efektif, sehingga Indonesia sempat mendapatkan julukan sebagai The New Emerging Force in Asia bersama Korea Selatan. Politik pembangunan menjadi senjata ampuh untuk meredam berbagai perbedaan bangsa Indonesia yang memang sangat plural. Dapat dikatakan, pembangunan menjadi idiom yang mampu menyatukan berbagai macam perbedaan.

Dalam dekade akhir kepemimpinannya, keberpihakan Soeharto juga semakin jelas. Seiring dengan perkembangan usianya yang semakin lanjut, kehidupan Soeharto lebih berwarna religius. Itulah sebabnya, berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan menjadi semakin dominan. Bahkan, kegiatan politik yang sering sangat sensitif pun diisi dengan warna-warna religius.

Itulah sebabnya, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) pun tampil menjadi semakin populer. Golongan Karya dan parlemen, bahkan para jenderal yang “naik panggung” juga semakin ijo royo-royo, karena sebagian besar SDM-nya berasal dari kelompok yang memiliki komitmen keagamaan yang lebih baik.

Namun, kebijakan inilah yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya. Keberpihakan kepada nilai-nilai agama justru menjadi kontraproduktif karena bersamaan dengan itu, di belahan bumi lain sedang berkecamuk perbenturan peradaban (clash of civilization), pada saat peradaban Barat sedang “kesepian dari musuh” menyusul berakhirnya perang dingin akibat runtuhnya negara-negara komunis.

Jatuhnya Presiden Soeharto tak terlepas dari perkembangan global ini. Fenomenanya pun begitu jelas, krisis yang melanda Indonesia berawal dari krisis moneter yang dipicu oleh penarikan investasi Barat secara besar-besaran. Krisis yang masih menghantui bangsa Indonesia sampai saat ini tak terlepas dari keberpihakan seorang pemimpin besar. Kita tinggal menunggu kepemimpinan besar berikutnya.***

Pikiran Rakyat, Selasa, 29 Januari 2008

Soeharto, ASEAN, Stabilitas Regional

Salah satu sumbangan mendiang mantan Presiden Soeharto yang dikenang pemimpin Asia Tenggara adalah pemulihan dan pembangunan kestabilan kawasan.

Pak Harto tampil sebagai pemimpin ketika kawasan sedang dililit konfrontasi Indonesia-Malaysia. Pengakhiran konfrontasi dan pemulihan hubungan dengan Malaysia kemudian diikuti dengan pendirian ASEAN, Agustus 1967, yang menjadi pilar kestabilan kawasan.

Ketika Pak Harto berpulang, sumbangan inilah yang banyak diingat oleh para pemimpin tidak saja di Asia Tenggara, tetapi juga di Asia Pasifik.

Sebagai salah seorang pendiri ASEAN, Soeharto dinilai memiliki visi kepeloporan untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang lebih damai, maju, dan makmur, dan didasarkan pada saling menghormati dan pengertian. Itulah yang disampaikan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo.

Sementara Perdana Menteri Australia Kevin Rudd menilai Soeharto punya pengaruh dalam mendorong pembangunan di lingkungan ASEAN, dan selain itu juga forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).

Dua catatan di atas kiranya bisa menyegarkan ingatan kita tentang apa yang diakui masyarakat internasional sebagai kontribusi pemimpin Indonesia yang baru saja tutup usia.

Adanya perdamaian dan stabilitas di kawasan ini jelas amat dihargai karena tanpa itu sulit bagi negara-negara di kawasan untuk memusatkan diri menjalankan pembangunan.

Dalam hal politik regional, kita tahu bahwa potensi konflik terus ada bahkan setelah Perang Dingin usai. Konflik yang merebak di Kamboja di paruh kedua 1970-an menjadi contoh nyata, dan di sini pun Indonesia di bawah Pak Harto banyak mengambil inisiatif perdamaian melalui Pertemuan Informal Jakarta (JIM).

Dengan bermodal stabilitas, negara-negara kawasan dapat dengan tenang melakukan pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Vietnam yang dulu terlilit dalam perang panjang kini tampil sebagai salah satu pusat pertumbuhan kawasan.

Persaingan yang makin ketat sekarang ini boleh jadi akan memaksa bangsa-bangsa Asia Tenggara mengubah diri menjadi bangsa unggul. Akan tetapi, tanpa didasari oleh falsafah yang bisa dipercayai bangsa-bangsa lain, bisa jadi persaingan mudah menjadi konflik.

