Archive for the 'Terorisme' Category

Hukum Vs Teror

Kapolri, Jenderal Sutanto, kemarin memohon permakluman kita bahwa penanganan terorisme bisa jadi menggunakan cara ”luar biasa”. Maka, ia berharap kasus yang menimpa Yusron Mahmudi tidak dikembangkan. Yusron –polisi menyebutnya pula sebagai Abu Dujana– ditembak dari belakang dalam jarak dekat di depan tiga anak-anaknya saat penangkapan pada 9 Juni lalu.

Reaksi keras atas cara penangkapan datang dari Komisi III DPR. Mereka meminta pengusutan kasus ini dengan berkirim surat kepada Kapolri, Komnas HAM, dan Komnas Perlidungan Anak. Mereka menilai polisi penembak Yusron telah melanggar hukum karena menembak dari belakang dan tersangka saat itu dalam posisi sudah tertangkap.

Sebagaimana sikap DPR, kita tak hendak mencampuri proses hukum, termasuk dakwaan terhadap Yusron. Terorisme adalah ancaman besar tidak saja bagi keamanan bangsa tapi juga untuk kemanusiaan. Kita mendukung upaya polisi yang tak kenal lelah untuk mengejar tokoh-tokoh kunci terorisme dan membongkar jaringannya hingga ke akar.

Dalam dukungan itu, kita perlu mengingatkan Polri untuk tetap menempuh jalur hukum. Kita tak perlu menjadi polisi untuk tahu bahwa menembak orang yang sudah ditangkap, dari belakang, dalam jarak dekat, di depan anak-anak, adalah pelanggaran hukum. Kita pun tak melihat penghargaan terhadap HAM pada peristiwa itu.

Pelanggaran hukum pada cara penanganan kasus terorisme hanya memberi peluang bagi bebasnya tersangka. Sayangnya, hal ini begitu sering terjadi. Bahkan, sampai muncul anggapan di masyarakat dalam aksi-aksi penangkapan, terutama oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, bahwa yang terjadi adalah ”penculikan”.

Kita perlu menjaga momentum penanganan terorisme yang tampaknya sedang mendapat angin baik. Dukungan ormas-ormas besar Islam, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, sangat kuat saat ini. Hal ini jelas tak kalah pentingnya dibanding dukungan dana Australia dan Amerika Serikat. Polri tak dapat hanya memuaskan satu kalangan –katakanlah donor– dan melupakan pendukung lainnya.

Bagaimanapun, saat ini muncul kecemasan bahwa kampanye antiterorisme hanya untuk memuaskan negara adikuasa dan memojokkan kelompok Islam. Polri dapat menepis kecemasan itu. Tidak dengan jargon, tentunya, melainkan dengan cara berpikir dan bertindak. Wacana pengumpulan sidik jari santri, misalnya, jangan pernah muncul lagi.

Melihat begitu mudahnya kelompok teroris menyusup di tengah masyarakat, kita justru kian sadar akan perlunya dukungan masyarakat. Hal yang kita inginkan adalah garis jelas antara penjahat yang melanggar hukum dan masyarakat yang taat hukum. Kejelasan antara hukum dan kejahatan akan berbuahkan dukungan bagi tindakan antiterorisme.

Maka, jangan sampai tindakan aparatur hukum justru merusak dukungan itu. Masyarakat mendambakan keamanan saat bekerja, bermasyarakat, beribadah. Mereka takkan pernah bermimpi suatu ketika, secara tiba-tiba, beralih peran dari warga biasa menjadi ”gembong teroris”.

Republika, Rabu, 20 Juni 2007

Ancaman Baru Al Qaeda

Jaringan Al Qaeda di Arab Saudi mengancam akan menyerang kilang-kilang minyak di dunia, yang menjadi pemasok minyak bagi Amerika Serikat.

Sasarannya bukan hanya kilang minyak di kawasan Timur Tengah, tetapi juga pusat pemrosesan minyak di Kanada, Meksiko, dan Venezuela. Serangan ke kilang minyak, pipa ekspor, terminal minyak, dan tanker pembawa minyak untuk kebutuhan AS dimaksudkan untuk mengacaukan perekonomian negara adidaya itu, yang dituduh menghegemoni dunia.

