Archive for the 'Timur Tengah' Category

Kunjungan Syekh Qaradhawi

Ada baiknya kita memperkuat kepercayaan diri di pentas global. Harapan demi harapan telah datang kepada bangsa ini dalam berbagai isu dunia, sebutlah masalah Palestina, Irak, Myanmar, serta nuklir Iran dan Korea Utara.

Bagi banyak mata di dunia, Indonesia adalah contoh luar biasa masyarakat Islam yang mampu menerapkan demokrasi. Syekh Yusuf Qaradhawi, ulama berwibawa yang kini bermukim di Qatar, dalam kunjungan di Jakarta kemarin juga menunjukkan apresiasi atas hal ini.

Indonesia, baginya, adalah contoh bagi pelaksanaan prinsip demokrasi yang beraspek moralitas, kejujuran, dan keadilan. Tidak semua bisa melakukan itu. Kasus Irak, misalnya, kendati terdapat jargon penegakan demokrasi di dalamnya, situasi yang berkembang pada era pendudukan oleh AS dan sekutunya hingga kini justru kian jauh dari demokrasi.

Syekh Qaradhawi pun mengaku kagum karena bangsa Indonesia menghormati pluralisme, berhasil merealisasikan kemaslahatan umum, dan menghargai perbedaan tradisi. Ia berharap hal itu menjadi bingkai kokoh dalam upaya menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Dalam pernyataan seperti itulah kita melihat masih ada pelita dalam kehidupan sebagai bangsa. Ada banyak bencana menimpa negeri kita–dan kita dengan mudah bisa membaca kegundahan Presiden akibat masalah tersebut. Kalau kita tak cukup sabar dan tawakal, bisa-bisa kita terbenam ke dalam jurang keputusasaan.

Penghargaan yang kuat dari luar tentu bukan tanpa risiko. Waktu kita sangat sempit untuk membuktikan bahwa sanjungan yang bertubi-tubi itu layak kita miliki. Sederhana saja, kalau kita memang masyarakat Islam penerap demokrasi yang luar biasa, terbesar di muka bumi, lalu apa sumbangsih kita buat masyarakat dunia?

Irak masih carut-marut. Penindasan terus terjadi di Palestina. Hubungan Iran tegang dengan sebagian masyarakat internasional. Pertumbuhan Cina memicu ketidakseimbangan ekonomi. Uji nuklir Korut memperkeras pertarungan senjata di Asia. Lalu, di manakah posisi Indonesia dalam masalah-masalah itu?

Secara ekonomi kita belum jadi siapa-siapa di pentas itu. Tapi banyak hal lain, katakanlah geopolitik, yang membuat kita tetap punya nilai. Kita punya 200 juta lebih penduduk, sebagian besar adalah Muslim dan moderat, yang diharapkan menularkan hawa perdamaian ke seluruh dunia. Tak heran, kita kembali terpilih menjadi anggota Dewan Keamanan PBB pada tahun ini (suatu saat kita harus menjadi anggota tetap), melengkapi peran-peran kita di lembaga internasional lainnya.

Kita melihat sejumlah inisiatif pemerintah. Beberapa cukup menonjol, antara lain dalam isu Palestina, Irak, dan Korut. Namun, kita cukup prihatin bahwa berbagai inisiatif seakan berlalu bersama waktu. Kita, misalnya, cukup agresif dalam ide-ide terkait masalah agresi Israel terhadap Lebanon, tapi langkah kita–termasuk pengiriman pasukan–sangatlah lambat. Kita vokal dalam masalah Irak, tapi ide-ide yang kita sampaikan kepada Presiden AS, George Bush, lewat kuping kiri keluar kuping kanan.

Modal politik saja rupanya tidak cukup. Sekadar kemauan baik pun tak memadai. Kita tampaknya masih perlu belajar merealisasikan gagasan dalam situasi yang lebih konkret. Di Dewan Keamanan PBB kita punya peluang besar untuk melakukannya. Di arena diplomasi antarnegara pun masih banyak pintu terbuka. Jangan sampai harapan yang tinggi kepada kita jatuh dalam kenyataan yang buruk.