Pendekatan musyawarah yang sering dikedepankan Pak Harto dalam mengelola permasalahan regional, khususnya di dekade sulit 1980-an, terbukti banyak memberi kesejukan, meskipun dewasa ini banyak urusan yang perlu ditangani secara lugas.

Kompas, 29 Januari 2008

Gaung Kepergian Pak Harto

Selama 24 hari dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, sosok Pak Harto, presiden kedua RI, terus-menerus diberitakan dan disiarkan.

Sejak meninggal hari Minggu sampai pemakamannya di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah, laporan media mencapai klimaksnya. Berlakukah apa yang oleh sosiolog media Marshall McLuhan ”the extension of men”. Media meluaskan sosok orang yang diliputnya. Semakin besar pribadi subyek peliputan, semakin luas dan lama pula ekstensinya. Masuk akal jika pemberitaan tentang kepergian Soeharto akan lama dan jauh gaungnya. Tidak mengherankan jika gaung itu berusaha menempatkan sosok dan kinerjanya yang masih relevan.

Kebetulan kini kita dihadapkan pada persoalan penyediaan berbagai bahan pokok pangan. Masuk akal jika keberhasilan swasembada pangan dalam masa pemerintahan Pak Harto menarik perhatian. Namun, Pak Harto tidak konsisten dalam mengembangkan pertanian. Ia terbawa jauh godaan mengembangkan teknologi tinggi.

Meski demikian, keberhasilan bisa ditempatkan pada kerangka pendekatan masalah yang berlaku masa itu, yakni adanya perencanaan, dirumuskannya kebijakan yang jelas, serta dilaksanakannya kebijakan itu secara konsisten. Dari masa lalu, kita belajar dari keberhasilan, kita belajar pula dari kegagalannya.

Perencanaan dalam sistem pemerintahan sekarang juga ada, tetapi tidak seeksplisit masa itu, tidak pula berlaku rencana jangka panjang, rencana jangka menengah, dan rencana tahunan.

Bagaimana perihal bekerjanya pemerintahan yang konsisten, efektif, dan efisien? Pemerintahan yang terkoordinasi dengan baik dan karena itu juga efektif? Kita akui juga, kondisi peralihan sistem pemerintahan dalam konteks demokrasi dalam pembangunan—democracy in the making—tidaklah membantu.

Namun, justru kenyataan itu harus kita kenali, perhitungkan dan buat sepositif mungkin. Sepositif mungkin bagi terselenggaranya pemerintahan yang efektif. Lagi pula hal-hal yang mengandung kendali semacam itulah, maka ditegaskan menyelenggarakan pemerintahan bukanlah sekadar keahlian, tetapi sekaligus seni.

Pendekatan apa yang di antaranya meninggalkan kesan dari periode itu? Pemerintah sebagai pemimpin bekerja dan berupaya keras melibatkan masyarakat yang terdiri dari berbagai pekerjaan, kelompok kepentingan. Misalnya secara periodik dan di mana perlu sesuai dengan pekerjaan dan kepentingan masyarakat diberi latar belakang permasalahannya. Tugas yang dihadapi pemerintah dan pemerintahannya dalam banyak hal bukanlah mengambil keputusan yang baik atau buruk, tetapi yang kurang buruk. Pilihannya bukan baik atau buruk, tetapi yang buruk dan yang kurang buruk.

Almarhum Pak Kasimo, tokoh politik sezaman Moh Roem, menggunakan istilah nimus malum yang kurang buruk. Sekali lagi, ulasan ini ikut menumpang pada resonansi kepergian presiden kedua RI, Soeharto.

Kompas, 29 Januari 2008

Pak Harto telah Memberi Pelajaran

MIKUL dhuwur mendhem jero, satu ungkapan Jawa yang sering disampaikan Soeharto menjelang lengser 1998. Banyak sastrawan Jawa mengartikan ungkapan itu sebagai; ‘Ingatlah segala kebaikannya dan kubur sedalam-dalamnya kesalahan yang pernah diperbuatnya‘. Tampaknya itulah yang seharusnya dilakukan bangsa Indonesia ketika Presiden pada masa Orde Baru itu telah beristirahat untuk selama-lamanya. Pak Harto wafat hari Minggu, 27 Januari 2008 dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Astana Giri Bangun, Kab. Karanganyar Solo, Senin (28/1) kemarin.

Dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Soeharto juga sempat mengulas hal tersebut. Katanya; ‘Saya pun tahu, saya tidak luput dari kesalahan. Maka, seperti berulangkali pernah saya katakan, di sini pun saya ulangi lagi, hendaknya orang lain mengikuti contoh-contoh yang baik yang telah saya berikan kepada nusa dan bangsa, menjauhi hal-hal yang buruk yang mungkin telah saya lakukan selama saya memikul tugas saya‘.

Dari pernyataan tersebut ada dua pelajaran yang dapat kita petik. Pelajaran pertama; kita bangsa Indonesia utamanya para pemimpin bangsa harus mengadopsi hal-hal baik yang pernah dilakukan Presiden Soeharto yang akhirnya bermanfaat bagi bangsa dan negara. Pelajaran kedua, sisi buruk yang dilakukan penguasa Orde Baru itu jangan buru-buru dibuang, tetapi ambillah hikmahnya dan jangan lagi melakukan hal serupa. Sebab terbukti hal-hal buruk itu telah menyengsarakan bangsa ini.

Ada dua hal yang tak pernah dilupakan rakyat ketika bangsa ini dipimpin Soeharto. Dua hal itu terkait keamanan dan ketersediaan sembilan bahan pokok dengan harga yang stabil. Untuk keamanan, sering dikaitkan karena pemerintah kala itu sangat tegas terhadap gerakan-gerakan yang menyimpang dari persatuan dan kesatuan bangsa serta Pancasila. Sementara ketersediaan bahan pokok dengan harga yang terjangkau juga prestasi yang patut dihargai. Kedua hal tersebut, pada pemerintahan setelah Soeharto belum bisa dijamin dengan baik. Apakah itu pada pemerintaahn Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati sampaikan dengan Susilo Bambang Yudhoyono kini, semuanya pernah mengalami goncangan harga sembako.

Sementara pelajaran yang patut diambil hikmahnya dan tak perlu dilanjutkan adalah tingkat korupsi. Pada masa Orde Baru dimana Soeharto sebagai presiden, banyak peneliti menyatakan tingkat korupsi di Indonesia termasuk paling tinggi di dunia. Itu artinya, Indonesia digolongkan dengan negara terkorup di dunia.

Oleh karena itu, dua hal tersebut ke depan harus dijadikan pelajaran. Namun hingga saat ini, pemerintah belum bisa menirugayaSoeharto dalam menekan harga sembako dan menjamin ketersediaannya secara berkelanjutan. Demikian pula masalah keamanan, di beberapa daerah masih terjadi gerakan sparatis dan terorisme. Namun syukur dua tahun belakangan ini, gerakan sparatis maupun tindak terorisme sangat jarang kita dengar. Walaupun ada, pemerintahan Yudhoyono segera dapat mengatasi sehingga tidak sampai berlangsung lama dan meluas serta memakan korban yang banyak.

Lalu bagaimana masalah hukum yang selama ini menghimpitnya? Wafatnya Soeharto menimbulkan sejumlah konsekuensi, baik dari sisi hukum maupun sisi kemanusiaan. Wafatnya mantan Presiden Kedua RI itu secara otomatis akan membuat segala kasus pidananya gugur demi hukum. Lalu bagaimana dengan kasus perdatanya? Hal ini tergantung pihak-pihak yang selama ini terlibat, baik pemerintah maupun ahli warisnya.

Sementara dari sisi kemanusian, kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun tentu banyak hal yang dicapai secara baik. Meskipun juga cukup banyak persoalan yang harus dihadapinya termasuk terkait dugaan KKN.

Untuk itu, segenap bangsa dan negara agar menjadikan perjalanan panjang mantan Presiden Soeharto sebagai pelajaran berharga bagi bangsa ini ke depan, khususnya bagi para pemimpin yang saat ini tengah berkuasa.

Bali Post, 29 Januari 2008

Merenungkan Jasa Soeharto

Harus diakui bahwa meninggalnya mantan Presiden Soeharto membuat kita mencoba merefleksikan ulang, bahwa negeri ini pernah berada pada titik puncak keberhasilan pembangunan. Jujur kita katakan bahwa di jamannya memerintah, bangsa kita pernah menikmati betapa mudahnya hidup kala itu.