Ancaman serangan yang menghebohkan itu disampaikan dalam Sawt al-Jihad, jaringan internet yang dioperasikan Al Qaeda cabang Semenanjung Arabia. Sejauh mana ancaman itu serius? Ada yang berpendapat, jangan-jangan ancaman itu sekadar memancing di air keruh di tengah kampanye global melawan terorisme. Namun, tidak sedikit yang menilai sangat serius.

Dalam kenyataannya, ancaman terorisme masih terus terjadi. Pemerintah Arab Saudi, misalnya, terus direpotkan oleh kaum militan, yang memiliki hubungan dengan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden kelahiran Arab Saudi. Kekuatan Al Qaeda dengan jaringannya di seluruh dunia belum dapat dipatahkan meski AS tahun 2001 menginvasi Afganistan yang menjadi pusat gerakan pimpinan Bin Laden itu.

Sampai sekarang keberadaan Bin Laden belum diketahui. Terlepas apakah ia sudah meninggal atau masih hidup, pemimpin Al Qaeda ini telah menjadi legenda, nama dan gerakannya mendunia. Para pengamat menyatakan, banyak organisasi militan di dunia mempunyai hubungan secara organisatoris dengan Al Qaeda.

Tidak sedikit pula organisasi terbentuk hanya karena terinspirasi oleh gerakan Al Qaeda meski tidak mempunyai hubungan organisatoris. Bahaya teroris masih mengancam dunia. Ancaman serangan terhadap sumber pemasokan minyak AS tidak boleh disepelekan.

Kiprah Al Qaeda di Arab Saudi sangatlah menakutkan. Kelompok ini berada di balik serangan gagal terhadap kilang minyak Abqaiq, pusat pemrosesan minyak terbesar dunia, di Arab Saudi bulan Februari 2006.

Tiga tahun sebelumnya, organisasi ini melancarkan kampanye kekerasan untuk menjatuhkan keluarga Kerajaan Arab Saudi dukungan AS. Serangan bom bunuh diri dilancarkan ke kompleks perumahan warga Barat dan perkantoran pemerintahan.

Dengan reputasi dan riwayat kekerasan macam itu, termasuk serangan spektakuler dan fantastis tanggal 11 September 2001 di Amerika Serikat, ancaman serangan jaringan Al Qaeda terhadap sumber pemasokan minyak AS tidak dapat disepelekan, tetapi perlu diwaspadai.

Kompas, Sabtu, 17 Februari 2007

Keadilan Bagi Ba’asyir

”Alhamdulillah. Itu sudah kehendak Allah yang telah memberikan keberanian kepada majelis hakim PK.” Begitulah kalimat singkat yang meluncur dari mulut Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, ketika tahu permohonan peninjauan kembali (PK) terhadap tuduhan dirinya sebagai pelaku bom Bali I dan Hotel JW Marriott Jakarta, dikabulkan oleh Mahkamah Agung (MA). Dengan demikian, demi hukum dan keadilan, Ba’asyir harus dibebaskan dari segala tuduhan itu dan nama baiknya harus dipulihkan.

Putusan MA itu bagai sebuah oase di tengah padang pasir. Kehadirannya telah memberikan kesegaran baru di saat banyak orang di negeri ini masih haus mencari keadilan. Tak terkecuali bagi Pemimpin Pondok Pesantren Almukmin, Ngruki, Solo, ini. Ba’asyir sudah hampir tiga tahun mencari keadilan atas tuduhan terhadap dirinya yang sejak awal ditengarainya sebagai sebuah rekayasa jahat berkedok menumpas terorisme global yng disponsori AS dan dua kaki tangannya yakni Inggris dan Australia.

Ucapan salut pantas dialamatkan kepada para hakim MA, terutama yang menangani pengajuan PK Ba’asyir ini. Mereka adalah German Hoediarto, Mansyur Kertayasa, Artidjo Alkostar, Imron Anwari, dan Abdurrahman. Dengan keberanian dan berpegang pada hati nurani, keempatnya tanpa perbedaan pendapat (dissenting opinion), mendasari keterangan 30 orang saksi bahwa Ba’asyir tidak terbukti terlibat sebagaimana diketukkan oleh palu hakim di Pengadilan Jakarta Selatan hampir tiga tahun silam. Putusan ini menyiratkan keadilan masih ada di negeri ini.

