Archive for the 'Transportasi' Category

Menyelesaikan Kontroversi Tarif Tol

Pemerintah menunda kenaikan tarif tol hingga hari Selasa. Namun, kontroversi yang telanjur terjadi dikhawatirkan akan terus berlanjut.

Kontroversi yang melelahkan bukan hanya tidak menguntungkan, tetapi sebenarnya bisa dihindari andai saja dikomunikasikan lebih baik. Pada zaman otoriter dengan kekuasaan begitu absolut pun, keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus diputuskan dengan penuh pertimbangan dan hati-hati, apalagi pada zaman yang terbuka seperti sekarang ini.

Sikap pemerintah yang menyatakan siap menghadapi class action masyarakat memang menunjukkan ketegasan. Namun, di tengah suasana yang telanjur sarat dengan kekecewaan, sikap seperti itu lebih dirasakan sebagai sikap arogan dan mentang-mentang.

Kelompok masyarakat yang sadar akan hukum pasti akan tetap membawa persoalan ini ke pengadilan. Mereka sangat sadar tuntutan mereka kecil untuk bisa menang, tetapi mereka akan mencoba untuk menunjukkan perlawanan terhadap keputusan pemerintah.

Ketika persoalan ini maju ke ruang sidang, mau tidak mau perhatian kita tersita ke sana. Jangan lupa kita sedang hidup di zaman yang sudah berubah. Kita hidup di era multimedia yang segala sesuatunya serentak, seketika, dan kasatmata. Apalagi ketika itu ditayangkan melalui media elektronik, yang berdasarkan sifatnya membawa orang untuk ikut terlibat di dalamnya.

Padahal, seperti berulang kali disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kita membutuhkan suasana yang lebih kondusif, lebih tenang, agar kita bisa berkonsentrasi membangun kembali negeri ini. Ketika hal-hal yang sebenarnya tidak perlu menjadi kontroversi, tetapi kemudian berubah menjadi kontroversi hebat di tengah masyarakat, mau tidak mau media akan meliput peristiwa yang terjadi itu.

Sistem demokrasi yang kita pilih bukanlah sesuatu yang bisa begitu saja berjalan dan tanpa biaya. Kita harus mengisinya agar sistem bisa berjalan seperti seharusnya dan itu memakan waktu. Di sinilah lalu demokrasi menjadi mahal dan akan semakin mahal apabila kita gagal untuk melanjutkan dan melaksanakannya.

Salah satu yang suka tidak suka harus kita terima dari penerapan sistem demokrasi adalah hadirnya fungsi check and balance. Fungsi itu begitu kuat karena semua orang ikut mengawasi dan kemudian menuntut adanya transparansi dan akuntabilitas. Untuk itu, keputusan tidak bisa diambil begitu saja, tetapi harus dipertimbangkan secara matang dan disiapkan konsep sosialisasi dan komunikasinya. Bahkan, karena kita sedang hidup di era multimedia, komunikasi itu tidak lagi satu arah, tetapi dua arah dan harus interaktif.

Kondisi inilah yang alpa kita perhatikan. Bahkan antara keputusan untuk menerapkan sistem baru yang berakibat terhadap penyesuaian tarif tol dan pelaksanaannya nyaris dilakukan bersamaan. Pemerintah memang mencoba mengoreksi, tetapi “kerusakan sudah terjadi”. Ketidakpercayaan sudah timbul dan sekarang tentunya dibutuhkan kerja yang lebih sabar untuk mencegah jangan sampai terjadi “kerusakan” yang lebih besar.

Kompas, Senin, 03 September 2007

Iklan

Menjaga Sarana Umum

Pekan lalu ribuan warga di Jabotabek yang biasa menggunakan kereta api dipaksa menunggu tanpa kepastian karena terganggunya arus perjalanan. Penyebabnya adalah banyaknya fasilitas penunjang di sepanjang jalur lintasan kereta yang dicuri. Akibatnya sangat fatal karena sistem persinyalan terganggu dan itu sangat membahayakan bagi lalu lintas kereta api.

Kejadian seperti ini bukan baru terjadi. Kita bahkan boleh mengatakan hal itu sering terjadi sehingga menyengsarakan banyak orang yang membutuhkan alat transportasi tersebut untuk menopang aktivitas.

Pertanyaannya, siapa yang melakukan hal itu? Mengapa mereka sampai melakukan tindakan seperti itu? Tidakkah terpikirkan bahwa tindakan mereka merugikan banyak orang dan juga negara?

Salah satu kelemahan kita sebagai bangsa adalah penghormatan kepada fasilitas umum. Karena dianggap milik bersama, maka semuanya boleh diperlakukan sewenang-wenang. Termasuk untuk merusaknya. Tidak pernah kita mau berpikir dan bertindak sebaliknya. Karena ini fasilitas umum dan dipergunakan banyak orang, kita seharusnya ikut menjaganya agar semua orang bisa mendapatkan manfaat yang terbaik.

Lagi-lagi ini berkaitan dengan persoalan pendidikan. Persoalan pemberian pemahaman tentang apa hak dan kewajiban dari seorang warga negara. Bagaimana kita bertindak agar tidak sampai merugikan orang lain.

Semua ini bukan sesuatu yang bisa sekali jadi. Sekali diajarkan lalu orang bisa mengerti dan berubah perilakunya. Ini harus melalui proses yang berulang-ulang dan bahkan melalui contoh-contoh.