Bagi sebagian masyarakat, di jaman Soeharto, kehidupan memang tidak sesulit sekarang. Kini, harga-harga mahal, bahkan kebutuhan pokok amat mahal. Pada periode 1980-1993, pemerintah memang memiliki kemampuan untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi melalui pertumbuhan sekitar 8 persen setahun dengan nilai tukar terhadap dollar Amerika sekitar Rp 2.500-3.500 per dollarnya. Akibatnya, memang secara jelas, masyarakat bisa membeli segala sesuatu dengan murah. Inflasi yang gila-gilaan di akhir periode Orde Lama, berhasil dikendalikan. Dengan menerapkan pertumbuhan ekonomi melalui hadirnya berbagai unit usaha bagi masyarakat kecil, sebagian besar masyarakat di pedesaan memang menikmati hasilnya.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana Soeharto bisa mengubah wajah Indonesia. Pada tahun 1984, Indonesia berhasil mengubah diri dari negara terbesar dalam mengimpor beras, akhirnya menjadi negara berswasembada pangan. Lebih dari 3 juta ton padi dihasilkan setiap tahunnya. Bandingkan dengan sekarang yang justru defisit lebih dari 1 juta ton setiap tahun.

Meski bukan lulusan sekolah ekonomi, mantan Presiden itu dikenal lihai memotivasi para petani dan nelayan. Mereka dikunjungi dan diberikan motivasi untuk bisa memajukan pekerjaannya, sehingga menjadi petani adalah kebanggaan. Bahkan beliau dikenal suka memperkenalkan diri sebagai ”anak petani”, untuk meningkatkan gairah dan harga diri para petani.

Bukan hanya dalam bidang pertanian, salah satu sukses besar Orde Baru adalah dalam bidang kesehatan dan KB. Karena adanya kesadaran bahwa daya pembangunan akan terserap oleh jumlah penduduk, maka mantan Presiden Soeharto membangun dan menggalakkan program KB. Ia mencanangkan berbagai upaya mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui berbagai upaya yang pada gilirannya berhasil mengerem laju pertumbuhan penduduk kita.

Di bidang kesehatan, upaya meningkatkan kualitas bayi dan masa depan generasi ini dilakukan melalui program kesehatan di posyandu, sebuah upaya yang mengintegrasikan antara program pemerintah dengan kemandirian masyarakat. Di jamannya, program ini memang sangat populer dan berhasil. Banyak ibu berhasil dan peduli atas kebutuhan balita mereka di saat paling penting dalam periode pertumbuhannya.

Yang tidak kalah penting adalah, karena Indonesia memiliki prospek yang sangat baik, terutama dalam menjaga kawasan baik di Asia Tenggara dan Asia, serta masa depan Indonesia yang dianggap sebagai macan Asia, Soeharto dan bangsa Indonesia memiliki kebanggaan tersendiri. Negara lain yang kini terang-terangan berani ”mengganggu” keberadaan kita seperti Malaysia dan Singapura, dulu tidak pernah menganggap Indonesia serendah sekarang. Jujur kita sampaikan bahwa dulu, kita sangat bangga karena kita punya banyak kiprah dalam memajukan wilayah ini.

Semuanya hanya sekelumit kisah supaya kita memandang jasa mantan Presiden Soeharto dalam konteks yang berimbang, meski kita tahu ada masa dimana beliau digunakan sebagai alat oleh orang-orang yang ingin memperkaya diri dan menguntungkan kelompok tertentu. Itu adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Pertanyaan berikutnya kepada para pemimpin sekarang adalah, sanggupkah mereka mengembalikan kebanggaan dan kejayaan yang pernah sangat menggetarkan hati itu? Ini adalah tantangan bagi mereka. (***)

Sinar Indonesia BAru, Selasa, 29 Januari 2008

Wangsul Dateng Ngarsanipun Gusti Allah

Haji Muhammad Soeharto telah berpulang kembali ke Rahmatullah, atau wangsul dateng ngarsanipun Gusti Allah, Minggu 27 Januari 2008 Pukul 13.10 WIB setelah beberapa lama menderita sakit. Pak Harto – demikian beliau biasa disapa – seperti juga manusia lainnya mengalami lahir, tumbuh berkembang kemudian meninggal dunia. Begitu lahirnya, begitu pula meninggalnya. Saat bayi lahir, orang-orang di sekitarnya penuh senyum kelegaan, sebaliknya ketika berpulang orang di sekelilingnya hampir dipastikan menangis. Itulah yang kita saksikan, Pak Harto kini bukan hanya ditangisi oleh anak dan cucunya, tetapi juga ditangisi oleh rakyat yang pernah dipimpinnya.