Dugaan rekayasa seperti yang dirasakan oleh Ba’asyir seperti mendapat pembenarannya. Pada hari yang sama saat putusan itu keluar Kamis (21/12) lalu, Pemerintah AS menyiratkan keberatan terhadap putusan MA Indonesia yang mengabulkan permohonan PK Ba’asyir. Kepada kantor berita Antara, juru bicara Deplu AS, Janelle Hironimus, mengatakan hukuman terhadap Ba’asyir telah dijungkirbalikkan oleh MA Indonesia. Seraya menunggu laporan terinci dari Jakarta, menurut Hironimus, Pemerintah AS prihatin dengan putusan tersebut.

Kita geli mendengarnya. Sebab, seharusnya kitalah yang prihatin dengan pernyataan dan sikap Pemerintah AS atas putusan pengabulan PK Ba’asyir. Sebuah pernyataan yang emosional sekaligus menghina independensi kekuasaan kehakiman sebuah negara berdaulat. Pemerintah AS semestinya berhenti untuk terus memaksakan kehendaknya, apalagi yang menyangkut hukum di negara lain. Kesetaraan adalah kata kunci dalam sebuah hubungan antarnegara.

Kita setuju dan mendukung terhadap upaya-upaya perang melawan aksi-aksi terorisme. Ini karena kita yakin dunia yang kita harapkan adalah dunia yang damai, tanpa kekerasan dan teror. Siapa pun yang melakukan aksi teror harus kita lawan. Tapi, bukan dengan konspirasi membabi buta dan menjerat orang hanya lewat suatu rekayasa jahat.

Putusan MA keluar setelah Ba’asyir selesai menjalani masa hukumannya selama 2,5 tahun pada 14 Juni 2006. Kita percaya Ustadz Ba’asyir tak menyimpan dendam terhadap vonis pengadilan sebelumnya yang telah menzaliminya. Sekarang giliran pihak pengadilanlah yang mesti memulihkan nama baik Ba’asyir. Lisan atau tertulis. Di media massa maupun di tempat-tempat umum. Keadilan sebuah niscaya.

Republika, Sabtu, 23 Desember 2006

Peringatan Bom Bali II

Suara Pembaruan, Senin, 02 Oktober 200

Peringatan tragedi Bom Bali II yang terjadi tahun lalu berlangsung penuh haru. Mereka yang selamat dan keluarga korban yang tewas dalam tragedi tersebut ikut hadir. Yang selamat memberikan kesaksian, berharap Bali segera bebas dari ancaman teroris dan roda industri bisa berputar lagi. Bom telah membuat Pulau Dewata itu tersungkur.

Sebelumnya, pada 12 Oktober 2002, Bali dibom dan hampir dua ratus orang tewas dan puluhan yang luka-luka. Bahkan ada yang cacat sampai sekarang. Bom Bali I itu tidak hanya menghancurkan dua kafe di Kuta, tetapi juga menghancurkan pariwisata di pulau itu. Para pelakunya, Amrozi Cs, sudah mendapat ganjaran hukuman mati dan kini sedang menunggu eksekusi mati di Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Ketika Bali sedang berupaya pulih dari luka teror yang mencabik industri pariwisatanya, terjadi lagi bom bunuh diri di Kuta dan Jimbaran yang kita kenal dengan nama Bom Bali II.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang telah menjadi sasaran teror. Sejumlah bom meledak pada waktu hampir bersamaan di beberapa kota saat malam Natal beberapa tahun lalu.

Jakarta beberapa kali diguncang bom seperti bom yang meledak di depan rumah kediaman Duta Besar Filipina, lalu di Hotel JW Marriott, depan Kedutaan Besar Australia, dan Bursa Efek Jakarta.

Disinyalir pelakunya adalah anak buah Dr Azahari dan Noordin M Top. Polisi telah menurunkan pasukan khusus untuk memburu kedua otak teroris tersebut dan membongkar jaringannya. Kerja keras mereka patut kita apresiasi. Para pelaku Bom Bali I dengan cepat bisa digulung.