Republika, Rabu, 10 Januari 2007

Iklan

Prospek Perdamaian Palestina

Bagaimanakah prospek perdamaian di Timur Tengah, terutama di Palestina, pada tahun 2007 ini? Melihat apa yang terjadi sepanjang tahun 2006, perdamaian yang selama ini diidamkan tampaknya masih jauh, apalagi bila diharapkan bisa terjadi pada 2007.

Pada faktor internal, konflik yang berlangsung hingga kini antara kelompok Fatah dan Hamas sungguh sangat memprihatinkan. Antara kedua kelompok terdapat kesenjangan yang sangat lebar, baik menyangkut idiologi maupun strategi perjuangan.

Kelompok Fatah yang dipimpin Presiden Palestina Mahmud Abbas lebih beridiologi sekuler, urusan negara/pemerintahan harus dipisahkan dengan agama. Faksi ini pun lebih suka menempuh strategi kompromistis, bahwa untuk mendirikan sebuah negara Palestina merdeka harus dijalin kerja sama yang baik dengan pemerintah Israel. Hal inilah yang telah berlangsung puluhan tahun selama Fatah dan Palestina di bawah kepemimpinan almarhum Yassir Arafat dan kemudian Mahmud Abbas hingga Hammas memenangkan pemilihan umum.

Sedangkan kelompok Hammas berideologi agama/Islam. Strategi yang ditempuh pun, terutama dalam hal hubungannya dengan Israel, sangat tegas. Tidak ada kompromi dengan negara Yahudi itu. Faksi Hammas segera mendapatkan simpati dari warga Palestina justru lantaran idiologi dan strateginya ini. Apalagi selama Palestina di bawah Fatah perdamaian dan kesejahteraan tidak kunjung datang. Ini masih ditambah dengan isu-isu korupsi yang terus mewarnai sejarah perjalanan Fatah.

Perseteruan dua kelompok ini semakin tajam manakala Hammas memenangkan pemilihan umum dan Ismail Haniya terpilih menjadi perdana menteri. Hingga kini Haniya gagal membentuk pemerintahan nasional bersatu yang melibatkan semua unsur bangsa Palestina, terutama dari Fatah.

Perseteruan ini semakin parah ketika masyarakat Eropa dan Amerika Serikat membekukan bantuan yang semestinya diberikan kepada pemerintahan Palestina, yang berakibat pada krisis keuangan. Bahkan perseteruan ini kemudian berkembang menjadi konflik senjata yang terbuka antara Fatah dan Hamas yang hingga sekarang terus berlangsung.

Pada faktor eksternal tampaknya juga belum ada isyarat kuat dari dunia internasional yang serius mengusahakan perdamaian di Palestina. Sungguhlah sangat menyedihkan bahwa lebih dari setengah abad masyarakat internasional/Perserikatan Bangsa-bangsa membiarkan bangsa Palestina yang lemah menjadi bulan-bulanan tentara Israel.

Ketidakseriusan masyarakat internasional mengusahakan kemerdekaan dan kedamaian bagi bangsa dan negara Palestina barangkali bisa dipahami karena ada pihak yang memang menangguk keuntungan dari ketidakstabilan di sana. Harus diakui bahwa apa yang terjadi di Palestina merupakan akar segala konflik dan kekerasan di Timur Tengah. Padahal konflik dan kekerasan inilah yang antara lain menyebabkan harga minyak dunia meroket naik. Sejumlah negara pengekspor minyak, terutama negara-negara Teluk, tentu maraih keuntungan dari kenaikan harga minyak ini.

Di lain pihak, negara-negara industri/pembuat senjata, khususnya AS dan Eropa, tentu juga diuntungkan dengan konflik dan kekerasan yang terjadi di Timur Tengah. Ketidakstabilan di kawasan itu telah menyebabkan negara-negara di Timur Tengah berlomba saling mempersenjatai diri dengan berbagai persenjataan tercanggih yang dihasilkan manusia. Di sinilah kepentingan negara-negara pembuat persenjataan tersebut.