Kita semua pasti memimpikan kehidupan masyarakat yang tertata dengan baik. Kita iri melihat kehidupan di negeri orang, ketika seorang warga yang sedang membawa anjingnya jalan-jalan, kemudian sang anjing membuang kotoran, lalu sang pemilik dengan tangan yang dilengkapi sarung tangan plastik mengambil kotorannya untuk dibawa pulang dan dibuang di rumahnya.

Mengapa mereka mau melakukan itu? Karena mereka diajari untuk tidak menyusahkan orang lain. Ketika kotoran dibiarkan begitu saja, maka bukan hanya akan menciptakan aroma yang tidak sedap, tetapi juga mengotori lingkungan. Orang lain juga bisa menderita ketika kemudian menginjak kotoran tersebut.

Sengaja kita angkat ilustrasi yang sederhana itu untuk menghardik kesadaran kita bersama, itulah esensi kita hidup bersama. Setiap tindakan yang kita lakukan tidak boleh sampai mengganggu dan merugikan orang lain. Kita harus mau menenggang hak orang lain dan untuk itu kita harus setiap kali berpikir sebelum bertindak.

Tidak bosan-bosan kita mengingatkan, demokrasi jangan sekadar diartikan bebas untuk melakukan apa saja. Apalagi kemudian diartikan boleh tidak menaati peraturan dan bahkan kita jadi lemah untuk menegakkan peraturan. Dengan demokrasi kita bukan sekadar “bebas dari” (freedom from), tetapi yang tidak kalah penting “bebas untuk” (freedom for). Rasanya demokrasi bukan sekadar membuat kita bebas, tetapi kebebasan yang bisa memperbaiki kualitas kehidupan kita bersama.

Kompas, Rabu, 01 Agustus 2007

Ancaman Larangan Terbang ke Arab Saudi

Indonesia kembali mendapat ‘tamparan’ dari dunia penerbangan inernasional. Setelah Uni Eropa (UE) melarang maskapai penerbangan Indonesia terbang di udara Eropa, kemarin, Arab Saudi akan mengeluarkan larangan serupa. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Perhubungan, sudah menerima surat resmi dari otoritas penerbangan Kerajaan Arab Saudi.

Larangan terbang ke Arab Saudi memang tidak disebutkan secara eksplisit. Namun, dalam surat itu disebutkan otoritas penerbangan Arab Saudi akan mengikuti jejak UE, yang melarang sejumlah maskapai Indonesia masuk Eropa. Memang, Arab Saudi memberi kesempatan bagi pemerintah Indonesia untuk menyampaikan penjelasan. Namun, Arab Saudi mungkin tidak sepantasnya memberlakukan larangan terhadap Indonesia. Bukan hanya karena hubungan kedua negara sangat kuat, tapi juga penerbangan maskapai Indonesia ke Arab Saudi, selama ini bisa dikata tak pernah bermasalah.

Bertahun-tahun maskapai Indonesia melayani penerbangan ke Arab Saudi, baik penerbangan reguler maupun penerbangan jamaah haji, nyaris tak terdengar kabar terkait faktor keamanan. Artinya, setiap pesawat yang melayani rute penerbangan ke Arab Saudi sudah memenuhi standar keamanan internasional. Ini mestinya menjadi catatan tersendiri bagi otoritas penerbangan Arab Saudi, dan tak perlu mengikuti jejak UE.

Kita tentu berharap seperti itu. Tapi, apapun, pemerintah sudah selayaknya pula segera merespons kemungkinan larangan terbang tersebut, tentu dengan sikap positif. Pasalnya, jika larangan itu benar diberlakukan, maka bukan hanya pariwisata Indonesia yang dirugikan. Lebih dari itu, ratusan ribu jamaah haji bakal ikut menanggung akibatnya. Juga masyarakat yang ingin melakukan ibadah umroh atau terkait ketenagakerjaan.

Ruang yang diberikan untuk menjelaskan kondisi maskapai penerbangan Indonesia perlu dimanfaatkan secepatnya dan sebaik-baiknya.Bila perlu diperkuat dengan pendekatan secara diplomatis. Ini tentu sama sekali tak terkait dengan politik atau upaya-upaya mendongkrak popularitas pemerintahan. Kepentingan umat harus penjadi prioritas.

Respons dan penjelasan terhadap ancaman larangan Arab Saudi itu sudah selayaknya pula tak hanya dilakukan di atas kertas. Ancaman itu mestinya menyadarkan kita bahwa pembenahan dan perbaikan yang nyata sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Kita tak bisa lagi mengelak dari tuntutan berbagai standar internasional. Keberhasilan meningkatkan standar keselamatan penerbangan maskapai kita itulah yang menjadi modal penting untuk mendapat pengakuan internasional.

Buat seketat mungkin aturan terkait layak tidaknya sebuah maskapai dengan armadanya beroperasi. Terapkan aturan itu secara konsisten dan konsekuen, tanpa pandang bulu. Jangan biarkan pungli, suap, sogok atau apapun sejenisnya, kembali merusak. Hanya pembenahan serta perbaikan nyata itulah yang membuat kita tak merasa pesimistis.

Republika, Selasa, 17 Juli 2007


Blog Stats

  • 803,645 hits
November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.