Kemudian, jaringan mereka pun bisa dibekuk. Upaya pengungkapan siapa pelaku teror pun bisa dilakukan dengan cepat. Kerja yang luar biasa dari aparat itu adalah penangkapan pelaku Bom Bali I. Setelah itu, aparat kita berhasil mengungkap jaringan mereka.

Puncak dari semuanya itu adalah tewasnya Dr Azahari di Batu, Malang, beberapa waktu lalu lewat suatu penyergapan. Sayang, pasangan Dr Azahari, Noordin M Top lolos. Dalam beberapa kali upaya penangkapan, dia selalu lolos dan sampai sekarang belum dapat ditangkap.

Kita merasakan, setelah Dr Azahari dilumpuhkan dan Noordin M Top terus diburu, ancaman teror makin berkurang. Namun hal itu tidak boleh membuat masyarakat lengah. Masyarakat harus tetap aktif menjaga lingkungannya dan tidak boleh segan-segan menyampaikan informasi, bila terdapat hal-hal yang mencurigakan. Peran aktif masyarakat ini sangat penting.

Namun teror masih terus berlangsung di tempat tertentu di negara kita. Kita ambil Poso. Sepekan setelah Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Ma- rianus Riwu dieksekusi, Poso kembali diguncang bom.

Tiga bom meledak, meskipun tidak ada korban yang jatuh. Tibo Cs telah dituduh sebagai otak kerusuhan Poso yang telah mengorbankan banyak nyawa. Keadaan di Poso kini sedikit panas dan polisi mengirim tambahan pasukan untuk menjaga keamanan.

Kita menyadari, negara telah menderita banyak akibat banyak terjadi tindakan teror. Bom-bom yang meledak di Jakarta, Bali, Poso, dan beberapa tempat lain telah membuat dunia kecut dan menilai Indonesia sebagai negara yang tidak aman.

Maka, sejumlah negara yang selama ini menjadi tempat asal turis dan investasi melayangkan travel warning. Dampak dari ini sungguh dahsyat. Turis tidak mau lagi datang dan para investor mulai mengalihkan modalnya ke negara lain yang dinilai lebih aman.

Belum lagi tidak adanya kepastian investasi di dalam negeri akan membuat banyak investor hengkang. Kalau pun ada yang ingin masuk, biasanya mereka hanya berhenti pada komitmen. Begitu diminta untuk segera masuk, mereka pikir-pikir dulu.

Kita mengenang Bom Bali II adalah sebagai penegasan bahwa kita menolak segala tindakan teror!

Akhir Kisah Al-Faruk

Republika, Rabu, 27 September 2006 Bak film misteri, kisah Umar Al-Faruk selesai dengan segudang tanda tanya bagi penonton. Militer Inggris pekan ini menutup kisahnya dengan cerita kematian dramatis, lewat baku tembak di Basra, 340 kilometer tenggara Baghdad, Irak.

Benar atau tidak kabar kematian Al-Faruk itu, tampaknya takkan ada lagi kesaksian dari ”tokoh Alqaidah Asia Tenggara” itu. Padahal, dia adalah sosok kunci yang ”celotehnya” menyeret orang-orang ke penjara–sebut antara lain Agus Dwikarna, Tamsil Linrung, dan Abu Bakar Ba’asyir–dengan tuduhan seram tentang terorisme.

Kita terpaksa berhenti pada saat kisahnya masih menggantung, ketika kita tetap saja sulit memahami jalan cerita. Kita telah mengajukan berbagai pertanyaan, namun gagal mendapatkan jawaban yang masuk akal. Kisah Al-Faruk, bagi kita, mirip lakon Hollywod yang jagoannya adalah CIA dan penjahatnya adalah orang-orang dari Timur.

CIA mengungkap ”daftar kejahatan” warga Kuwait itu: Terlibat peledakan ”Bom Natal” pada 2000, berencana membunuh Megawati, serta bermaksud meledakkan pusat kepentingan Amerika Serikat di Singapura dan Indonesia, antara lain kapal perang AS yang sedang singgah di Surabaya.

Al-Faruk ditangkap pada 5 Juni 2002 di Masjid Raya Bogor. Penangkapnya adalah Badan Intelijen Negara (BIN). Al-Faruk saat itu sedang bersama Abdul Haris, ”orang” BIN yang ditanamkan ke Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir.