Sebagai wakil keluarga, Mbak Tutut dengan rendah hati memintakan maaf bapaknya atas kesalahan yang mungkin disengaja atau tidak kepada seluruh warga bangsa. Sebuah kewajaran dalam unggah ungguh dan tatakrama bermasyarakat, yang permintaan maaf itu ditujukan pasti bukan untuk mencari simpati tetapi sebuah ketulusan yang ada di setiap manusia. Maaf itu semoga bisa menjadi “sangu” dalam melancarkan perjalanan pulang kembali kepada Allah SWT. Seperti juga Pak Harto, kita pun yang masih hidup pada akhirnya akan ke sana juga. Setiap orang yang meminta maaf dan setiap orang yang memberi maaf pasti akan mendapatkan manfaat seberapa pun kecilnya.

Memberi maaf akan membuat kita lebih lega, dan tidak membebani hati dengan sesuatu yang muspra karena masing-masing tidak akan tahu kapan dan berapa lama masih hidup dan kapan kita dipanggil. Setiap orang pasti punya salah karena begitulah memang kedudukan manusia. Apalagi manusia yang secara kebetulan memiliki posisi sebagai pemimpin. Adalah tidak mungkin setiap pemimpin bisa membuat semua rakyatnya senang, karena keterbatasan yang selalu melekat pada diri manusia. Tetapi orang seperti Pak Karno, atau pun Pak Harto yang memang sudah ditahbis jadi pemimpin tahu benar risiko yang sewaktu-waktu datang menyapa. Dan, keduanya terbukti tegar dalam menerima ujian.

Keduanya tidak menangis ketika harus melepaskan baju kebesarannya, meski pun di saat yang sama ribuan bahkan mungkin jutaan mencercanya. Tetapi cobalah tanya kepada hati nurani, bagaimana seandainya bangsa yang besar ini tidak memiliki pemimpin-pemimpin yang besar dalam arti sesungguhnya seperti kedua beliau. Maaf, bandingkan dengan Jenderal Perves Musharaf yang meneteskan air mata “hanya” karena melepaskan baju kemiliterannya. Ketegaran Pak Harto ketika menghadapi cobaan dalam kehidupannya sungguh sebuah pelajaran berharga kepada bangsa bagaimana seharusnya pemimpin berani mengambil posisi mundur dengan mengatakan, ”ora dadi presiden ya ora patheken!”.

Pak Harto dengan segala kelebihan dan kekurangannya harus diterima dengan penuh kewajaran dalam konteks kemanusiaan. Sebagai insan yang sama-sama memiliki agama dan kebudayaan tidak ada salahnya kita semua memberikan maaf. Meski maaf sebagai pribadi manusia itu tidak seharusnya memasuki wilayah hukum yang sedang berjalan. Biarlah hukum menentukan posisi berada di mana beliau. Serahkan kepada ahlinya untuk menentukan benar dan salah dan risiko yang harus ditanggung dalam proses peradilan perdata. Karena sebenarnya, ketika memasuki sakit di tahapan antara sadar atau pun tidak, pastilah Pak Harto berada pada posisi yang sangat lemah sampai kepergiannya,.

Setiap manusia Jawa, seperti juga Pak Harto, selalu berusaha untuk menghayati ajaran anteng (tenang, lepas, bebas tak terikat), mantheng (berkonsentrasi kepada Tuhan YME), sugeng (senang, gembira lahir batin), jeneng (tetap, mantap, tidak goyah). dalam mewayu hayuning negara lan bawana. Bahwa dalam jalan sejarahnya lalu ada benar dan salah, tepat dan atau tidak tepat pastilah terjadi pada setiap diri manusia. Kini beliau telah berpulang, wangsul dateng ngarsaning Gusti Allah, dan sebagai manusia beragama kita doakan semoga arwahnya diterima di sisi-Nya. Tuhan pasti tahu benar siapa beliau dan bagaimana pula amalnya selama di dunia. Selamat jalan Pak Harto….

Suara Merdeka, Selasa, 29 Januari 2008


Blog Stats

  • 791,657 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.