Archive for the 'Tarif Listrik' Category

Tarik-Ulur Tarif Listrik

Tajuk Republika, Jumat, 15 September 2006 

Pemerintah lewat Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM, J Purwono, di depan anggota dewan menegaskan bahwa tarif dasar listrik (TDL) tahun depan akan dinaikkan sebesar 12 persen. Kenaikan tersebut dilakukan untuk mengurangi subsidi listrik dari Rp 25,8 triliun menjadi Rp 23,16 triliun.

Jelas saja kabar tersebut mendapat protes dari masyarakat. Apalagi beberapa kali Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa TDL tidak akan naik. Dan, ketika skala protes belum begitu massal, pemerintah mengoreksi bahwa pernyataan tersebut tidak benar. TDL tidak akan naik sampai 2009 nanti.

Purwono sendiri yang menarik pernyataan tersebut dengan alasan bahwa apa yang dikemukakan sebelumnya adalah exercise, bukan rencana pemerintah. Karena itu, sudah bisa dipastikan bahwa pada 2007 nanti, tarif listrik tidak akan naik. Kalaupun subsidi membengkak, pemerintah yang akan menjamin.

Sebetulnya dalam suatu sistem ekonomi yang sehat, subsidi bukan langkah yang bagus. Tapi dalam kondisi ekonomi masyarakat yang masih berat seperti sekarang, subsidi untuk komoditas strategis seperti listrik masih tetap diperlukan. Jika tidak, justru akan terjadi bumerang, masyarakat makin miskin dan perekonomian bisa stagnan.

Di sini memang menjadi dilema. Jika disubsidi, keuangan negara akan berat apalagi jumlahnya juga tidak sedikit. Jika tidak disubsidi, kehidupan masyarakat dan dunia usaha yang menanggung bebannya. Dalam kondisi seperti sekarang ini, pilihan untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat banyak dan dunia usaha, pilihan yang tepat.

Tetapi selamanya mengandalkan subsidi juga tidak tepat. Pada saat tertentu subsidi harus dihapuskan. Permasalahannya adalah bagaimana menghapuskan subsidi terhadap listrik ini, tanpa harus memberatkan kehidupan rakyat?

Tarif listrik menjadi berat bagi masyarakat itu sebetulnya relatif. Jika kehidupan masyarakat sudah relatif mapan, maka kenaikan listrik juga tidak begitu masalah. Jadi di sini masalah tingkat ekonomi masyarakat. Untuk itu, pertumbuhan ekonomi harus dipacu, pengangguran dipangkas, sehingga tingkat ekonomi masyarakat meningkat.

Di sisi lain, sumber energi untuk pembangkit listrik juga harus didiversifikasi secepat mungkin. Besarnya subsidi untuk listrik ini terjadi karena sebagaian besar pembangkit listrik menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Ketika harga minyak dunia melambung seperti sekarang ini, otomatis biaya operasional pembangkit meningkat.

Untuk itulah pembangkit listrik dari gas, batubara, dan panas bumi, mutlak untuk segera direalisasikan sesegera mungkin. Bahkan juga energi nuklir, karena negara-negara maju seperti Jepang, Korea, Amerika, dan negara di Eropa banyak menggunakan energi nuklir untuk pembangkit listrik. Apalagi sistem keamanan saat ini juga sudah sedemikian maju.

Selain itu, tingkat kecolongan listrik dari PLN dan juga losses (susut tenaga listrik) juga masih bisa dikurangi. Pencurian listrik ini bukan melulu rumah tangga, tetapi kabarnya kalangan industri pun sebagian juga melakukan pencurian listrik. Sekalipun tidak begitu signifikan, tetapi langkah ini tetap perlu dilaksanakan.

Jika diversifikasi pembangkit energi dilakukan dengan optimal dan tepat, begitu juga tingkat kehilangan listrik menjadi nol persen, barangkali pada masa datang TDL tidak perlu naik, dan subsidi terhadap listrik tidak diperlukan lagi. Perlu kerja keras untuk mewujudkannya.

Iklan

Blog Stats

  • 803,119 hits
November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.