Pertanyaan besar pertama yang muncul saat itu: Mengapa BIN menyerahkan begitu saja Al-Faruk kepada CIA, padahal kejahatan yang dituduhkan kepadanya terjadi di Indonesia? Tak pernah ada jawaban. Tekanan politik dalam negeri kemudian memaksa kepolisian–yang sudah kalah langkah dari BIN–menginterogasi Al-Faruk di penjara Baghram, Afghanistan.

Hasilnya tetap tanda tanya. Dua perwira polisi berangkat ke Baghram, bertemankan figur Abdul Haris yang tak kurang misteriusnya. Hasil interogasi tak lebih berupa jawaban ”yes” dan no” atas 35 pertanyaan yang sebagian tampaknya ditujukan untuk menyeret Ba’asyir ke penjara. ”Kesaksian” Al-Faruk menjadi bahan dakwaan bagi Ba’asyir. Tapi, pengadilan gagal membuktikannya.

Al-Faruk tak pernah kembali ke Indonesia, meski istri dan anaknya tinggal Bogor. Pemerintah pernah meminta ia diadili di Indonesia, namun AS mengabaikan permintaan itu. Tiba-tiba muncul kabar pada November 2005 bahwa Al-Faruk sudah melarikan diri dari penjara Baghram pada Juli 2005.

Kita hanya bisa mendengar kisah itu secara samar-samar. Terlalu banyak selubung dalam cerita tentang Al-Faruk. Bahkan, menurut kantor berita AP, pemerintah Indonesia pun tak kurang jengkelnya dengan masalah ini, termasuk saat AS menunda kabar pelarian Al-Faruk hingga empat bulan.

Akal sehat kita pun bertanya-tanya, bagaimana sebuah penjara dengan pengamanan maksimum di Baghram dapat meloloskan ”tokoh teroris nomor 1 di Asia Tenggara”, orang yang disebut-sebut sebagai wakil langsung Usamah bin Ladin? Mengapa pula bertahun-tahun tak pernah ada persidangan untuk Al-Faruk?

Sutradara tampaknya sudah menutup kisah. Al-Faruk diberitakan tewas di tanah leluhurnya, Irak. Kita cuma bisa menelan ludah lalu menanti kisah-kisah misteri lainnya. Ya, karena kita tak pernah sepenuhnya berdaulat menulis cerita dan lebih suka disuapi kisah-kisah impor yang tak masuk akal.