Dengan memahami faktor internal dan eksternal tadi tampaknya perdamaian di Palestina masih jauh. Bagi bangsa Indonesia yang mempunyai hubungan emosional dengan bangsa Palestina dan selalu berusaha membantu kemerdekaan bangsa tersebut sudah seharusnyalah memahami anatomi persoalan yang terjadi di Timur Tengah. Tanpa memahami akar persoalan kita khawatirkan semua usaha ke arah sana bisa sia-sia.

Republika, Senin, 08 Januari 2007

Amerika Bermain Api di Teluk Persia

– Amerika mengirim kapal-kapal perang baru, termasuk kapal induk, ke perairan Teluk Persia untuk menambah tekanan terhadap Iran dan Suriah. Hal itu dilakukan pada saat emosi masih tinggi di kawasan tersebut, menyusul eksekusi mati Saddam Hussein dengan cara digantung tepat pada saat umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha. Tampaknya pemerintahan Presiden George W Bush sama sekali tidak peduli pada emosi yang berkembang dan lebih mengutamakan kebijakannya yang suka campur tangan pada urusan negara lain. Iran diintimidasi karena melakukan pengayaan uranium, sementara Suriah sudah lama diincar untuk dihancurkan.

– Semakin jelas bahwa sikap Amerika yang memosisikan diri sebagai polisi dunia bukannya menenteramkan, sebaliknya meresahkan masyarakat internasional. Kapan saja dan di mana saja seolah-olah boleh bertindak semaunya tanpa ada negara lain atau lembaga internasional yang dapat menghalangi. Kawasan Timur Tengah paling diincar bukan saja karena kaya minyak, tetapi juga karena faktor kepentingan Israel. Selama Timur Tengah dapat dipecah belah, perjuangan bangsa Palestina untuk mendirikan negara merdeka hanya akan menjadi impian selama-lamanya. Apalagi Palestina sekarang pecah sendiri di dalam, juga gara-gara intervensi AS.

– Tetapi Iran dan Suriah bukan Irak. Washington dengan mudah menaklukkan Bagdad dan menghancurkan pemerintahan Saddam pada 2003 lalu karena rakyat Irak terpecah belah. Sebaliknya, rakyat Iran dan Suriah bersatu menghadapi ancaman yang berulangkali dilontarkan AS. Sekalipun rakyat Iran terpecah dalam kubu moderat dan konservatif (pendukung para mullah), mereka kompak dalam satu hal: melawan musuh bersama, AS. Begitu juga Suriah. Sejak dulu rakyatnya mendukung penuh kebijakan pemerintah yang anti-Amerika. Saat Perang Dingin, Suriah berada di kubu Uni Soviet. Secara historis mereka bermusuhan dengan Amerika sekalipun Soviet telah bubar.

Show of force armada kapal perang Amerika di perairan Teluk sangat disayangkan. Washington belum dapat “memadamkan api” yang disulutnya di Irak, namun sekarang sudah mencoba bermain api di dua negara tetangga Irak. Atau, Bush memang ingin mengalihkan perhatian dunia? Tentu tak semudah itu. Tiap hari bom meledak, nyawa manusia melayang, termasuk nyawa serdadu Amerika sendiri. Peliputan gencar media internasional membuat mata dunia takkan mengalihkan perhatian pada perkembangan di Irak. Melepaskan tanggung jawab sungguh tidak bermartabat. Bangsa Amerika tidak boleh cuci tangan, karena mereka dulu mendukung invasi ke Irak.