Teroris Baru

Opini Majalah Tempo, 11 – 17 September 2006
TEROR bom akan datang pada bulan-bu­l­an berakhiran ”ber” ini? Bukan tan­pa alasan untuk mengkhawatir­kan­nya. Bom meremuk lantai parkir Bursa Efek Jakarta, mencabut nyawa se­puluh orang, melukai 90 orang, pada 13 September 2000. Pada malam Natal tahun itu juga sejumlah kota diamuk ledak­an bom, 16 orang tewas, hampir seratus cedera. Bom dengan korban terbesar di Indonesia meledak di Bali pada 12 Oktober 2002, merampas 202 jiwa dan melukai lebih dari 300 orang.
Pasti orang belum lupa, ledakan bom mobil bunuh diri di Kedutaan Australia di Jakarta, yang membunuh lima orang, terjadi pada 9 September 2004. Tahun 2005 hampir dianggap sepi bom kalau ledak­an besar tidak mampir lagi di Bali dan me­rebut 22 nyawa. Lagi-lagi kejadian itu pada bulan ”ber”, tepat­nya 1 Oktober.
Kelompok teroris mungkin punya alasan sendiri memilih bulan-bulan ini. Kenapa? Kita hanya bisa menduga. Mungkin karena pada 9 September 2001, kelompok Al-Qai­dah, dengan membajak dua pesawat terbang berbahan bakar pe­nuh, merontokkan menara kembar WTC di New York dan merebut 3.000 nyawa. Mungkin pagi celaka di jantung Amerika Serikat itu bagi komunitas tero­ris di segenap penjuru dunia menjadi semacam ”monumen” yang ha­rus ”diperingati” setiap tahun. Lima tahun tragedi 911 kem­bali melintas di kalender pekan lalu. Orang ramai se­akan menunggu yang buruk terjadi, dengan cemas, de­ngan ­takut.
Benar bahwa polisi terus bekerja mengusir rasa takut ini. Azahari, arsitek bom asal Malaysia yang diyakini ada di balik rangkaian ledakan selama ini, sudah ditewaskan pelor polisi dalam penyerbuan di Batu, Jawa Timur, November tahun lalu. Tapi sekondan utama Azahari, Noor Din M. Top, otak intelektual teror bom, belum juga dapat diciduk. Dari penyergapan polisi di Wonosobo, Jawa Tengah, pada April silam, lima bulan setelah Azahari tewas, diperoleh pengakuan bahwa Noor Din sudah berhasil membiakkan sel-sel baru, dengan pengikut muka-muka baru, yang mungkin lebih militan dan berbahaya.
Noor Din kabarnya masih berputar-putar di empat kota di Jawa Tengah. Percaya atau tidak, pola gerakannya mirip benar dengan patron besar terorisme, Usamah bin Ladin. Sejak Presiden Bush mengumandangkan perang melawan terorisme begitu menara WTC di New York roboh, seka­li­gus melakukan apa yang disebutnya strategi ”transformasi Timur Tengah”, yang terjadi malah sebaliknya: sel teroris bertumbuhan. Usamah memang tak pernah jelas hidup matinya, tapi orang keduanya, Ayman al-Zawahiri, ditengarai sudah mengembangkan sel-sel gerakan baru dari London sampai Lahore. Serangan Israel atas Hizbullah di Libanon ditaksir memper­cepat tumbuh suburnya anak-anak ran­ting kelompok bawah tanah yang sudah tak peduli siapa korban ”perang” yang dilancarkannya—argumen balik mereka: adakah bom Israel di Libanon bisa memilih korban tak bersalah?
Berbalas ”pantun” begini belum akan habis. Sama halnya dengan ”jihad” yang sudah jelas dilancarkan terhadap Amerika dan sekutunya. Tanpa perlu berdebat setuju atau tidak dengan definisi ”jihad” para pelaku itu, semangat melawan AS dan pendukungnya itu konon dipompa­kan dengan giat di Iran, Pakistan, Arab Saudi, sejumlah negara lain, dalam sel-sel tertutup yang terus merambat dan meluas, termasuk juga di negeri ini.
”Jihad” seolah membuat segalanya menjadi halal. De­ngan menempelkan stiker ”anti-Islam” pada Amerika, jaringan terorisme di negeri ini diyakini mendapatkan cukup amunisi untuk berkembang. Celakanya, negeri kita menye­diakan begitu banyak amunisi tambahan. Isu kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, rendahnya pendidikan, konflik etnis dan agama, merupakan bahan bakar yang membuat tokoh seperti Noor Din Top seakan menemukan ”rumah besar”-nya di sini. Ide yang ditawarkan tokoh ini ternyata laku dan disambut banyak anak muda. Bahkan seorang sipir penjara di Bali manut pada perintah Imam Samudra, tokoh pe­ledakan bom Bali, untuk menyiapkan komputer jinjing di balik terali penjara.
Tidak mudah meredam aksi teroris itu, walaupun bukan tanpa jalan. Perlu usaha bersama melawan upaya Noor Din dan sekutunya memperluas jaringan—yang kabarnya kini memiliki kitab manual yang detail. Para ulama yang rasional bisa ambil bagian besar. Konsep semacam member gets member dalam ilmu pemasaran itu bisa ditangkal de­ngan gerakan penyadaran jihad yang semestinya dalam konteks negara aman seperti Indonesia ini. Menyadarkan satu orang yang terbujuk teroris mungkin sama dengan mempersempit satu langkah gerakan berbahaya itu.
Tentu saja polisi perlu lebih rigad bekerja pada bulan-bulan ”ber”ini. Kerja sama dengan tokoh masyarakat sampai tingkat RT dan RW perlu digalang untuk membarikade meluasnya jaringan teroris. Sementara itu pemerintah harus mempercepat pekerjaan besar jangka panjangnya: memberantas kemiskinan dan kebodohan. Tanpa itu, rakyat belum akan bebas dari rasa cemas dan takut, pada bulan ”ber-ber” atau bulan lainnya.


Blog Stats

  • 791,644 hits
Mei 2017
S S R K J S M
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.