– Bukannya kita mendukung Iran meneruskan pengayaan uranium, yang secara teori memungkinkan negara para mullah itu membuat senjata nuklir. Namun ketika Iran diperlakukan tidak adil dan diskriminatif, nurani kita pun tergugah. Bukan pula kita senang melihat Iran-Suriah berperang melawan AS. Persoalannya memang harus ada yang berani melawan kesewenang-wenangan Bush dan menghentikan sikap hegemonik negara adidaya itu. Kalau tidak, negara mana pun berisiko dikuya-kuya AS. Peningkatan kekuatan US Navy di perairan Teluk mungkin hanya gertakan, tetapi mengingat kasus invasi ke Irak bisa saja Bush mewujudkan ancamannya.

– Kita mengharapkan ketegaran Iran dan Suriah, tidak seperti Libia yang tiba-tiba menjadi good boy setelah dikenai sanksi dan berbagai ancaman. Sayang, kedua negara tersebut sejauh ini berjalan sendiri-sendiri. Sudah tiba saatnya Teheran dan Damaskus beraliansi secara terang-terangan, menyingkirkan perbedaan sikap dan pandangan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka siap menghadapi invasi Amerika secara bersama pula. Ketika dua bangsa yang utuh bersatu dengan tekad penuh, rezim Bush pastilah akan berpikir dua kali untuk melakukan invasi. Sebaliknya mereka akan menjadi makanan empuk jika jalan sendiri-sendiri.

Suara Merdeka, Sabtu, 06 Januari 2007

Kondisi Eksplosif Ancam Dunia Arab

Dunia Arab diingatkan Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz terancam ledakan bahaya konflik, ibarat tong mesiu yang siap meledak. Peringatan itu disampaikan hari Sabtu 9 Desember di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, ketika membuka pertemuan puncak enam negara monarki Teluk kaya minyak yang bergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

Secara khusus Raja Abdullah menyebut konflik Palestina, Irak, dan Lebanon sangat berpotensi untuk menyeret dunia Arab ke dalam situasi eksplosif.

Pertemuan puncak GCC sendiri dilaksanakan dengan agenda utama antara lain ancaman perseteruan sektarian golongan mayoritas Syiah dengan kaum Sunni di Irak yang cenderung memburuk.

Para pemimpin GCC yang beranggotakan Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Oman mencemaskan kemungkinan luapan perseteruan sektarian di Irak menerjang kawasan.

GCC yang mayoritas penduduknya penganut Sunni mencemaskan peningkatan peran Syiah oleh manuver Iran dan Suriah. Kedua negara yang mayoritas penduduknya Syiah ingin meningkatkan peran golongan Syiah di Irak dan Lebanon melalui kaum Hezbollah.

Di atas keprihatinan terhadap luapan perseteruan sektarian di Irak, GCC mencemaskan tumpang tindih konflik Palestina, Irak, dan Lebanon yang dapat membahayakan kawasan Teluk dan Timur Tengah.

Keprihatinan bertambah karena dunia internasional terkesan hanya menjadi penonton atas konflik Palestina. Krisis Palestina dinilai Raja Arab Saudi bertambah rumit karena tidak hanya menghadapi masalah pendudukan Israel, tetapi juga tantangan perpecahan internal.

Perpecahan internal, terutama antara kelompok Hamas dan Al Fatah, dinilai sangat berbahaya karena menghalangi jalan bagi pembentukan pemerintahan persatuan nasional.

Kerumitan serupa sedang melanda Irak, yang terancam perang saudara antara golongan Syiah dan Sunni. Luapan konflik sektarian di Irak dikhawatirkan akan merembet ke negara-negara lain, termasuk ke kawasan Teluk yang mayoritas penduduknya Sunni.

Tidak kalah galaunya kondisi Lebanon, yang kembali terancam perang saudara. Padahal, negeri itu belum pulih dari trauma amukan perang saudara yang sangat ganas tahun 1975-1990.

Sudah pasti, tumpang tindih konflik Lebanon, Irak, dan Palestina tidak hanya menekan kawasan Timteng, tetapi juga ikut memengaruhi keamanan dunia. Maka seluruh dunia perlu merasa terpanggil untuk membantu menyelesaikan krisis Palestina, Irak, dan Lebanon.

Kompas, Selasa, 12 Desember 2006


Blog Stats

  • 803,119 hits
November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.